Pangkalan Bun, mediaperkebunan.id – Transformasi digital menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi secara transparan dan daya saing industri kelapa sawit, Okto Larido selaku Direktur PT Bhuana Raya Inovasi Cemerlang (BRIC), memaparkan peran teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui sistem AGATE dalam memperbaiki proses penilaian kualitas Tandan Buah Segar (TBS) dalam acara Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 Pangkalan Bun,
Okto menjelaskan bahwa industri sawit membutuhkan sistem penilaian yang objektif dan independen, layaknya teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam dunia olahraga. “Seperti VAR dalam olahraga yang memastikan keputusan adil melalui teknologi, industri sawit juga membutuhkan sistem independen untuk menjembatani perkebunan, pabrik, dan penerima akhir,” ujar Okto saat pemaparan pada hari Rabu (29/04/2026). Dengan pendekatan ini, konflik antara kebun, pabrik, dan pemasok dapat diminimalkan dan terjadi siklus fairness – accessibility – accountability – traceability – bankability – sustainability.
Okto menegaskan bahwa industri sawit membutuhkan sistem penilaian yang objektif dan transparan. “Dengan Computer Vision, AI/ML, dan sensor IoT, penilaian dapat dilakukan secara objektif dan real-time,” ujar Okto. Pendekatan ini menjadi penting untuk menciptakan keadilan antara kebun, pabrik, dan pembeli.
AGATE hadir sebagai solusi grading berbasis AI yang mampu menilai kualitas TBS secara menyeluruh, baik dari sumber internal maupun eksternal, hal ini dijelaskan dengan bukti nyata di TKS 2026. “AGATE adalah sistem grading dengan AI untuk semua sumber TBS (internal & eksternal),” jelas Okto. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan transparansi serta mengurangi potensi konflik dalam penentuan harga.
Dalam praktiknya, teknologi ini mampu memberikan dampak signifikan terhadap pengendalian kualitas. “Menjamin penilaian objektif, mencegah buah berkualitas rendah, dan menghindari konflik harga,” kata Okto. Dengan demikian, proses penerimaan bahan baku menjadi lebih selektif dan efisien.
Salah satu keunggulan utama AGATE adalah kemampuannya dalam mendeteksi kualitas buah secara akurat. “Teknologi AI canggih AGATE memungkinkan AGATE mendeteksi secara real-time setiap klasifikasi dan sub-klasifikasi TBS dengan akurasi hingga 98%,” ujar Okto. Hal ini memungkinkan pengawasan kualitas dilakukan secara konsisten tanpa bergantung pada subjektivitas manusia.
Okto juga menyoroti berbagai tantangan dalam sistem grading konvensional, seperti proses sampling manual, konflik harga, hingga keterbatasan tenaga kerja. Ia menegaskan bahwa pendekatan digital menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut secara menyeluruh.
Dari sisi operasional, AGATE mampu meningkatkan efisiensi pabrik kelapa sawit. Sistem ini memungkinkan proses grading dilakukan hingga kapasitas besar, sekaligus membantu pengambilan keputusan berbasis data. “Dengan data real-time, membantu kontrol OER, pengambilan keputusan & disiplin agronomi, dan meningkatkan profitabilitas perusahaan,” jelas Okto.
Berdasarkan hasil implementasi, terjadi peningkatan efisiensi ekstraksi minyak setelah penggunaan AGATE. Hal ini disebabkan oleh kualitas buah yang lebih terjaga serta berkurangnya losses selama proses pengolahan.
Okto menegaskan bahwa peningkatan OER bukan berasal dari teknologi secara langsung, melainkan dari perubahan sistem kerja. “Peningkatan OER berasal dari pembelian buah sesuai kualitas hingga penolakan buah berkualitas rendah secara otomatis sebelum diproses,” kata Okto. Dengan demikian, hanya buah dengan nilai ekonomi tinggi yang diproses di pabrik.
Selain itu, sistem ini juga berkontribusi dalam mengurangi kehilangan minyak. “Tidak ada penumpukan buah di tanah, tidak ada lagi dorongan dengan bulldozer, tidak ada kerusakan akibat benturan yang menyebabkan minyak tumpah,” ujar Okto. Kondisi ini memberikan dampak langsung terhadap efisiensi produksi.
Penerapan AGATE juga membawa perubahan perilaku di lapangan. Petani menjadi lebih disiplin dalam menjaga kualitas buah, sementara grader tidak lagi terbebani proses manual. Sistem yang transparan memungkinkan semua pihak memahami hasil grading secara objektif.
Dalam studi kasus yang dipaparkan, penggunaan AGATE pada buah eksternal mampu meningkatkan efisiensi dan stabilitas margin. Buah berkualitas rendah dapat ditolak atau disesuaikan harganya, sehingga potensi kerugian dapat ditekan.

“Dapat dilihat bahwa saat digunakan AGATE walau TBS terima, olah, dan produksi CPO menurun, OER-nya malah meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, pada buah internal, sistem ini membantu meningkatkan disiplin dan kontrol kualitas berbasis data. Okto menekankan bahwa perubahan ini berdampak pada peningkatan kinerja kebun dan pabrik secara keseluruhan.
Ia juga menegaskan bahwa AGATE memiliki nilai strategis bagi perusahaan. “Dasar objektif untuk keputusan, investor, dan audit,” jelas Okto. Dengan dukungan data yang akurat, perusahaan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan terukur.
Sebagai penutup, Okto menekankan pentingnya transformasi digital dalam industri kelapa sawit. “Otomatisasi QC dan dashboard real-time untuk keputusan lebih cerdas,” pungkas Okto.

