Jakarta, mediaperkebunan.id – El Nino bukan kejadian langka, selalu berulang. Tahun 2016, 2020, 2024 terjadi El Nino yang berdampak pada penurunan produksi. Dampak nyatanya adalah penurunan produktivitas. Menghadapi situasi ini maka perlu persiapan kebun. Marlon Sitanggang dari P3PI (Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia) menyatakan hal ini dalam Online Training “Antisipasi Dampak El Nino Pada Penurunan Produktivitas Sawit” yang diadakan P3PI.
Kesalahan umum adalah reaktif bukan prediktif; tidak/belum memafaatan data (curah hujan, water deficit, tanah); fokus pupuk (nutrisi), lupa ground cover dan canopy; tidak /mnimal early warning system fisiologi. Staregi miigasi sebelum El Nino adalah konservasi air (menampung air sebayak-banyaknya) dan soil mouisture management (tanaman penutup tanah). Penerapan di kebun mulching dengan produk samping pabrik kelapa sawit yaitu Tandan kosong kelapa sawit, segera diaplikasikan, kadar air 60-70%, mengcover areal lebih luas, baik pada areal tandus.
Tangkos 18%/dari TBS , produks 43.200 ton/m3. Dosis 40 ton/ha, coverage 1.080 ha, potensi air 24-26 m2/ha, sebagai mulsa utama menekan evaporasi. Decanter solid, kadar air 60-75%, nutrisi tersedia bagi tanaman, cocok sekali bagi tanaman baru/TBM, 3% dari TBS, produksi 7.200 ton/m3, dosis 14 ton/ha, coverage 533 ha, potensi air 9,8 m3/ha, menambah C organik dan retensi air.
Abu boiler, menahan dan menyimpan air, 1% dari TBS, produksi 2.400 ton/m3, dosis 13 ton/ha, coverage 178 ha, potensi air 10 m3/ha, menyimpan air saat hujan (kapasitas penuh).POME 97% air, kandungan unsur hara tersedia, 60% dari TBS, produksi 144.000 m3, dosis 355 m3/ha, coverave 384 ha, potensi air 375 m3/ha, sumber air langsung dan nutrisi.
Calyx (bukan limbah pabrik) kadar air 60-70%, mudah diaplikasi, 1% dari TBS, produksi 2.400 ton/m3, dosis 14 ton/ha, coverage 178 ha, potensi air 8,4 m3/ha, fraksi organik halus.
Pada areal aplikasi 2.353 ha , total air tersimpan/ setara air adalah ±179.500 m3. Di luar itu tankos memberi tambahan manfaat konservasi air melalui penurunan evaporasi tanah sekitar 30-35% sebagai asumsi operasional mulsa organik.
Penyusunan pelepah berfungsi sebagai mulsa alami yang menutup permukaan tanah, mengurangi evaporasi sekitar ±10-20 mm/bulan pada areal tertutup, serta membantu mempertahankan kelembaban tanah selama periode kering.
Pembuatan rorak /parit untuk konservasi air (memanen air hujan). Parit setara menahan/memanen sekitar 24-48 mm curah hujan. Rorak setara menahan/memanen sekitar 16,3-18,4 mm curah hujan.Penutupan tanah dengan ground cover dan cover crop tidak hanya berfungsi menutup tanah, tetapi juga menjadi sumber bahan organik melalui biomassa yang memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan retens air.
Di TBM tanpa cover crop, tahan terekspos langsung. Evaporasi bisa 150-240 mm perbulan hampir setara satu bulan curah hujan. Mucuna bracteate yang menutup sampai 100% memotong kehilangan air 60-80%. Artinya menghemat 80-130 mm air perbulan, tanpa MB akan hilang begitu saja ke udara. Ini bukan teori, terjadi setiap hari di kebun.
Saat El Nino menyesuaikan pemupukan, aplikasi pupuk yang tidak terpengaruh oleh penguapan yaitu pupuk RP dan pupuk dolomit. Prioritas pemupukan pada lahan yang produktif. Aplikasi bahan organik lain seperti eceng gondok. Monitoring water deficit secara rutin.
Amsari M Setiawan, Direktorat Perubahan Iklim, Deputi Bidang Klimatologi , Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika, menyatakan hasil monitoring pada dasarian III Maret 2026 menunjukkan indeks IOD dasarian (Indek IOD bulanan) -0,614 mengindikasikan fase netral. Indeks ENSO dasarian +0,08 menunjukkan ENSO berada pada fase netral.
BMKG dan beberapa pusat iklim dunia memprediksi ENSI akan netral hingga pertengahan tahun 2026 lalu berpeluang bertransisi ke El Nino semester 2 2026. El Nino memiliki dampak yang bervariasi terhadap curah hujan di Indonesia. Tergantung tempat dan periode waktu kejadian.
Analisis curah hujan Maret 2026 , wilayah Indonesia pada kriteria menengah (69,63% wilayah), dengan sifat hujan bawah normal (51,23%) dan normal (29,97%). Hingga dasarian III Maret 2026 , 7% wilayah Indonesia (49 Zona Musim , ZOM) mengalami musim kemarau. Curah hujan Indonesia pada April-September 2026 diprediksi pada kategori rendah-menengah dengan sifat hujan normal-bawah normal.
Awal musim kemarau 2026 umumnya diprediksi April 2026 (114 ZOM, 16,3%), Mei 2026 (184 ZOM,26,3%), Juni 2026 (163 ZOM,23,3%). Dibanding dengan normalnya awal musim kemarau 2026 diprediksi maju 325 ZOM (46,5%), Normal 245 ZOM (35,1%), atas normal 3 ZOM (0,4%).Puncak musim kemarau 2026 umumnya diprediksi Juli 2026 (88 ZOM, 12,6%), Agustus 2026 (429 ZOM,61,4%), September 2026 (100 ZOM, 14,3%). Dibanding normalnya durasi musim kemarau 2026 umumnya lebih panjang (400 ZOM, 57,2%), sama (85 ZOM, 12,2%), lebih pendek (101 ZOM, 14,4%).

