Pangkalan Bun, mediaperkebunan.id – Serangan penyakit Ganoderma masih menjadi ancaman serius bagi industri kelapa sawit nasional. Dalam pemaparannya di acara Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 Pangkalan Bun, Direktur Utama PT Pascal Biotech Indonesia, Miftachul Anwar, mengungkapkan bahwa luas serangan penyakit ini telah mencapai angka yang mengkhawatirkan dan berpotensi terus meningkat jika tidak ditangani secara serius.
“Serangan Ganoderma ini sangat mengerikan, luasnya sudah mencapai jutaan hektare dan akan terus bertambah jika tidak kita tangani sejak dini,” ujar Anwar pada hari Rabu (29/04/2026). Menurutnya, Ganoderma dikenal sebagai silent killer karena gejalanya sering tidak terlihat di awal, namun ketika sudah muncul di permukaan, kondisi tanaman biasanya sudah dalam tahap parah.
“Ganoderma itu laten, ketika terlihat biasanya infeksinya sudah 70 sampai 80 persen di dalam tanah,” jelas Anwar.
Anwar menegaskan bahwa dampak serangan Ganoderma tidak hanya merugikan dari sisi teknis budidaya, tetapi juga berdampak besar terhadap ekonomi nasional. Penurunan produktivitas sawit akibat penyakit ini dapat menyebabkan kerugian hingga triliunan rupiah setiap tahun.
“Kerugian akibat Ganoderma bisa mencapai belasan triliun rupiah per tahun karena produksi turun signifikan,” kata Anwar.
Ia juga menyebutkan bahwa deteksi dini menjadi tantangan utama karena gejala sering muncul ketika infeksi sudah mencapai lebih dari 60 persen, sehingga pengendalian menjadi jauh lebih sulit.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Anwar menekankan pentingnya pendekatan preventif dibandingkan kuratif. Hingga saat ini, belum ada metode pengobatan yang benar-benar efektif untuk menyembuhkan tanaman yang sudah terinfeksi berat.
“Untuk Ganoderma, pencegahan jauh lebih penting karena sampai sekarang belum ada solusi kuratif yang benar-benar efektif,” jelas Anwar.
Actino Plus: Biocontrol Berbasis Mikroba Streptomyces
Sebagai solusi, Pascal Biotech menghadirkan Actino Plus, produk berbasis bakteri tanah yang memiliki fungsi sebagai biocontrol, antibiotik alami, pupuk, sekaligus stimulan pertumbuhan tanaman.
“Actino Plus ini berbasis bakteri Streptomyces yang bisa berfungsi sebagai pengendali hayati, sekaligus membantu pertumbuhan tanaman,” ujar Anwar.
Produk ini bekerja dengan pendekatan biologis untuk menekan perkembangan patogen di dalam tanah sekaligus memperbaiki kondisi perakaran tanaman. Hasil uji coba di lapangan menunjukkan bahwa tanaman yang menggunakan Actino Plus memiliki sistem perakaran yang lebih kuat dan pertumbuhan yang lebih optimal dibandingkan tanpa perlakuan. “Setelah dua kali aplikasi, perkembangan akar jauh lebih baik dan tanaman terlihat lebih sehat,” kata Anwar.
Dari sisi ekonomi, penggunaan Actino Plus dinilai cukup efisien dibandingkan potensi kerugian yang dapat dicegah. Dengan investasi yang relatif kecil, petani dapat melindungi nilai produksi sawit dalam jangka panjang.
“Dengan biaya yang relatif kecil, kita bisa menyelamatkan potensi produksi yang nilainya jauh lebih besar,” jelas Anwar. Ia menambahkan bahwa pendekatan pengendalian Ganoderma sebaiknya dilakukan secara komprehensif, termasuk kombinasi dengan agen hayati lain dan praktik budidaya yang tepat.
“Jika produksi TBS/tahun 200kg dengan harga tbs 3100 dan umur tanaman 25 tahun dengan SPH 143, nilai produksi Rp 2.216.500.000. dengan investasi actino plus 76.743.333 terselamatkan 2.139.756.667, nilai presentase diproduksi 3 persen,” jelas Anwar.

Dalam suatu percobaan dalam kebun di daerah Jambi, terlihat setelah 2x aplikasi Actino Plus 50 gram selama ampir dua tahun, tanamannya sampai sekarang karena ditanam sekarang masih segar dan bonggolnya sudah di atas 8 cm.
Namun, tanaman yang tanpa perlakuan Actino Plus jumlah perakaran yang terlihat di bagian bawah sedang di likungan samping. Kemudian tidak banyak dan cenderung tidak berkembang, lebih kecil bonggol (hanya 6 cm) dan tinggi tanaman dan jumlah daun lebih sedikit.
Kemudian, percobaan lain dilakukan dan ditemukan pada tanaman dengan perlakuan 10 gr Actino Plus dari kecambah ke PN setelah 3 bulan, di bagian bawah dan samping lingkaran tanah di dalam polybag berkembang lebih banyak. Sedangkan tanaman tanpa Actino Plus jumlah perakaran yang terlihat hanya di bagian bawah sedang di lingkaran samping tidak banyak dan cenderung tidak berkembang.
Selain Actino Plus, Pascal Biotech juga tengah menyiapkan inovasi produk baru berbasis mikroorganisme yang ditargetkan mendukung pengelolaan kebun sawit secara lebih berkelanjutan.
Salah satu produk yang akan segera diluncurkan adalah berbasis kelompok Hymenomycetes dalam bentuk pelet. Produk ini dirancang untuk membantu mempercepat dekomposisi biomassa sekaligus mengikat karbon di dalam tanah.
“Kami akan meluncurkan produk baru berbasis Hymenomycetes yang mampu mengikat karbon dan menghambat perkembangan hama serta mikroba merugikan,” pungkas Anwar.
Produk ini diharapkan dapat menjadi solusi tambahan dalam pengelolaan limbah organik sekaligus meningkatkan kesehatan tanah di perkebunan sawit.
Serangan Ganoderma menjadi tantangan besar yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Melalui inovasi seperti Actino Plus dan pengembangan produk berbasis mikroba lainnya, Pascal Biotech menawarkan pendekatan baru yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi jangka panjang.
Dengan mengedepankan strategi preventif dan teknologi biocontrol, industri kelapa sawit diharapkan mampu menekan kerugian sekaligus meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

