Palembang, mediaperkebunan.id – Sebagian besar kebun karet rakyat di Sumsel sudah berusia tua, produktivitas menurun, dan rentan terhadap serangan hama serta penyakit gugur daun. Hal ini berdampak langsung terhadap pendapatan petani. Demkian hasil pertemuan antara DPP APKARINDO (Asosiasi Petani Karet Indonesia) dengan DPW APKARINDO Sumsel. Rudi Arpian, Sekretaris Jenderal DPW APKARINDO Sumatera Selatan menyatakan hal ini. Dari DPP APKARINDO hadir Sekjen Adi Purnama , sedang dari DPW selain Rudi hadir hadir Ketua DPW Apkarindo Sumsel Supartijo.
Harga karet dunia yang fluktuatif membuat petani berada dalam posisi yang rentan. Ketika harga naik, petani belum sepenuhnya menikmati manfaat karena sistem tata niaga yang belum berpihak. Ketika harga turun, petani langsung terpukul. APKARINDO menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjaga stabilitas harga melalui: regulasi perdagangan, penguatan koperasi petani dan penciptaan pasar hilir berbasis industri dalam negeri.
Replanting menjadi agenda paling mendesak. Tanpa peremajaan besar-besaran, produksi nasional akan terus menurun dan posisi Indonesia sebagai produsen karet dunia akan semakin melemah. Dalam pertemuan ini disuarakan perlunya: program replanting nasional (GERNAS KARET), bantuan bibit unggul tahan penyakit, dukungan alat berat karena tebang-bakar dilarang, pupuk bersubsidi untuk tanaman karet, pendampingan teknis oleh penyuluh,serta tumpangsari berbasis kearifan lokal agar petani tetap berpenghasilan selama masa belum menghasilkan.
Dibahas pula pentingnya hilirisasi karet dari hulu hingga hilir, termasuk pengembangan: lateks konsentrat, bahan baku aspal lateks, produk rumah tangga berbasis karet, hingga industri kecil dan menengah di desa. Konsep Kampung Karet dipandang sebagai model masa depan perkebunan karet rakyat: produksi kuat, nilai tambah tinggal di desa, lapangan kerja tumbuh, dan ekonomi lokal bergerak.
Ditegaskan kembali bahwa APKARINDO adalah organisasi non-politik, yang berdiri murni sebagai wadah perjuangan petani karet rakyat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan per-karet-an nasional. Tujuan utama APKARINDO adalah: menyuarakan persoalan riil petani karet di lapangan, mengawal kebijakan pemerintah agar berpihak pada petani, mengadvokasi harga karet yang adil, mendorong program peremajaan karet rakyat secara masif dan terstruktur, mempercepat hilirisasi karet berbasis desa dan koperasi.
APKARINDO hadir bukan untuk kepentingan kekuasaan, tetapi untuk kepentingan petani karet sebagai tulang punggung ekonomi desa dan penjaga ekologi. APKARINDO secara konsisten mengangkat: persoalan kebijakan perkebunan karet nasional, ketimpangan perlakuan terhadap petani karet, pentingnya perlindungan petani sebagai penjaga ekologi serta urgensi pembentukan BPDP Karet sebagai solusi structural.
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat konsolidasi organisasi dari pusat hingga daerah, memperluas jaringan petani dan pelaku usaha, serta memperkuat posisi APKARINDO sebagai mitra kritis dan strategis pemerintah dalam pembangunan sektor perkaretan nasional. APKARINDO akan terus berdiri di barisan petani. Bersuara ketika petani terpinggirkan. Bergerak ketika karet rakyat terancam. Menjadi jembatan antara petani dan negara.

