Surabaya, mediaperkebunan.id – Program bongkar ratoon tebu dan perluasan lahan (ekstensifikasi) menjadi strategi Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah menargetkan swasembada gula konsumsi di tahun 2026 – 2027 mendatang.
Hal tersebut juga telah disampaikan oleh Direktur Perkebunan Ditjen Perkebunan, Ebi Rulianti dalam wawancara bersama Media Perkebunan Agustus 2025. “Prioritas pertama adalah tebu yaitu untuk mencapai swasembada gula konsumsi.” jelas Ebi Rulianti, mengutip dari mediaperkebunan.id.
Bersama berbagai pihak, Direktorat Perbenihan perkebunan telah turun ke lapangan untuk menambah kebun sumber benih bagi tebu yang termasuk ke dalam tujuh komoditas utama.
Terkait dengan hal terebut, Adi Prasongko dari PT Kebun Tebu Mas Indonesia menyampaikan bahwa ia mendukung program pemerintah terkait perluasan dan bongkar ratoon tebu. Menurutnya, hal ini sangat penting dan memerlukan insentif dari pemerintah.
“Saya mendengar program 2026 nanti ada program perluasan bongkar ratoon, kalau memang ada maka persiapannya pun juga harus mulai sekarang,” ujar Adi saat diwawancarai oleh Media Perkebunan di acara Sugarex Indonesia 2025 pada hari Rabu (12/11/2025).

Melihat kondisi saat ini, Adi melihat adanya keterlambatan pendanaan yang mengakibatkan beberapa hambatan di lapangan. “Sekarang saja sudah masuk musim hujan, bongkar ratoon juga menjadi sulit. Terkait dengan pembibitan yang nanti akan disiapkan oleh penangkar juga harus disiapkan dari sekarang dan diberi tahu akan ditanam dimana,” katanya.
Selain itu, menurut Adi dari sekarang juga perlu diberi tahu perusahaan-perusahaan mana saja yang akan mendapatkan program bongkar ratoon maupun perluasan. Selain itu, Adi pun menyoroti varietas bibit bululawang yang harus diganti.
“Ganti varietas bululawang, masih banyak varietas-varietas lain yang bagus. Mungkin persoalannya adalah petani mau bongkar tapi biayanya mahal. Oleh karena itu pemerintah harus memberikan insentif. Untuk bongkar ratoon dan perluasan, sekaligus harus juga ganti varietas,” ujar Adi lagi,
Menurutnya, kalau tetap pakai varietas bululawang maka akan sulit mencapai target karena varietas tersebut sudah sangat lama ada di Indonesia. “Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) punya banyak varietas tetapi keberanian untuk mencoba mungkin belum ada. Yang penting saat bongkar ratoon harus ganti varietas,” tambah Adi.
Soal Sumber Daya Manusia (SDM), Adi menilai program ini harus mengikutsertakan para petani tebu karena tidak semua menjadi anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). “Kemudian karena menyangkut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), perlu melibatkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Yang memverifikasi harus PPL,” pungkasnya.

