Semarang, mediaperkebunan.id – Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Ir. Baginda Siagian, M.Si, memberikan sambutan dalam acara Bina Mental, Fisik, Disiplin, dan Kenal Kebun (Bintalfisdisbun) AKPY Tahun Ajaran 2025/2026 pada hari Selasa (16/09). Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam meningkatkan produktivitas kelapa sawit rakyat di masa mendatang.
“Selamat, Anda sudah berada di tangan yang benar. AKPY menjadi salah satu lembaga pendidikan terbaik untuk kelapa sawit, dan ini menjadi modal besar bagi adik-adik untuk bisa bekerja di mana pun setelah lulus,” ujar Baginda Siagian.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar mahasiswa AKPY merupakan anak-anak petani sawit. Karena itu, ia mendorong agar para lulusan tidak ragu untuk kembali ke kebun keluarga setelah menyelesaikan pendidikan.
“Jangan kecil hati jika tidak diterima di perusahaan. Pulanglah ke kampung masing-masing dengan ilmu yang sudah diperoleh untuk memajukan perkebunan rakyat. Kita masih sangat membutuhkan SDM berkualitas untuk membangun perkebunan kelapa sawit rakyat,” tegasnya.
Menurutnya, dari total 16,8 juta hektare kelapa sawit nasional, sekitar 42–43 persen merupakan perkebunan rakyat. Namun, produktivitas sawit rakyat saat ini masih relatif rendah, yakni 3,3–3,5 ton per hektar CPO per tahun, sementara perusahaan swasta maupun negara sudah mencapai rata-rata 3,8–4 ton per hektar. Padahal, potensi sebenarnya bisa mencapai 5–6 ton per hektar per tahun.
“Teman-temanlah yang akan menjadi pahlawan di situ. Meskipun hanya mengelola 2–3 hektare, jika mampu menjadi contoh bagi yang lain, itu akan menjadi hal yang baik bagi perkebunan sawit rakyat. Kehadiran adik-adik di lapangan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas melalui pemeliharaan yang lebih baik,” jelasnya.
Baginda juga mengingatkan bahwa pencapaian tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, pendidikan di perguruan tinggi seperti AKPY diarahkan agar mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga keterampilan praktis di lapangan.
“Dalam satu tahun belajar di AKPY, teman-teman tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga langsung praktik di lapangan. Dengan modal teknologi dan ilmu pengetahuan, itu yang akan menjadi bekal utama ketika kembali ke masyarakat maupun ke industri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jumlah mahasiswa yang berhasil diterima di AKPY menunjukkan kualitas seleksi yang ketat. “Total ada 4.000 mahasiswa yang didanai BPDP, dari 28.000 pendaftar. Artinya, saudara-saudara sebenarnya sudah unggul karena mampu bersaing dengan 7–10 orang untuk bisa duduk di sini. Satu atau dua tahun memang tidak lama, tapi itu menjadi bekal berharga yang kami titipkan kepada adik-adik,” pungkasnya.

