T-POMI
2023, 29 November
Share berita:

Pemalang, mediaperkebunan.id –Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) meneruskan komitmennya untuk mendampingi masyarakat dalam penanaman mangrove di 4 Desa di Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Selain itu, APROBI juga memberikan bimbingan teknis dan bantuan sarana prasarana pengolahan sumberdaya mangrove.

“APROBI mendukung kegiatan penanaman mangrove sebagai bagian mendukung pemenuhan target nasional 600.000 ha sesuai Peraturan Presiden No. 120 Tahun 2020 tentang Badan Restorasi Gambut dan Mangrove,”ujar Ketua Bidang Sustainability APROBI, Rapolo Hutabarat saat meninjau perkembangan penanaman mangrove dan kegiatan bimbingan teknis masyarakat di Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Pemalang, Jawa Tengah.

Rapolo Hutabarat menjelaskan bahwa APROBI bersama masyarakat dan pemerintah daerah melakukan penanaman mangrove di 4 Desa yaitu Desa Mojo, Desa Limbangan, Desa Pesantren, dan Desa Ketapang di Kabupaten Pemalang. Luas penanaman mangrove mencapai  50 hektare yang secara bertahap dilakukan mulai November 2022.

“Realisasi kegiatan penanaman telah  mencapai 80 persen yang diharapkan  bisa selesai tahun ini. Harapan kami, penanaman mangrove di wilayah ini dapat menjadi rujukan bagi daerah lain,” ujar Rapolo.

Rapolo menjelaskan bahwa penanaman mangrove ini membawa banyak manfaat kepada  masyarakat setempat dan sekitarnya dari aspek ekonomi dan lingkungan. Tak hanya penanaman, APROBI juga memberikan bantuan sarana dan prasarana serta bimbingan teknis kepada masyarakat supaya dapat mengolah mangrove dan produk sumber alam di sekitarnya agar bernilai tambah tinggi.

Di kesempatan tersebut, APROBI dan masyarakat dari desa Mojo dan Ketapang diajarkan bagaimana memanfaatkan tanaman mangrove menjadi produk yang bernilai tambah.

“Masyarakat diajarkan kegiatan mengolah mangrove menjadi pewarna alami batik, minuman, dan produk makanan yang berbahan dasar dari tanaman mangrove, ” jelas Rapolo.

Baca Juga:  ISU GENDER DIGUNAKAN DALAM KAMPANYE HITAM KELAPA SAWIT

Plt Kepala  Dinas Pertanian Pemalang, Mu’minun mengapresiasi komitmen APROBI beserta komitmen  kelompok bakau, masyarakat , dan kelompok pegiat kelestarian lingkungan  atas komitmen serta dukungannya terhadap penanaman mangrove.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada APROBI atas kepeduliannya terhadap lingkungan. Harapan kami acara ini akan terus berlanjut dan semakin membesar agar manfaatnya dirasakan lebih banyak dan lebih luas kepada masyarakat,” tambahnya.

Ketua Kelompok Pelita Bahari Desa Mojo, Tolani  menjelaskan bahwa bantuan dari APROBI ini  sangat dirasakan masyarakat karena tidak hanya  penanaman mangrove ini melainlan ada dukungan sarana prasarana. Selain itu, adapula bimbingan teknis kepada masyarakat supaya memiliki kompetensi untuk membatik dan mengolah makanan yang berkaitan dengan mangrove.

“Bantuan penanaman mangrove APROBI ini sangat efektif karena menggunakan metode silvofishery di wilayah tambak. Karena kegiatan tambak budidaya tidak terganggu dan penanaman mangrove dapat berjalan. Masyarakat yang membudidayakan bandeng menikmati manfaat dari aspek kualitas air lebih bagus sehingga produksi mencapai 1.200 ton bandeng pada 2022 lalu,” urai Tolani.

Kepala Desa Limbangan, Siswoyo menuturkan bahwa penanaman mangrove dapat mencegah meluasnya abrasi khususnya di wilayah tambak. Tanpa adanya mangrove, lahan tambak dapat terkikis sehingga berdampak bagi kesejahteraan masyarakat. Mayoritas warga disini bekerja di budidaya tambak dan petani lahan sawah yang juga dipengaruhi kondisi iklim lingkungan

Berdasarkan Peta Mangrove Nasional (PMN) tahun 2022, luas potensi mangrove di Indonesia mencapai 793 ribu hektare, dengan rincian areal terabrasi 4.181 hektare, lahan terbuka 61.250 hektare, mangrove terabrasi 10.948 hektare, tambak 667 ribu hektare, serta tanah timbul 50 ribu hektare.

Selain itu, restorasi hutan mangrove menggunakan empat pola penanaman, antara lain pola intensif yang menanam 3.300-10.000 batang mangrove per hektare, pola rumpun berjarak 5.000-10.000 batang per hektare, silvofishery 800 batang per hektare, serta pengayaan 1.000-3.000 batang per hektare.

Baca Juga:  Resolusi Sawit Parlemen Eropa “Penghinaan” Bagi Indonesia