23 February, 2016

Besar pasak daripada tiang begitulah yang terjadi pada komoditas kopi tahun 2020 jika Indonesia tidak segera meningkatkan produksi kopi. Mengapa demikian?

Harus diakui bahwa Indonesia masih menjadi produsen kopi nomor tiga didunia dengan total produksi sebesar 685 ribu ton (angka sementara Kementerian Pertanian). Bahkan produsksi kopi asal Indonesia banyak digemari oleh masyarakat baik dari dalam dan luar negeri.

Kopi asal Indonesia banyak digemari masyarakat karena memiliki citarasa yang khas jika dibandingkan dengan produsen kopi negara lain. Hal ini karena ditanam di areal yang dilewati oleh garis khatulistiwa sehingga tercipta aroma dan kopi yang khas.

Lebih dari itu, setiap kopi yang berasal dari Indonesia memiliki cita rasa yang berbeda-beda dari setiap daerahnya. Maka tidak heran jika Indonesia memiliki kopi specialty yang berbagai macam.

“Bahkan sebenarnya café-café yang memiliki brand (merek) dari luar negeri yang berdiri di Indonesia berasal dari biji kopi Indonesia,” jelas Pujiyanto, peneliti asal Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) kepada perkebunannews.com.

Selain itu, Pujiyanto menjabarkan, trend (pola hidup) mengonsumsi kopi didalam negeri juga terus meningkat. Hal ini karena ekonomi dalam negeri terus meningkat. Terbukti, jika dahulu yang mengonsumsi kopi adalah orang tua yang rata-rata memakai sarung (cukup tua), tapi kini yang mengosumsi kopi adalah anak muda dan orang tua. Hal tersebut dapat dilihat dari merebaknya café-café yang menyediakan menu minuman kopi dan rata-rata pembelinya adalah anak muda.

Melihat fenomena tersebut memang cukup mengembirakan, tapi juga menyedihkan jika tidak disikapi dengan baik. Artinya, jika konsumsi kopi terus meningkat maka akan menyebabkan naiknya harga kopi. Tapi disisi lain, hal ini juga harus diwaspadai, karena jika konsumsi terus meningkat dengan tajam tapi tidak diiringi dengan dengan peningkatan produksi maka Indonesia bukan lagi sebagai negara produsen, tapi akan menjadi negara konsumen terbesar dengan bahan baku impor.

Terbukti, jika melihat angka Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) bahwa ekspor kopi Indonesia terus menurun, sebab di tahun 2013 ekspor kopi mencapai 532 ribu ton, sedangkan di tahun 2014 menurun menjadi 300 ribu ton.

“Artinya dengan menurunnya ekspor kopi sebagai bukti bahwa konsumsi didalam negeri meningkat,” ungkap Pujiyanto.

Lebih lanjut, Pujiyanto menyarankan, tingginya permintaan kopi maka peningkatan produksi tidak bisa dilakukan hanya dengan intensifikasi, ataupun replanting. Tapi juga harus didukung dengan penambahan luas areal tanaman. “Hanya dengan itu maka akan terjadi tidak hanya peningkatan produktivitas tapi juga peningkatan produksi dalam jangka waktu 3–4 tahun kedepan,” pungkas Pujiyanto. YIN

Baca juga :Kopi Menurunkan Kadar Asam Urat

(Visited 330 times, 1 visits today)