4 July, 2017

Jangan lupakan petani, itulah yang tertanam pada Asian Agri yang komitmen tidak hanya mengangkat petani plasma tapi juga swadaya.

Harus diakui bahwa perkembangan kelapa sawit milik petani sangatlah massif. Terbukti, berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian bahwa dari luas perkebunan kelapa sawit tahun 2016 yang mencapai 11.672.861 hektar, luas perkebunan petani rakyat mencapai 4.763.797 hektar, angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seluas 4.575.101 hektar.

Artinya dengan terus meningkatnya perkebunan rakyat maka sudah seharusnya ada pendampingan atau perhatian kepada perkebunan rakyat. Sebab dengan rendahnya produktivitas milik rakyat bisa mempengaruhi produktivitas nasinal. Terbukti, berdasarkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) produktivitas tandan buah segar (TBS) milik petani hanya 16 – 18 ton per hektar per tahun, sedangkan produktivitas perusahaan rata-rata telah 30 ton per hektar per tahun.

“Atas dasar itulah kita komitmen untuk menggandeng petani,” kata Freddy, Direktur Asian Agri saat ramah tamah dengan media.

Freddy Widjaya, Direktur Asian Agri

Freddy Widjaya, Direktur Asian Agri


Lebih lanjut, menurut Freddy komitmen menggandeng petani tidak hanya pada petani plasmanya saja, tapi juga pada petani swadaya khususnya pada lahan petani swadaya yang letaknya berdekatan dengan kebun inti ataupun dengan pabrik kelapa sawit (PKS) miliknya. Hal ini karena PKS milik perusahaan juga menerima tandan buah segar (TBS) dari kebun petani swadaya.

Salah satunya kebun petani swdaya dari Asosiasi Amanah. Asosiasi tersebut sengaja bermitra dengan PT Asian Agri agar produktivitasnya bisa meningkat dengan kompensasi TBS yang dihasilkan dari kebun tersebut di jual ke PKS milik Asian Agri.

Bahkan bukan hanya meningkatkan produktivitas, tapi juga membantu melakukan sertifikasi sustainable kepada kebun milik petani swadaya sebagai mitra perusahaan. Sebab Asian Agri melihat sertifikasi sustainable penting, dan sudah saatnya seluruh kebun kelapa sawit yang ada memiliki sertifikasi sustainable bukan hanya perusahaan.

“Sebab dengan melakukan sertifikasi sustainable berarti otomatis dapat meningkatkan meningkatkan produktivitas dari kebun itu sendiri,” papar Freddy.

Lebih dari itu, Freddy mengatakan perusahaan selaku inti dari petani plasma ataupun mitra dari petani swadaya akan membantu dalam melakukan replanting. Dinataranya dengan memberikan harga yang jauh lebih murah tapi bersertifikat dan pelatihan replanting yang baik agar tetap menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Petani swadaya kelapa sawitKetua Asosiasi Amanah, Sunarno

Petani swadaya kelapa sawitKetua Asosiasi Amanah, Sunarno


Membantu Sertifikasi
Terbukti, Asosiasi Amanah yang telah melakukan kerjasama atau bermitra dengan PT Asian Agri tidak hanya produktivitasnya yang meningkat. Tapi juga di support untuk melakukan sertifikasi sustainable, baik Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), Rountable Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Saya cukup bangga dengan memperoleh sertifikat ISPO pada asosiasi yang saya pipimpin ini. Sebab, sertifikat ISPO ini bukan sekedar sebagai pembuktian bahwa kebun ini telah sustainable, tapi ini menjadi pembuktian bahwa kebun yang kami kelola telah memenuhi prinsip dan kriteria sustainable,” terang Sunarno, Ketua Asosiasi Amanah.

