T-POMI
2022, 31 Maret
Share berita:

Jakarta, mediaperkebunan.id – Harga referensi produk crude palm oil (CPO) untuk penetapan bea keluar (BK) periode April 2022 adalah USD 1.787,50/MT. Harga referensi tersebut meningkat sebesar USD 355,26 atau 24,80 persen dari periode Maret 2022, yaitu sebesar USD 1.432,24/MT.

Penetapan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 15 Tahun 2022 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang dikenakan Bea Keluar (BK).

ā€œSaat ini harga referensi CPO telah jauh melampaui threshold USD 750/MT. Untuk itu, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar USD 200/MT untuk periode April 2022,ā€ kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana.

BK CPO untuk April 2022 merujuk pada Kolom 12 Lampiran I Huruf C Peraturan Menteri Keuangan No.1/PMK.010/2022 sebesar USD 200/MT. Nilai tersebut tidak berubah dari BK CPO untuk periode Maret 2022.

Sementara itu, harga referensi biji kakao pada April 2022 sebesar USD 2.593,01/MT menurun 1,32 persen atau USD 34,71 dari bulan sebelumnya, yaitu sebesar USD 2.627,71/MT. Hal ini berdampak pada penurunan HPE biji kakao pada April 2022 menjadi USD 2.303/MT, menurun 1,46 persen atau USD 34 dari periode sebelumnya, yaitu sebesar USD 2.337/MT.

Peningkatan harga referensi CPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu meningkatnya permintaan dunia tetapi pasokan CPO yang terbatas dikarenakan adanya peningkatan persentase kebijakan domestic market obligation menjadi 30 persen yang diberlakukan oleh Indonesia, kenaikan harga minyak bunga matahari dan minyak kedelai sebagai substitusi alternatif minyak sawit yang diakibatkan oleh invasi Rusia ke Ukraina dan penurunan hasil panen, serta adanya kekhawatiran kekurangan edible oil oleh Pasar Asia terutama India. Hal ini membuat India memperpanjang durasi pengurangan bea masuk minyak nabati sampai 31 September 2022.

Baca Juga:  STDB BUKAN PERIZINAN, TETAPI PELAYANAN PEMERINTAH PADA PEKEBUN

Sementara itu, penurunan harga referensi dan HPE biji kakao dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu menurunnya permintaan dunia tetapi pasokan kakao yang memadai dari Pantai Gading dikarenakan adanya kekhawatiran dalam pengiriman akibat dari invasi Rusia ke Ukraina, kenaikan harga minyak mentah dunia yang mempengaruhi penurunan terhadap perekonomian global, serta melemahnya nilai tukar poundsterling terhadap dolar. Penurunan ini tidak berdampak pada BK biji kakao, yaitu tetap 5 persen. Hal tersebut tercantum pada Kolom 2 Lampiran I Huruf B Peraturan Menteri Keuangan No. 1/PMK.010/2022.