Jakarta, mediaperkebunan.id – Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) soroti bagaimana kondisi industri kelapa saat ini yang berpotensi tutup. Hal tersebut terjadi karena kekurangan bahan baku akibat produksi kelapa turun dan ekspor kelapa segar ke beberapa negara sangat besar.
Negara-negara ekspor kelapa yang termaksud tersebut antara lain China, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Petani kelapa dari Indragiri Hilir Riau, Burhanudin Raffik menyatakan ada beberapa poin yang sebaiknya industri kelapa sudah mulai lakukan bersama HIPKI demi keberlangsungan, berikut di antaranya:
- Melakukan pembinaan terhadap petani dengan memberikan harga layak sesuai dengan harga bahan baku dari semua hasil produk kelapa.
- Menyisihkan sebagain dana industri melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Kegiatan dari program ini misalnya penyediaan bibit unggul hibrida/genjah cepat berbuah hanya 2,5 – 3 tahun dengan produktifitas tinggi seperti kelapa Matag di Malaysia.
- Membuat cluster pengembangan perkebunan kelapa dengan produktifitas tinggi melibatkan petani kelapa sebagai mitra petani plasma/swadaya.
Sebenarnya, fasilitasi Kemenko Perekomonian, Kementerian Pertanian sudah ada kesepakatan antara HIPKI dengan Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia ada kesepakatan Harga Pokok Produksi Rp 2650 per kg. Tapi hal ini tidak mendapat tindak lanjut dan harga kelapa masih terbilang sangat rendah. Bahkan dari tahun lalu sampai dengjn awal Januari 2024 harga kelapa hanya 1000 sampai 1500 per kg.
“Jika sekarang petani mendukung eskport kelapa karena petani juga mau sejahtera. Bila harga beli industri sama dengan harga ekspor. Ekspor akan tutup dengan sendirinya , kami juga ingin agar industri kelapa nasional tetap berjalan, tetapi jangan semena-mena seperti puluhan tahun selama ini,” kata Burhanudin Raffik.
“Dulu tahun 2011 kita minta naik Rp50 industri kelapa walkout dari forum. Tahun 2017 sd 2019 kita minta harga setara dengan biaya produksi tetapi HIPKI tidak pernah setuju. Sekarang baru sibuk pemerintah mengatur harga. ndustri kelapa harus bermitra dengan petani kelapa sebagai petani mitra plasma/swadaya dengan luasan kebun kelapa yang produksinya sesuai dengan kapasitas pabrik masing-masing,” katanya lagi.
Petani kelapa dari Banyuasin, Sumsel. Asri lambo menyatakan persoalan krisis bahan baku kelapa bulat/segar seharusnya menjadi evaluasi Internal industri kelapa itu sendiri bukan beban untuk petani dan pemerintah. Selama puluhan tahun petani kelapa dicekik dengan harga yang sangat murah yang dibeli oleh industri.
Beberapa tahun kemudian datanglah para buyer eksportir menawarkan harga yang lebih menguntungkan bagi petani dan memebuat mereka beralih penjualannya ke eksportir.
Kesalahan industri kelapa dalam negeri sehingga tidak bisa bersaing dengan eksportir adalah :
- Industri tidak memilik kebun inti yang mampu menjadi peyangga ketika bahan baku petani tersendat.
- Industri tidak melakukan pembinaan yang berkelanjutan dengan petani kelapa, sehingga petani tidak merasa ada kewajibab/beban untuk memasok ke industri.
- Industi tidak mampu bersaing harga beli dengan eksportir padahal jika dipikir Industri lokal lebih hemat biaya angkut/transportasi dibanding eksportir.
- Teknologi Industri lokal dan nasional belum bisa menghasilkan produk yang mampu bersaing harga di pasar produk Internasional. Sehingga, biaya operasional masih tinggi itu yang membuat mereka tidak bisa beli bahan baku dengan harga bersaing.
- Adanya penurunan produksi panen petani karena cuaca ekstrim yang seharusnya ada penanganan yang serius dari pemerintah maupun industri. Misalnya dengan bantuan pemupukan dan perbaikan irigasi sehingga tidak ada penurunan produksi yang berarti.

