Jakarta, mediaperkebunan.id – Peni Agustianto dari Asosiasi Cokelat Bean to Bar Indonesia (ACBI) menyatakan organisasinya saat ini beranggotakan 19 pembuat cokelat artisan dengan produksi 170-180 ton cokelat/tahun. Cokelat artisan menggunakan biji kakao fermentasi single origin dari satu daerah , berupa cokelat aromatik untuk mengenalkan cita rasa kakao Indonesia.
Kebutuhan bahan bakunya adalah biji kakao fermentasi sehingga mendorong petani untuk memfermentasi biji kakaonya. Upaya yang dilakukan adalah melakukan pemetaan terhadap potensi biji berkualitas dari berbagai wilayah. Asosiasi cokelat ini sedang menyusun protokol fermentasi versi ACBI yang akan menjadi standar. Selama ini fermentasi dilakukan sesuai permintaan konsumen.
Melakukan kemitraan langsung 3 pihak yaitu antara LSM-pemerintah-ACBI dengan membuat pilot-pilot kecil di beberapa wilayah untuk meningkatkan kemampuan petani. Dilakukan dengan sosialisasi/overview pasar fermentasi di Indonesia melalui anggota ACBI; mendukung Unit Pengolahan Hasil (UPH) biji kakao fermentasi milik kelembagaan petani/petani; pelatihan kepada petani.
Tantangan yang dihadapi adalah rendahnya produksi biji kakao akibat penggunaan input yang relative rendah; ketersediaan bahan tanaman unggul yang terbatas; pengetahuan dan keterampilan petani kakao untuk sukses dalam usahanya masih terbatas seperti praktik budidaya yang baik dan ramah lingkungan juga aspek bisnisnya.
Sedang kelembagaan petani masih orientasi proyek, berdiri karena ada program pemerintah bukan alami karena kebutuhan bersama; manajemen sumberdaya manusia dan keuanganya masih terbatas; koordinasi ke luar dan dalam perlu lebih ditingkatkan lagi.
Sarana dan prasarana untuk pasar kakao fermentasi adalah paling pokok UPH, perlu ada sistem pemasaran bersama, informasi pasar, baseline data petani. Harapan ACBI model pengembangan multipihak menjadi sangat penting, ada kebijakan lintas sektoral pemerintah yang mendukung. Potensi kebutuhan biji kakao fermentasi anggota ACBI setiap tahun semakin meningkat.

