Medan, mediaperkebunan.id – Di tengah kontribusi besar kelapa sawit terhadap perekonomian nasional, ancaman tikus di perkebunan masih menjadi persoalan serius yang kerap luput dari perhatian. Serangan hama ini terjadi sejak fase pembibitan hingga tanaman menghasilkan, dengan dampak langsung terhadap kehilangan produksi tandan buah segar (TBS) dan penurunan rendemen minyak.
Dalam 3rd ISGANO 2026 di Medan, Ir. Murdianto, Tehnical & Marketing Manager PT. BASF Indonesia menegaskan bahwa pengendalian tikus harus dilakukan secara sistematis dan berbasis pemahaman biologi hama.
“Kelapa sawit memberi manfaat ekonomi bagi sekitar 12 persen masyarakat Indonesia. Karena itu, kehilangan produksi akibat tikus tidak boleh dianggap sepele,” ujarnya.
Tikus tidak hanya merusak buah masak. Pada fase pre-nursery dan pembibitan utama, tikus dapat merusak bibit dan pelepah muda. Di fase tanaman belum menghasilkan (TBM), hama ini menyerang pelepah dan bunga. Pada tanaman menghasilkan, kerusakan pada TBS mentah maupun masak dapat mencapai 5–10 persen.
Kerugian tersebut berdampak langsung pada kehilangan CPO dan KPO per hektar setiap tahunnya. Bahkan pada tingkat serangan relatif rendah, potensi kerugian ekonomi sudah signifikan, terutama bila terjadi pada areal luas.
“Melihat bangkai tikus saja tidak cukup. Ukur keberhasilan dari berkurangnya kerusakan pada TBS,” tegas Murdianto.
Setidaknya terdapat tiga spesies tikus yang umum ditemukan di perkebunan sawit, yakni tikus kayu (Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattus argentiventer), dan tikus rumah (Rattus rattus diardii). Masing-masing memiliki karakteristik habitat dan perilaku berbeda.
Identifikasi spesies penting dilakukan sejak awal, termasuk melalui pengamatan bentuk kotoran dan pola kerusakan. Tanpa identifikasi yang tepat, strategi pengendalian bisa salah sasaran.
Tikus juga memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Mereka merupakan perenang yang sangat baik, sehingga keberadaan sungai atau parit bukanlah penghalang alami. Artinya, blok kebun yang berbatasan sungai tetap harus masuk dalam program pengendalian.
“Tikus bisa berenang dan berpindah blok. Jadi jika ada aplikasi pengendalian, blok sebelah juga harus diperhatikan,” tegasnya.
Selain itu, tikus memiliki perilaku bait shyness atau jera umpan. Jika satu individu mati setelah mengonsumsi umpan tertentu, individu lain dapat menghindari jenis umpan tersebut. Mereka juga memiliki indra penciuman dan pendengaran sangat tajam serta cenderung aktif pada malam hari.
Salah satu tantangan terbesar adalah laju reproduksi tikus yang sangat cepat. Sepasang tikus dapat berkembang menjadi ratusan individu dalam waktu satu tahun. Jika pengendalian terlambat, populasi bisa meningkat drastis dalam waktu singkat.
Area favorit tikus adalah tumpukan pelepah sawit yang lembab dan terlindung dari sinar matahari. Kondisi ini menjadikannya tempat ideal untuk bersarang dan berkembang biak.
“Tumpukan pelepah bisa menjadi hotel bintang lima bagi tikus jika tidak dikelola dengan baik,” ujarnya.
Selain merusak buah, tikus juga dapat mengganggu keberadaan kumbang penyerbuk (Elaeidobius) yang berperan penting dalam proses penyerbukan kelapa sawit.
Murdianto menekankan bahwa pengendalian tikus tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Diperlukan manajemen terpadu yang mencakup identifikasi spesies, pemahaman biologi dan perilaku, monitoring populasi, pengelolaan habitat, hingga penggunaan rodentisida secara bijak.
Pendekatan ini juga harus selaras dengan prinsip keberlanjutan RSPO dan ISPO, termasuk mempertimbangkan risiko resistensi serta dampaknya terhadap lingkungan dan predator alami seperti burung hantu. Di sinilah peran rodentisida generasi baru seperti Selontra 0.075 RB menjadi relevan. Dengan bahan aktif cholecalciferol (vitamin D3), produk ini bekerja melalui mekanisme non-antikoagulan sehingga berbeda dari rodentisida konvensional yang selama ini memicu resistensi. Karakteristiknya yang non-bioakumulatif dan relatif lebih aman terhadap predator alami menjadikannya kompatibel dengan sistem berbasis konservasi termasuk integrasi burung hantu di kebun sawit.
Selain itu, efek stop feeding yang cepat membantu menekan kerusakan lebih dini, sehingga kehilangan produksi dapat diminimalkan tanpa penggunaan umpan berulang yang berlebihan. Pendekatan ini dinilai lebih efisien dari sisi tenaga kerja, biaya aplikasi, serta risiko paparan lingkungan.
“Pengendalian tikus harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Bukan hanya efektif menurunkan populasi, tetapi juga aman bagi ekosistem dan memenuhi standar sertifikasi,” ujar Murdianto.
Dengan demikian, pengendalian tikus yang sesuai dengan regulasi dan prinsip keberlanjutan seperti RSPO dan ISPO belumlah tuntas jika hanya mengandalkan pengendalian biologi semata. Melalui integrasi pendekatan biologis dan kimiawi yang selektif, industri kelapa sawit Indonesia dapat menjaga produktivitas sekaligus mempertahankan komitmen terhadap praktik perkebunan berkelanjutan.

