Jakarta, Mediaperkebunn.id – Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menyampaikan pentingnya sinergi antara perencanaan dan implementasi dalam mempercepat pengembangan sektor kakao di Indonesia. “Kakao dan kopi bukan sekadar komoditas pertanian. Keduanya berkaitan erat dengan kesejahteraan petani, pembangunan wilayah, serta ketahanan ekonomi nasional jangka panjang,” urai Wamen Febrian pada Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Kakao di Gedung Bappenas, Jakarta.
Rapat koordinasi ini merupakan tindak lanjut Kick-Off Meeting Satuan Tugas Perencanaan dan Percepatan Pengembangan Komoditas Kakao dan Kopi pada November 2025. Pembahasan diawali oleh pentingnya pembentukan Satuan Tugas, untuk mendukung penekanan impor dan pengembangan industri dalam upaya hilirisasi kakao.
Pengembangan kakao adalah tanggung jawab lintas sektor. Koordinasi yang kuat antara pemerintah, BUMN, lembaga riset, dan mitra industri sangat diperlukan untuk menghindari ego sektoral yang menghambat kemajuan. Di sinilah peran Satuan Tugas Percepatan Pengembangan Kakao dalam mengoordinasikan penyelenggaraan program.
Forum ini juga membahas rencana, model baru, dan strategi yang akan diterapkan pada daerah pilot project. Pengembangan industri kakao ini dimulai di tiga daerah yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur. Pilot project ini diharapkan dapat menjadi model praktik baik yang dapat direplikasi ke depannya.
Dalam pengembangan kakao, diperlukan konsistensi dalam implementasinya, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, penerapan sistem poliklonal dalam peremajaan dan perluasan tanaman kakao, hingga penerapan Good Agricultural Practices dan Good Handling Practices.
Diskusi turut menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat, terutama petani, dalam mendukung pelaksanaan program. Pelatihan dan sosialisasi yang memajukan masyarakat menjadi elemen dasar dalam internalisasi program. Langkah ini juga dinilai penting oleh mitra strategis, melihat pengalaman dalam pengembangan industri kakao sebelumnya yang memerlukan komitmen nyata masyarakat.
“Saya optimis dengan adanya koordinasi yang erat dan komitmen bersama, kakao bisa menjadi komoditas strategis yang meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat perekonomian industri, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional,” tutup Wamen Febrian.

