Kapuas Hulu, mediaperkebunan.id – Di tengah semangat petani kecil di wilayah Kapuas Hulu, Asosiasi Petani Sawit Sadau Sejahtera terus memperkuat perannya dalam mendorong pengembangan perkebunan sawit mandiri yang berkelanjutan. Ketua Asosiasi Petani Sawit Sadau Sejahtera, Drs. H. Abdurrasyid, M.M menyampaikan bahwa saat ini para petani sawit mandiri di Kapuas Hulu masih menghadapi berbagai tantangan. Terutama pada akses bibit unggul dan ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau.
Asosiasi yang berdiri dikukuhkan oleh Bupati Kapuas Hulu ini mempunyai lebih dari 200 anggota petani sawit mandiri dengan luas lahan sekitar 300 hektar dan baru sekitar 30 persen yang sudah menghasilkan. Sebagian besar petani di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia ini masih menghadapi kendala mendasar, mulai dari pengetahuan teknis yang belum memadai, bibit tidak bersertifikat, hingga keterbatasan pembelian pupuk.
Peredaran bibit ilegal merupakan salah satu persoalan utama yang dihadapi oleh petani sawit mandiri di Kapuas Hulu. Banyak petani yang membeli bibit dari toko daring melalui sistem COD tanpa mengetahui asal-usulnya.
“Banyak petani pemula membeli bibit lewat COD karena murah. Padahal lima tahun kemudian baru disadari bahwa hasilnya tidak sesuai harapan. Saya kasihan melihat petani yang sudah menanam tapi hasilnya tidak sepadan karena salah pilih bibit,” jelas Abdurrasyid pada acara Pelatihan Teknis Petani Sawit bertema “Pengembangan Sawit untuk Kesejahteraan Masyarakat di Daerah 3T” yang diselenggarakan oleh POPSI pada Jumat, (31/10).
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting mengapa asosiasi berupaya keras menjalin kemitraan dengan sumber benih dan Dinas Pertanian untuk memfasilitasi ketersediaan bibit unggul bersertifikat. Asosiasi juga berharap pemerintah dapat memperluas pendampingan teknis dan pelatihan bagi petani kecil agar mampu menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) di kebunnya masing-masing.
Selain masalah bibit, Abdurrasyid juga menyoroti sulitnya akses terhadap ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau. Harga pupuk di Kapuas Hulu sangat fluktuatif dan distribusinya terbatas. Pupuk NPK Mutiara misalnya, kini bisa mencapai Rp850.000 hingga Rp1 juta per 50 kg. Sementara pupuk campuran biasa berada di kisaran Rp250.000-Rp300.000 ribu.
“Kami hanya ingin akses yang mudah dan harga yang sesuai pasar. Di sini petani kecil cuma mampu beli satu atau dua karung, tapi mereka butuh rutin memupuk agar hasil sawit bagus,” jelasnya.
Asosiasi Sadau Sadar Sejahtera berdiri bukan hanya sebagai wadah advokasi, tetapi juga sebagai lembaga yang membantu anggotanya memperkuat legalitas lahan dan akses terhadap program pemerintah termasuk Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Hingga kini, sebagian besar anggota masih dalam proses melengkapi dokumen legalitas tersebut yang menjadi prasyarat penting untuk bisa mengakses berbagai program seperti PSR dan Sarpras.
“Target jangka menengah kami adalah agar seluruh anggota memiliki STDB dan nantinya bisa mengajukan ISPO. Ini penting supaya petani kecil tidak tertinggal dalam sistem tata kelola sawit nasional,” tambahnya.
Asosiasi juga membuka diri untuk kolaborasi dengan berbagai lembaga dan program pelatihan. Menurut Abdurrasyid, pembinaan dari dinas, penyuluh, dan lembaga pendidikan sangat dibutuhkan agar transfer pengetahuan kepada petani pemula bisa lebih efektif.
Di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses pasar, semangat petani sawit mandiri Kapuas Hulu tetap tinggi. Berdirinya Asosiasi Sadau Sadar Sejahtera menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi petani kecil agar mampu berdaya secara ekonomi dan berperan aktif dalam rantai pasok sawit nasional.
Asosiasi juga mendorong adanya kerja sama strategis dengan pihak pabrik kelapa sawit agar penyerapan buah petani dapat lebih lancar dan stabil. Dengan semakin banyaknya petani yang tergabung, diharapkan asosiasi ini menjadi contoh model kelembagaan petani sawit rakyat yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa petani sawit kecil di Kapuas Hulu juga bisa maju. Asal diberi kesempatan, akses bibit unggul, pupuk yang terjangkau, dan pendampingan yang tepat, kami yakin petani mandiri bisa mandiri secara ekonomi,” tutup Abdurrasyid.

