Subang, mediaperkebunan.id – Petani tebu di Kabupaten Subang, Jabar, mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Presiden Prabowo yang melalui Kementerian Pertanian sudah bekerja nyata membuat program bongkar ratoon. Hal ini disampaikan pada kegiatan tanam perdana bongkar ratoon di Kelompok Tani Bungur Tani, Desa Pasir Bungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jabar.
Kasbari, tokoh petani mengucapkan terimakasih atas bantuan benih, pupuk, bimbingan teknis baik oleh Ditjenbun, Dinas Perkebunan Jabar, Dinas Pertanian Subang dan PT PG Rajawali II yang membuat petani tebu di Subang semakin maju. Kedepan semuanya diminta terus membimbing.
Trisno, Kepala Desa Pasir Muncang dan Ketua Poktan Cinta Manis, menyatakan Subang sudah berkali-kali menerima bantuan bongkar ratoon, membuat ekonomi masyarakat meningkat dan banyak petani tebu yang sukses.
Tri, Ketua Poktan Tebu Jaya Tirta menyatakan komponen benih merupakan biaya terbesar ketika melakukan bongkar ratoon dan bantuan benih ini membantu meringankan beban petani. Petani sangat bersemangat menjadi ujung tombak pencapaian swasembada gula nasional.
Selain bertermakasih petani juga minta supaya harga beli gula yang sudah diproduksi PG naik. Kalau harga gula naik maka harga tebu yang dibeli PG juga naik. Petani juga minta gangguan yang terjadi sekarang seperti rembesan gula rafinasi ke pasar membuat gula yang diproduksi PG tidak lalu, dan bebasnya impor etanol yang membuat tetes PG tidak laku, kedepan tidak terjadi lagi.

“Jangan sampai kami sudah berjuang supaya protas dan rendemen naik, tetapi ketika sudah jadi gula malah sulit terjual. Sesudah membantu di kebun pemerintah juga harus membantu melindungi petani ketika sudah panen,” kata Heru Tri Widarto, Sekretaris Ditjen Perkebunan menyatakan sesuai arahan Menteri Pertanian Amran Sulaiman bahwa produksi gula nasional tahun 2027 harus swasembada gula konsumsi dengan produksi 2,9 juta ton.
Produksi harus dicapai dan akan menjadi produksi gula tertinggi sejak tahun 1930 ketika Indonesia menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia, berbeda dengan saat ini yang jadi importir terbesar. Bongkar ratoon merupakan komitmen kuat Presiden Prabowo supaya Indonesia mencapai swasembada gula.
Program ini diharapkan meningkatkan protas tebu dari rata-rata 73 ton/ha menjadi 100 ton/ha dan rendemen meningkat dari 7,3 ke 8 dan terus naik. Kondisi di lapangan saat ini banyak yang masuk ratoon 15 bahkan ada yang 25 sehingga produksi merosot.
Sesuai arahan Menteri Pertanian Amran Sulaiman bahwa program tidak boleh dalam luasan kecil, tahun 2025 bongkar ratoon seluruh Indonesia 100.453 ha. Jawa Barat tahun ini target 4.000 ha dan Kabupaten Subang 1.000 ha. Melihat proses yang sedang berjalan Jabar bisa mencapai target sehingga tahun depan rencana akan ditambah jadi 10.000 ha.
“Selama saya menjadi pegawai Ditjenbun belum pernah ada program sebesar ini. Petani harus memanfaatkan perhatian besar Presiden Prabowo ini dengan ikut sebagai CPCL. Tahun 2026 harus sudah dipersiapkan dari sekarang,” kata Heru.
Petani harus menjalin kemitraan yang harmonis dengan PT PG Rajawali 2 , tanpa ini swasembada gula tidak mungkin tercapai. Dalam bongkar ratoon di Subang pemerintah memberi bantuan biaya olah tanah Rp4 juta/ha dan benih Rp10 juta/ha, total Rp14 juta. Satu petani mendapat bantuan untuk 5 ha. Total biaya bongkar ratoon mencapai Rp35 juta/ha dan hampir setengahnya sudah dibantu pemerintah.
Tanah untuk menanam tebu bisa tanah milik sendiri, tanah sewa, pinjam pakai dan lain-lain. Kelembagaan petani bisa poktan, gapoktan, koperasi, lmdh, kelompok petani hutan, asosiasi , bisa ikut program ini. Pemerintah juga mengalokasikan 93.106 ton pupuk ZA subsidi untuk petani tebu. Petani tebu juga bisa mengajukan KUR Rp500 juta berulang kali.
“Luar biasa sekali perhatian Presiden Prabowo dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada petani tebu,” katanya.

Adang Suhendar, Direktur Operasi PT PG Rajawali II menyatakan terimasih pada pemerintah yang sudah memberi banyak bantuan. Tahun ini protas tebu di Jabar naik 20% , kedepan diharapkan bisa terus naik sampai 100 ton tebu/ha. PT PG Rajawali II sebagai offtaker seluruh produksi tebu petani Jabar, sudah membuat 100 ha demplot yang tersebar di Subang, PG Jatitujuh, PG Tersana Baru dan PG Sindang Laut, dengan target protas 150 ton tebu/ha. Efisiensi usaha tani ditingkatkan sehingga pendapatan petani tebu meningkat.
Adang yakin Jabar masih punya potensi perluasan yaitu lahan PTPN I 4.000 ha, Perum Perhutani 5000 ha. Kalau semua bisa ditanam tebu maka PG Subang bisa berdiri. Produksi gula PT PG Rajawali II 80.000-85.000 ton/tahun sedang kebutuhan Jabar 400.000-450.000 ton/tahun. PT PG Rajawali II berkontribusi 22% dari kebutuhan Jabar, sisanya dipenuhi PG dari Lampung dan Jatim.
Nandang Sudrajat, Tenaga Ahli Menteri Pertanian bidang Tata Kelola Pemerintahan menyatakan bongkar ratoon ini diharapkan membuat petani tebu Subang beralih dari cara pertanian tradisional ke modern dengan penggunana teknologi. Protas dari 60-70 ton bisa naik jadi 100 ton kemudian 120 ton seperti yang dminta Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Rendemen dari 6% naik jadi 8% kemudian 12%. Tahun 2025 Mentan sudah menetapkan tidak impor beras, 2026 tidak impor jagung dan 2027 tidak impor gula.
Asep Nuroni, Sekda Subang menyatakan bongkar ratoon merupakan kerja nyata pemerintah pusat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Subang siap menjadi kabupaten yang ikut mendukung tercapainya swasembada gula.

