Bandung, Mediaperkebunan.id – Tarif 32% yang dikenakan Amerika Serikat pada Indonesia, menurut Posma Sinurat, Ketua Bidang Pabrik Kelapa Sawit P3PI pada 3rd TPOMI 2025 yang diselenggarakan P3Pi dan Media Perkebunan, bisa berdampak pada penurunan harga TBS , tarif 32% membuat CPO Indonesia tidak kompetitif di pasar Amerika Serikat; persaingan dengan Malaysia meningkat, terutama karena Malaysia tidak terkena tarif AS yang sama (Malaysia 24%). Karena itu setiap pelaku usaha PKS harus menyiapkan skenario terburuk.
PKS perlu fokus pada tiga operasional yaitu cost management, supervisi ketat (disiplin), training. Cost management bukan sekedar memotong biaya produksi , tetapi memprioritaskan pengeluaran hanya untuk aktivitas yang berkaitan dengan produktivitas, keperluan bukan keinginan atau kesukaan.
Dua poin utama adalah identifikasi titik-titik pemborosan (stasiun utama dan stasiun pendukung); efisiensi konsumsi bahan dan energi (solar, listrik, air dan steam). Diidentifikasi titik-titik pemborosan (waste point) di stasiun utama yaitu stasiun penerimaan, stasiun loading ramp , stasiun sterilizer , stasiun treshing, stasiun pressing, stasiun clarification. Pemborosan terbesar ada pada stasiun utama. Setelah itu stasiun pendukung yaitu boiler, engine room, WTP dan ETP.
Dalam efisiensi solar harus harus dipahami konsumsi bahan bakar genset, berapa liter per kwh, rata-rata 0,21-0,4 liter/kwh. Lihat spesifikasi genset atau tanyakan ke suplier genset. Bukan hanya genset tetapi semua yang menggunakan bahan bakar. Konsumi listrik dengan memperhatikan lampu di perumahan, kantor, pabrik dan jalan. Contoh biaya listrik genset Rp2.700/kwh, PLN Rp1.400/kwh, turbin Rp750/kwh. Jangan sampai ada lampu hidup siang hari.
Supervisi ketat secara fisik dan monitoring hasil kerja sangat perlu dilakukan jika anggota team belum dapat atau terbiasa secara mandiri. Supervisi ketat tidak perlu dilakukan secara fisik jika anggota team sudah bisa bekerja sendiri. Area supervisi ketat adalah throughput, losses, kualitas, biaya.
Supervisi ketat meliputi kepatuhan terhadap SOP dan Intruksi Kerja (IK). Jangan diasumsikan bahwa operator, mandor, dan asisten benar-benar telah memahami SOP dan IK. Tetap pastikan bahwa mereka benar-benar paham apa itu SOP dan IK dan apa akibatnya jika dilakukan tidak benar. Pastikan operator benar-benar memahami isi SOP dan IK, mampu dan mau melakukannya. Jika tidak mampu ajari. Jika tidak mau ingatkan , masih tidak mau keluarkan.
Step losses terdiri dari step 1 pastikan operarator , mandor dan asisten mengetahui standar oil dan kernel loss. Step 2 jika tidak tercapai, pastikan untuk mencari root cause. Ingat bahwa root cause ada pada input atau process atau men. Step 3 jika penyebab tidak tercapainya standar sudah diketahui ambil tindakan real. Step 4 monitor hasilnya. Kerugian jika losses diatas standar rendemen rendah, biaya yang dikeluarkan sama tetapi hasil lebih rendah , biaya produksi tinggi (rp/kg palm product).
Tiga fokus training yaitu memastikan dan meningkatkan keahlian yaitu men-machine-method-material; memastikan efisiensi peralatan, efisiensi adalah input-process-output; memastikan kemampuan supervisi mandor-asisten-asisten manager.
Keahlian, berikan training pada anggota team untuk memastikan men cara memimpin anggota team mencapai target ; machine cara merawat dan mengoperasikan mesin; metode melakukan pekerjaan SOP dan IK; material TBS dan setiap input yang masuk ke mesin berikutnya. Apakah operator, mandor dan asisten benar-benar memahami 4 M.

