Jakarta, mediaperkebunan.id – Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045 (Pala, Lada, Cengkeh, Kayu Manis, Vanili, dan Temulawak) sebagai penjabaran amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 untuk meningkatkan hilirisasi sumber daya alam unggulan. Peluncuran Peta Jalan ini menegaskan kembali jati diri Indonesia sebagai Negara Rempah Sejati dan memulihkan posisinya sebagai pemain utama dalam rantai pasok global .
Peta jalan ini menetapkan arah strategis pengembangan industri rempah melalui penguatan produksi, pemasaran dalam dan luar negeri, serta pembangunan ekosistem pemampu berbasis riset, inovasi, dan tata kelola yang inklusif.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa peluncuran peta jalan ini merupakan momentum penting bagi masa depan perdagangan rempah Indonesia, “Peluncuran Peta Jalan Hilirisasi Rempah harus menjadi bagian dari perjalanan perdagangan kita. Sesungguhnya peta jalan perdagangan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, fondasi yang dulu menjadikan negara-negara Eropa berjaya,” ujarnya. Menteri Rachmat Pambudy menekankan bahwa kebangkitan rempah harus berbasis nilai tambah.
“Indonesia pernah menjadi Mother of Spices, namun kejayaan itu dulu justru menguntungkan negara lain. Kini kita menyiapkan cara baru, bukan hanya menjual rempah, tetapi menjual ekosistem yang memperkuat nilai tambahnya,” jelas Menteri Rachmat Pambudy. Penguatan industri kuliner Indonesia yang telah dilakukan oleh Kementerian Perdagangan dapat menjadi pintu masuk hilirisasi, sebagaimana dilakukan Vietnam, Thailand, dan Jepang melalui ekspansi jejaring restoran global. Nilai tambah inilah yang mendorong rempah Indonesia kembali menembus pasar dunia.
Penyusunan peta jalan dilakukan melalui kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas, kementerian/lembaga terkait, asosiasi industri, pemerhati rempah, petani, pelaku usaha, akademisi, dan mitra pembangunan. “Kolaborasi petani, pedagang, dan industri menjadi kunci optimalisasi potensi rempah. Berbagai inisiatif hilirisasi yang sudah berjalan akan disatukan dalam peta jalan ini sebagai dasar orkestrasi langkah bersama,” ujar Deputi Bidang Pangan, SDA, dan Lingkungan Hidup Leonardo A. A. Teguh Sambodo selaku Ketua Tim Penyusun.
Peluncuran Peta Jalan ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen utama rempah dunia, tetapi juga mengembalikan rempah sebagai kekuatan budaya, ekonomi, dan diplomasi bangsa dalam rangka mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyambut baik peluncuran Peta Jalan Hilirisasi Rempah 2025–2045 yang diinisiasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas). Langkah strategis ini dinilai krusial untuk mengembalikan kejayaan rempah Nusantara dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Mendag Busan juga menegaskan, Kemendag yang berada di sektor hilir memiliki peran dan tugas untuk memasarkan. Namun, tantangan utama muncul ketika produk yang dipasarkan masih berupa bahan mentah atau komoditas tanpa nilai tambah.
“Saya merasa senang sekali ada program hilirisasi rempah karena sebenarnya ini juga membantu kita untuk pasarkan. Kita ingin rempah kita maju terus. Kementerian Perdagangan itu ada di hilir, tugasnya memasarkan. Tapi kalau yang dipasarkan masih barang mentah, ya susah kita,” ungkap Mendag Busan.
Mendag Busan juga menyoroti pentingnya perubahan strategi dari keunggulan komparatif menuju keunggulan kompetitif. Menurutnya, jika hanya mengandalkan keunggulan komparatif yang mengandalkan hasil rempah mentah, Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan negara produsen rempah utama seperti India dan Tiongkok.
“Jika keunggulan kita hanya komparatif, kita tidak bisa mengalahkan India dan Tiongkok. Kalau kita punya keunggulan kompetitif pun, kita masih bersaing ketat dengan Tiongkok,” ungkapnya. Untuk itu, hilirisasi rempah menjadi basis (resource based) untuk menciptakan produk bernilai tambah, yang pada akhirnya memberikan keunggulan kompetitif yang dibutuhkan untuk menembus pasar internasional.
“Jadi kalau ekspor, resource based-nya juga harus dipikirkan. Resource based-nya adalah hilirisasi ini. Jadi kalau kita sudah hilirisasi, berarti kita mempunyai keunggulan kompetitif,” ungkapnya. Mendag Busan menjelaskan, Kemendag melakukan sejumlah langkah strategis untuk mendorong perdagangan rempah ke pasar global, di antaranya dengan membuka akses pasar ekspor melalui berbagai perjanjian dagang. Sejumlah perjanjian perdagangan yang telah rampung, yakni Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (Indonesia-EU CEPA), Indonesia-Canada CEPA, Indonesia-Peru CEPA, Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA), dan Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA).
Selanjutnya, melalui Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) yang diinisiasi Kementerian Perdagangan. Program ini memfasilitasi pelaku UMKM untuk ekspor melalui 46 perwakilan dagang RI di 33 negara.
Kemendag juga turut mengembangkan program Desa BISA Ekspor yang merupakan sinergi antara pemerintah dan pihak swasta. Tujuannya, untuk memperkuat ekosistem ekspor desa yang berkelanjutan dan menjadikan desa sebagai motor penggerak ekspor nasional.
Selain itu, Kemendag bersinergi dengan lima kementerian dan lembaga memiliki program Rasa Rempah Indonesia (S’RASA). Program S’RASA mempromosikan kuliner Indonesia melalui restoran Indonesia di luar negeri. Program tersebut turut mendorong peningkatan ekspor rempah dan bumbu dari Indonesia.

