Jakarta, mediaperkebunan.id – “Dengan situasi yang dihadapi tahun 2025 dan tantangan 2026, harga gula tahun 2026 diperkirakan akan tertekan. Proyeksi harga lelang gula tahun 2026 masih moderat dengan kisaran Rp14.600-Rp14.850/kg,” kata Andrial Saputra, Kepala Bagian Bursa dan Pengembangan Bisnis Inacom KPBN pada Agro CEO Forum yang diselenggarakan Media Perkebunan dan P3PI.
Tantangan pasar gula tahun 2026 adalah: Proyeksi produksi gula global diperkirakan mencapai 187,2 juta ton pada periode 2025/2026, tingkat konsumsi diperkirakan turun tipis ke angka 179,4 juta ton, sehingga surplus gula diperkirakan 7,8 juta ton.
Dengan merembesnya gula rafinasi ke pasar GKP membuat pedagang kesulitan menyerap stok GKP di gudang PG dan petani karena akan menambah banyak gula dipasar. Peningkatan produksi dan surplus gula dunia berpotensi menurunkan harga gula secara global. Indonesia yang mentargetkan swasembada gula tahun 2026 harus mempertimbangkan fluktuasi harga ditingkat internasional.
Pemerintah mentargetkan swasembada gula tahun 2026 artinya harus meningkatkan produksi juga mengatasi masalah distribusi agar tidak tergantung pada impor. Untuk mengatasi harga tetes yang anjlok asosiasi produsen etanol minta ekspor tetes dibatasi lewat DMO, mempercepat wajib bioethanol dan perlindungan pasar dalam negeri. Isu pasar gula tahun 2025 adalah: Belum ada penyesuaian HAP (Harga Acuan Pembelian) meskipun biaya pokok produksi 2025 naik jadi Rp710.000/ton tebu.
Dropnya harga gula dunia yang menurun cukup dalam, sehingga menekan harga gula di level domestik. Rembesan gula rafinasi kepasar gula konsumsi sehingga menekan harga gula petani. Di beberapa wilayah gula rafinasi dipasarkan terang-terangan di retail.
Harga tetes anjlok akibat banjirnya etanol impor sesuai dengan Permendag 16/2025, sehingga memotong tambahan pendapatan petani dan PG.Gap harga lelang dan retail cukup tinggi yaitu Rp3000/kg menunjukkan ranta distribusi yang tidak efisien.
Kenaikan harga bukan dampak mekanisme pasar melainkan regulasi HAP. Tahun 2016-2025 harga gula naik dari Rp9000/kg jadi Rp15.000.HAP terbaru Bapanas 2024/2025 menetapkan pembelian tingkat produsen Rp14.500/kg sedang retail Rp18.500/kg, namun implementasi di lapangan belum efektif menjaga harga tetap stabil.
Harga gula PT KPBN periode 2020-2025 dari tahun 2020 Rp10.955/kg terus naik sampai April 2024 menjadi Rp16.255/kg. Harga gula global dari 2020-2023 menguat akibat kondisi defist pasca Covid. Overview 2020-2023 gula KPBN growth 17,47%. Setelah itu Mei 2024 harga turun jadi Rp14.854/kg, Juni Rp14.643/kg, setelah itu rebound akibat siklus musim guling. Juli 2024-Desember 2024 Juli Rp14.752/kg sampai Desember Rp15.158/kg.
Overview 2024 harga gula rata-rata Rp14.932/kg, 2024 Year to date gula KPBN tumbuh 3,24%. Faktor utama secara keseluruhan adalah supply demand gula sangat dipengaruhi oleh kondisi supply negara produsen (Brazil, India, Thailand).Faktor utama 2024: kondisi siklus fundamental masih berlanjut, namun PTPN melalui SGN tidak memanfaatkan optimal volume jual, saat itu penjualan sebelum giling cukup terbatas, dampak dari banyaknya penjualan diakhir tahun 2023 dan sebelumnya.
Januari 2025 harga gula KPBN Rp15,748/kg, April 2025 Rp15.750/kg, penjualan gula Pebruari-Maret tidak ada dampak dari operasi pasar yang dilakukan pemerintah. Mei 2025 harga gula turun Rp14.849/kg sampai Rp14.528/kg September 2025; prognosa November 2025 Rp14.818/kg dan Desember 2025 Rp15.050/kg.
Overview 2025 harga gula rata-rata Rp14.933/kg, year to date gula KPBN loss 5,91%. Faktor utama 2025 siklus fundamental masih berlanjut. Adanya impor gula Pebruari 2025 dan rembesanya GKR ke pasar GKP membuat penjualan gula sangat lambat diakhir semester 1, bahkan di musim giling PG di Jawa sama sekali tidak ada penjualan. Trend harga pasca giling kembali akan menguat dengan puncaknya pada bulan puasa yaitu Pebruari-Maret 2026.

