Jakarta, mediaperkebunan.id – Bisnis budidaya tebu, kakao, kelapa, dan sawit masih menarik baik bagi usaha kecil, menengah, sampai besar. Untuk bisnis kecil budidaya tebu luas lahan < 4 ha, menengah dengan luas lahan 4-25 ha, usaha besar dengan luas lahan >10.000 ha dan inti plasma (kemitraan). Sedang bisnis PG selektif bersyarat untuk usaha besar dengan kapasitas produksi 10.000 ton tebu/hari. Praktisi sekaligus Ex-Credit Analyst Mandiri, Muhammad Tohier menyatakan hal ini dalam Agro-Comodity CEO Forum yang diselenggarakan Media Perkebunan dan P3PI pada 24 November 2025.
Sedang kakao masih menarik untuk bisnis kebun skala kecil < 4 ha, menengah 25-250 ha, besar > 1.000 ha dan inti plasma. Sedang untuk industri pengolahan kakao, industry cokelat dan industri makanan minum berbahan baku cokelat menarik bagi skala besar. Skala kecil selektif bersyarat untuk menghasilkan biji kakao fermentasi, sedang menengah juga selektif bersyarat untuk industri olahan kakao. Menengah selektif bersyarat untuk industri pengolahan cokelat.
Sedang kelapa untuk budidaya untuk usaha kecil dibawah 100 pohon masih menarik, juga usaha menengah >250 ha, usaha besar > 100.000 ha, inti dan plasma dengan jumlah > 100 pohon/anggota. Industri olahan dengan kapasitas 100.000 butir/hari masih menarik bagi usaha besar dan inti plasma demikian juga pabrik terintegrasi.
Sedang usaha kecil selektif bersyarat untuk industri olahan <10.000 butir/hari dan usaha menengah 10.000-100.000 butir/hari dan tidak terintegrasi. Sedang untuk sawit strategi pendanaan kreditur/pemodal dengan target pertumbuhan bertahap/gradual dan pertumbuhan pendanaan tetap positif selama 5 tahun akan memilih pembiayaan kebun pada masa TBM. Sedang bila targetnya pendanaan besar dan cepat , walau pertumbuhan pendanaan negatif pada tahun berikutnya akan memilih pembiayaan kebun pada fase tanaman menghasilkan.
Bila target pada nilai pendanaan yang besar dan cepat namun tetap menjaga pertumbuhan pendanaan positif minimal 5 tahun berikutnya atau portofolio rebalancing, akan memilih pembiayaan kebun secara campuran antara TBM dan TM. Tingkat risiko pembiayaan kebun pada manajemen yang experience (berpengalaman) dan TM adalah skor teknis 3, manajemen 2, finansial 2,5, sosial 3. Sedang pada manajemen experience dan TBM adalah skor risiko teknis 4,5, manajemen 2,6, finansial 3,75, sosial 4,5. Sedang pada kebun dengan manajemen new comer (pendatang baru) dan TBM skor risiko teknis 5,8, manajemen 3,5, finansial 4,9, sosial 5.
Pada kebun dengan manajemen new comer dan TM risiko teknis 4,5, manajemen 2,5, finansial 3,3, sosial 4. Risiko paling tinggi pada manajemen new comer dan TBM. Usaha budidaya sawit masih sangat menarik bagi usaha kecil <250 ha, menengah 250-2.500 ha, besar >10.000 ha, inti plasma seluas 20% dari inti dan kebun plasma 4 ha/KK. Usaha besar dan inti plasma masih menarik jika punya Pabrik Kelapa Sawit dengan kapasitas >30 ton/jam. Juga masih menarik jika punya pabrik refinery dan terintegrasi. Sedang usaha menengah selektif bersyarat untuk investasi pada PKS mini kapasitas 10 ton/jam.
Demikian tentang prospek bisnis budidaya tebu, kakao, kelapa, dan sawit berdasarkan paparan Praktisi sekaligus Ex-Credit Analyst Mandiri, Muhammad Tohier pada acara Agro-Commodity CEO Forum.