Artinya, Sunarno mengakui, dengan diperolehnya sertifikat ISPO ini kebun yang bernaung di bawah Asosiasi Amanah terbukti sustainable baik versi nasional ataupun international. Adapun luas areal kebun yang bernaung di bawah Asosiasi Amanah yaitu 594 hektar yang dimiliki oleh 318 petani swadaya dari 17 kelompok tani.

“Jadi memang untuk memperoleh sertifikat ISPO ini cukup cepat yaitu sekitar 6 bulanan. Ini karena kebun kita sudah memperoleh sertifikat RSPO, sehingga sudah memenuhi syarat sustainable. Kita hanya tinggal memenuhi beberapa syarat saja sesuai dengan prinsip dan kriteria ISPO,” jelas Sunarno.

Lebih dari itu, Sunarno menambahkan, “berkat bantuan dari Asian Agri dalam pelatihan budidaya maka produktivitas TBS di lahan milik Asosiasi Amanah bisa mencapai 2 ton per hektar per bulan. Artinya produktivitas TBS per tahun bisa menembus 24 ton per hektar”.

Kepedulian Asian Agri terhadap petani, menurut Sunarno karena selalma ini hubungan perusahan dengan asoiasi tersebut cukup baik dan harmonis. Sehingga tercipta kebersamaan. Hal ini karena komitmen antara perusahaan dan petani sama dan saling membutuhkan.

Sebab harus diakui, dengan keterbatsan anggaran petani swadaya, jika perusahaan dan pemerintah tidak ikut andil untuk melakukan pembenahan kepada lahan milik petani swadaya maka bukan tidak mungkin nasib lahan milik petani swadaya akan semakin terpuruk.

“Itulah gunanya petani swadaya bermitra dengan perusahaan,” himbau Sunarno.

Merubah Ekonomi Masyarakat
Disisi lain, Gamal petani plasma Asian Agri Kabupaten Rohul, Provinsi Jambi pun mengakui dengan adanya program Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans) yang ada di tahun 91 oleh Inti Indonsawit Subur, kini kehidupan ekonominya berubah.

“Jadi jika dahulu pertama kali datang ke kebun dengan berjalan kaki, lalu setelah beberapa bulan dari panen perdana kami mulai menggunakan motor dan hingga akhirnya kini kami kekebun menggunakan roda empat. Bahkan kami bisa menyekolahkan anak kami hingga jenjang Universitas,” urai Gamal.

Bahkan, menurut catatan Gamal, jika dibandingkan dengan petani di daerah Jawa, pendapatan sebagai petani sawit dari program inti plasma ini jauh lebih tinggi. Hal ini karena petani plasma mendapatkan bimbingan sehingga menghasilkan produktivitas yang tinggi. Selain itu dengan menjadi petani plasma, ada jaminan pasar untuk menjual tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan.

Disisi lain, menjadi petani plasma tidak hanya diajarkan bagaimana melakukan budidaya secara good agriculture practices (GAP), tapi juga diajarkan untuk mengelola koperasi, dalam hal ini Koperasi Unit Desa (KUD) Karnajaya.

Alhasil dengan pengelolaan manajemen keuangan secara koperasi maka masing-masing petani plasma sudah mempunyai tabungan sendiri-sendiri yang akan digunakan untuk melakukan replanting. Sehingga pada saatnya biaya tambahan replanting tidaklah besar dan akan lebih mudah dalam mengajukan kredi ke perbankan karena sudah memiliki badan usaha yaitu koperasi.

“Jadi tabungan kami di koperasi sudah ada Rp 6,3 miliar dengan tiap orang memiliki Rp 40 juta. Artinya kami sudah siap untuk melakukan replanting, adapun kekurangannya pihak inti berjanji akan memfasilitasi untuk membantunya sebab dana untuk replanting sekitar Rp 60 juta/hektar,” ucap Gamal.

Melihat hal ini, Gamal berharap, “program inti plasma bisa terus dilakukan karena memaneg meiliki dampak yang besar terhadap masyarakat”. YIN

(Visited 272 times, 1 visits today)