9 September, 2020

Jakarta, Media Perkebunan.id

ASPEKPIR (Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR) Indonesia mendukung kebijakan biodiesel karena untuk kepentingan dalam negeri, juga penyerapan CPO yang over suply. Tetapi program ini bisa berjalan karena ada pungutan ekspor CPO dan produk turunan, dan untuk mendukung keberlanjutannya pemerintah seperti dinyatakan Menko Perekonomian akan menaikan pungutan USD5 tiap kenaikan harga CPO USD25/ton.

“Selama ini sektor hulu yang membiayai biodiesel. Rencana kenaikan pungutan ekspor harus dikaji kembali sebab kalau terus naik pasti akan berpengaruh juga terhadap petani. Ekspor CPO dengan adanya pungutan ini akan dikurangi dulu harganya untuk bayar pungutan. Kalau pungutan naik terus maka harga penjualan TBS ke PKS akan berpengaruh,” kata Setiyono, Ketua Umum ASPEKPIR Indonesia.

Program biodiesel memang selama ini ikut menjaga harga TBS petani, tetapi bisa jalan karena ada dukungan dari pungutan juga. Kalau pungutan terus dinaikkan maka sektor hulu terus yang diminta menanggung.

“Biodiesel digunakan oleh seluruh rakyat Indonesia bukan petani kelapa sawit saja. Banyak pihak yang diuntungkan seperti pemerintah dan Pertamina karena ketahanan energi terjaga, impor solar turun. Perusahaan biodiesel jelas untung. Lingkungan juga lebih terjaga. Jadi untuk menjaga kelangsungannya jangan kami terus yang harus menanggung. Pemerintah, Pertamina, perusahaan biodiesel harus mau menanggung juga. Jangan terus menaikkan pungutan sebab artinya hulu yang terus menerus membiayai,” kata Setiyono lagi.

Pungutan yang naik terus pasti akan berpengaruh pada petani. “Jangan sampai petani sawit akhirnya bernasib sama dengan petani karet. Sudah lama mereka mengalami penurunan harga dan sampai sekarang belum ada pertolongan . Kalau pungutan naik terus kapan petani sejahtera,” katanya.

Naiknya harga CPO yang diikuti dengan naiknya harga TBS saat ini, Setiyono yakin bukan karena oleh faktor penyerapan oleh biodiesel saja. Bisa saja karena panen rape seed dan kedelai di Eropa tidak terlalu bagus. Hal yang pasti sekarang sedang trek sehingga produksi TBS turun. Banyaknya peremajaan juga ikut berpengaruh.

“Dari dulu saya sudah sering bilang kalau mau harga TBS naik maka peremajaan harus diperbanyak. Dengan peremajaan otomatis produksi TBS turun. Faktor lainnya adalah permintaan dari negara tujuan ekspor yang sudah mulai bebas dari pandemi Covid-19 naik,” katanya.

ASPEKPIR tidak menolak rencana kenaikan pungutan ekspor tetapi minta dikaji kembali. Petani jangan terlalu banyak dibebani untuk mendukung biodiesel. Siapapun yang mendapat keuntungan dari biodiesel harus ikut menanggung juga.

(Visited 119 times, 1 visits today)