Jakarta, mediaperkebunan.id – Industri kelapa sawit Indonesia yang telah berusia lebih dari satu abad yakni 115 tahun bersiap menghadapi transformasi besar. Dalam gelaran diskusi bersama media dan Press Conference 4th Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia TPOMI 2026, tantangan masa depan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) kini tidak lagi sekadar mengejar kapasitas produksi, melainkan bagaimana menciptakan operasional yang super efisien guna mempertahankan rendemen tinggi kebun, menekan emisi menuju dekarbonisasi, serta memangkas limbah secara signifikan.
Guna menjawab kebutuhan tersebut, gelaran 4th TPOMI (Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia) 2026 hadir sebagai ajang utama sekaligus wadah strategis yang mempertemukan seluruh ekosistem kelapa sawit nasional.
“TPOMI adalah forum transformasi dan talenta pabrik kelapa sawit Indonesia. Ajang ini menjembatani praktisi, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, vendor teknologi, media, hingga mahasiswa,” Ujar Ir. Posma Sinurat, M. T, Ketua Bidang PKS Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) sekaligus Ketua Panitia TPOMI 2026, dalam diskusi Bersama Media. (2/06/2026)
Momentum 115 Tahun Sawit: Berpaling ke Smart & Data-Driven Mill
Diselenggarakan pada 8- 10 Juli 2026, forum ini bertepatan dengan momentum 115 tahun sawit komersial di Indonesia. Dengan mengusung tema “Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045”, TPOMI fokus pada pembaruan teknologi dan talenta (Updating Technology & Talent Palm Oil Mill and Downstream).
Fokus updating teknologi dari pabrik kelapa sawit reaktif menuju Smart, Prediktive, dan Data–Driven Palm Oil Mill. Pada banyak pabrik pengambilan keputusan operasional masih tergantung pada pengalaman individu, pencatatan manual dan reaksi setelah masalah terjadi. TPOMI mendorong adopsi teknologi yang langsung menyentuh profititablitas yaitu losses turun, downtime turun, energi lebih efisien dan keputusan lebih akurat. Teknologi meliputi AI, IoT, otomatisasi, predictive maintenance dan sustainability. “Prinsipnya teknologi harus aplikatif, terukur dan memberi dampak nyata terhadap efisiensi, produktivitas, K3 dan keberlanjutan pabrik,” kata Posma.
TPOMI mendorong adopsi teknologi modern yang berdampak langsung pada profitabilitas dan keberlanjutan pabrik, antara lain:
- Artifisial Intelijen (AI) & IoT: Bukan lagi konsep masa depan, IoT kini diaplikasikan untuk memantau temperatur, tekanan, getaran mesin, hingga kinerja stasiun kritikal (boiler, sterilizer, press). AI digunakan untuk membaca pola kerusakan mesin, memprediksi kehilangan minyak (oil losses), dan membantu manajemen mengambil keputusan berbasis data real-time.
- Otomatisasi: Diterapkan pada titik-titik kritis pabrik demi menjaga konsistensi operasi, mengurangi variasi akibat kesalahan manusia (human error), serta meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
- Solusi Isu Utama PKS: Menjadi ruang bedah solusi untuk mengatasi masalah kernel loss, waktu henti produksi (downtime), efisiensi energi, tata kelola lingkungan (sustainability), hingga pengolahan limbah cair sawit (POME).
Harmoni Teknologi dan Kualitas Manusia
Dalam TPOMI menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan memberikan hasil optimal tanpa didukung oleh kualitas manusianya. Oleh karena itu, pembaruan teknologi di dalam forum TPOMI selalu berjalan beriringan dengan pembaruan kompetensi SDM agar talenta industri mampu mengoperasikan sistem modern secara disiplin dan akurat.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap komitmen industri, TPOMI 2026 juga akan menganugerahkan Medbun Award. Penghargaan ini diberikan khusus kepada perusahaan-perusahaan yang menunjukkan komitmen kuat dalam mengelola pabrik kelapa sawit secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Selain itu dalam diskusi dan Konferensi Pers TPOMI ini yang menjadi sorotan utama tertuju pada inovasi teknologi pengolahan sawit ramah lingkungan, efisiensi rantai pasok, hingga tantangan krusial di sektor hulu. Lompatan teknologi dari konvensional (wet process) menuju proses kering (dry process) digadang-gadang menjadi kunci dekarbonisasi sekaligus hilirisasi produk bernilai tambah tinggi.
Revolusi Dry Process: Solusi Minim Limbah dan Kaya Vitamin
Selama ini, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Indonesia mayoritas mengandalkan wet process yang membutuhkan uap panas (steam) intensif. Konsekuensinya, proses ini menghasilkan emisi tinggi serta limbah cair yang masif berupa Palm Oil Mill Effluent (POME).
Sebagai alternatif masa depan, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menawarkan konsep dry process. Krisna Septiningrum, SSi, MSi, PhD, Direktur Industri Kemurgi, Oleokimia, dan Pakan Kemenperin, menjelaskan bahwa teknologi baru ini jauh lebih efisien karena beroperasi pada suhu yang lebih rendah dan memanfaatkan proses enzimatis serta penambahan mineral.
