Surabaya, mediaperkebunan.id – Pemerintah terus mendorong terwujudnya swasembada pangan nasional. Namun, sektor pertanian masih menghadapi tantangan besar dari serangan hama dan penyakit tanaman yang secara global bisa menyebabkan kehilangan hingga 40% hasil panen setiap tahun.
Menjawab tantangan ini, Bayer Indonesia melalui Bayer Crop Science Surabaya Site berkomitmen menghadirkan solusi perlindungan tanaman yang efektif, aman, dan berkelanjutan. Dengan tujuan untuk mendukung produktivitas pertanian Indonesia sekaligus memperkuat posisi negara dalam rantai pasok pangan global.
Sri Libri Kusnianti selaku Corporate Communication Manager Bayer Indonesia menjelaskan bahwa fasilitas Bayer di Surabaya memegang peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.
“Kami selalu berusaha memaksimalkan potensi yang ada di mana pun Bayer berada. Tujuannya bukan hanya memberikan manfaat bagi Bayer secara global, tetapi juga bagi petani dan pertanian Indonesia. Hal ini sejalan dengan program pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan yang paripurna agar kita tak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga bisa bersaing di pasar internasional,” jelas Sri Libri.
Beroperasi di bawah Bayer sejak tahun 2002, Bayer Crop Science Surabaya Site menjadi pusat produksi pestisida unggulan untuk mendukung sektor pertanian nasional.
“Pabrik kami memang tidak terlalu luas, hanya sekitar 1,5 hektar, tapi bisa dibilang kecil-kecil cabai rawit. Dari area ini, kami mampu memproduksi hingga 12 juta kilogram atau liter produk pestisida setiap tahun, dengan lebih dari 74 tipe formulasi seperti soluble concentrate, soluble liquid, wettable powder, dan lainnya,” ungkap Muhammad Zoel Akbar, Bayer Crop Science Site Lead Indonesia and Malaysia.
Dengan dukungan 206 tenaga kerja lokal, pabrik ini memproduksi berbagai jenis fungisida dan insektisida seperti Antracol, Vayego, Nativo, dan Ambition yang sudah dikenal luas oleh petani. Sekitar 60% hasil produksi digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sementara 40% lainnya diekspor ke lebih dari 10 negara di kawasan ASEAN, Asia Selatan, dan Australia.
Akbar menegaskan bahwa seluruh proses produksi di Bayer Crop Science Surabaya Site dijalankan dengan mengutamakan kualitas, keselamatan, dan keberlanjutan.
“Kami selalu memastikan semua aturan dipenuhi dan mengikuti standar tertinggi yang berlaku. Fasilitas Surabaya sudah memenuhi standar global, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Semua kami jalankan dengan prinsip fit for demand dan fit for purpose,” ujarnya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian utama Bayer adalah penerapan sistem manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang sangat ketat. Pabrik ini telah meraih sertifikasi Golden Flag yang merupakan peringkat tertinggi dalam penerapan K3 di industri manufaktur.
Dalam kunjungan media ke Bayer Crop Science Surabaya Site, terlihat bagaimana Bayer benar-benar menerapkan prinsip K3 tersebut secara konsisten baik dalam pengelolaan proses maupun perilaku kerja di lapangan.
“Kalau di industri lain biasanya yang dijaga adalah agar produk tidak terkontaminasi manusia, maka di industri pestisida justru sebaliknya. Kami memastikan manusianya dan lingkunganlah yang harus dilindungi dari kemungkinan kontaminasi produk,” jelas Akbar.
Selain fokus pada kualitas dan keselamatan, pabrik ini juga menerapkan prinsip manufacturing excellence dengan standar ISO 9001 dan ISO 14001. Serta telah meraih sertifikat PROPER Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas pengelolaan limbah dan efisiensi energi yang bertanggung jawab. Laboratorium Quality Control di pabrik ini juga sudah terakreditasi oleh KAN dan proses produksinya didukung oleh sistem modern seperti Process & Plant Safety, Lean Manufacturing, serta Warehouse Management System untuk menjaga konsistensi produk.
Dari sisi energi, Bayer Crop Science Surabaya Site telah mengantongi sertifikat Renewable Energy Certificate (REC) dari PLN yang menunjukkan bahwa sebagian pasokan listriknya berasal dari energi panas bumi (geothermal). Ke depan, Bayer menargetkan 100% energi terbarukan pada 2050, serta pengurangan 12,9% emisi gas buang pada 2030. Langkah nyata menuju target tersebut akan dimulai dengan pemasangan panel surya, sistem pemulihan air limbah, dan penerapan teknologi hemat air dengan sistem pengukuran yang presisi.
Secara ekonomi, tren ekspor produk perlindungan tanaman dari pabrik Surabaya juga terus meningkat sekitar 5–8% setiap tahun dan diproyeksikan akan melampaui 55% pada 2026. Untuk mengimbangi permintaan tersebut, Bayer berencana meningkatkan kapasitas produksi hingga 130% pada 2027.
“Langkah ini menunjukkan kepercayaan kami terhadap potensi Indonesia sebagai pusat produksi dan inovasi berstandar global. Kami ingin memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas, keselamatan, maupun keberlanjutan,” ujar Akbar
Selain berkontribusi pada sektor pertanian, Bayer Crop Science Surabaya Site juga aktif memberikan dampak sosial positif. Melalui berbagai program volunteering, Bayer mendukung 350 warga panti asuhan untuk belajar bercocok tanam secara mandiri lewat sistem hidroponik. Tak hanya itu, Bayer juga menjalankan program vokasional bagi siswa SMK dan universitas di Surabaya yang memberikan kesempatan belajar langsung tentang dunia manufaktur dan sains.Dengan semangat Health for All, Hunger for None, Bayer terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis petani dan pemerintah dalam membangun pertanian yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan.