- Mengenal DPMO: Melalui dry process, produk yang dihasilkan bukan lagi Crude Palm Oil (CPO), melainkan Degummed Palm Mesocarp Oil (DPMO) atau Palm Mesocarp Oil (PMO). Berdasarkan Permenperin No. 32 Tahun 2024, perbedaan mencolok terletak pada kadar kontaminan (impurities), di mana PMO mematok standar maksimal 0,2%, jauh lebih ketat dibanding CPO yang berada di angka 0,45%.
Beberapa keunggulan utama dari dry process meliputi:
- Ramah Lingkungan: Menurunkan emisi karbon sekitar 7% dibanding proses basah dan memangkas limbah cair secara drastis karena tidak menggunakan steam.
- Kaya Nutrisi: Menjaga kandungan Vitamin A dan E tetap tinggi. Inovasi ini dapat menjadi substitusi impor bahan baku suplemen softgel di Indonesia.
- Desain Modular: Mesin dirancang dalam skala kecil (5–10 ton per jam). Karena tidak membutuhkan sumber air besar, pabrik bisa didirikan langsung di dekat perkebunan.
Saat ini, proyek percontohan (pilot project) berskala laboratorium hingga gudang (warehouse) telah berjalan di Yogyakarta dan Sukabumi, dengan rencana ekspansi ke Labuhan Batu. Jika penandatanganan MoU rampung tahun ini, pembangunan fisik ditargetkan mulai berjalan tahun depan. Untuk skala miniplant berkapasitas 2 ton per jam, estimasi belanja modal (capex) berada di kisaran Rp13 Miliar (belum termasuk biaya operasional/opex).
Sentimen Pasar: Dukungan GAPKI dan Realitas Sektor Hulu
Meski teknologi ini menjanjikan angin segar, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang juga hadir dalam diskusi mengingatkan pentingnya memperkuat sektor hulu sebelum melangkah terlalu jauh ke hilir.
R Azis Hidayat, Ketua Bidang Perkebunan GAPKI, memaparkan performa industri yang terus melaju positif. Sepanjang tahun 2024, produksi sawit naik 7,2% menjadi 51,686 juta ton dengan nilai ekspor menembus Rp 620 Triliun (asumsi kurs Rp 17.000/USD). Tren kenaikan ini berlanjut hingga Maret 2026 yang mencatatkan angka 15,5 juta ton, didorong oleh melonjaknya konsumsi biodiesel domestik.
Meski mendukung efisiensi teknologi baru, GAPKI menekankan beberapa poin kritis yang harus segera dibenahi:
- Peta Jalan PKS Nasional: Pemerintah perlu menyusun roadmap kapasitas PKS agar tidak terjadi kelebihan kapasitas (over capacity) serta memetakan posisi PKS swadaya. Radius maksimal antara kebun petani dan pabrik idealnya tidak lebih dari 50 km dengan waktu tempuh di bawah 24 jam demi menjaga kualitas Tandan Buah Segar (TBS).
- Pembenahan Hulu: Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) saat ini baru mencapai sepertujuh dari target. GAPKI kini tengah membentuk konsorsium untuk mendatangkan klon unggul yang tahan penyakit Ganoderma serta serangga penyerbuk dari Afrika.
- Aspek Hukum & Kemitraan: Penyelesaian sawit di kawasan hutan dan penguatan kemitraan tata kelola bahan baku antara PKS dan petani mandiri harus menjadi prioritas. Terlebih, sertifikasi ISPO sektor hilir akan diwajibkan penuh pada tahun 2027.
Menjaga Keberlanjutan Transisi
Ketua Panitia TPOMI 2026 sekaligus Ketua Bidang PKS, Ir. Posma Sinurat, MT, turut mengonfirmasi bahwa teknologi dry process ini sangat dinantikan pelaku industri karena mampu menekan emisi limbah cair secara signifikan (di mana emisi limbah cair konvensional saat ini mencapai 25%).
Kemenperin juga menegaskan bahwa penerapan wet process tidak akan dihentikan secara mendadak demi menghindari guncangan industri akibat lompatan skala operasional yang terlalu ekstrem. Sebagai stimulasi, pemerintah menyiapkan berbagai insentif bagi industri yang mengadopsi teknologi lokal berkadar TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) tinggi, seperti mekanisme reimbursement biaya investasi hingga 30–35%, pemanfaatan skema KIPK, hingga pengurangan bunga bank sebesar 5%.
Transformasi menuju dry process menjanjikan masa depan sawit Indonesia yang lebih hijau dan bernilai tinggi. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada kejelasan regulasi, standarisasi SNI baru untuk PMO, kemudahan perizinan, serta jaminan kelancaran arus kas (cash flow) bagi para petani rakyat yang menjadi ujung tombak pasokan energi hijau ini.

