Bandung, mediaperkebunan.id – Petani berhak sejahtera. Sudah 110 tahun sawit dikomersialkan di Indonesia tetapi tetap 1001 permasalahan yang tidak kunjung selesai. Petrus Tjandra dari P3PI/ PT Agro Investastama Group menyatakan hal ini pada 3rd TPOMI 2025 yang diselenggarakan Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia dan Media Perkebunan.
Salah satunya adalah biaya logistik tinggi, mula dari mengangkut TBS ke PKS, CPO dari tangki PKS yang pada umumnya ada di Sumatera dan Kalimantan ke industry hilir yang sebagian besar ada di Jawa, kemudian produk jadi seperti minyak goreng didistribusikan lagi ke seluruh Indonesia. Secara umum biaya logistik adalah 14,2% dari PDB. PDB Indonesia tahun 2024 Rp22.139 triliun, maka biaya logistik Rp3.163 triliun.
“Hal inilah yang membuat saya melakukan pencarian dan akhirnya ketemu pabrik teknologi SPOT (Steamless Palm Oil Technology),” kata Petrus.
Dengan teknologi ini TBS yang dipanen di kebun langsung dibrondol sehngga hanya brondolanya yang diangkut ke pabrik SPOT. Palm Mesocarp Oil yang diproduksi pabrik SPOT di lokasi yang sama diolah fitronutrent, pabrik minyak goreng mini mengolah jadi green minyak goreng, pabrik bioenergy menghasilkan green bio-gasoline, green biodiesel dan green avtur. Tankos bisa dipirolisis jadi bio charcoal untuk pupuk, asap cair, moab dan syngas yang dipergunakan untuk memanaskan air pada dan pembangkit listrik pabrik SPOT.
Buah yang dipanen petani ada yang mentah , rendemen 14-18%, kadar ALB 1,6-1,8%; buah agak matang rendemen 19-25%, ALB 1,7-3,3%; buah matang rendemen 24-30, ALB 3,8-4; buah lewat matang rendemen 18-31%,ALB 3,8-6,1. PKS minta buah matang tetapi petani banyak memanen agak matang takut busuk di jalan.
Pada PKS konvensional karena yang direbus tandan buah segar oil loss tankos 0,44%, Ketika fiber dipress 0,48%, karena fiber dan nut dipress maka loss oil nut 0.084%, final effluent 0,6% sehingga total losses 1,6%. Kernel yang pecah diatas 15% . Sedang pada SPOT , brondolan dilakukan lagi pemisahan mesocarp dan kernel, sehingga hanya mesocarp yang dipress dan oil lossesnya 0,24%. Kernel yang pecah diatas 5%.
Dari 100 ton TBS dilakukan pembrodolan dihasilkan 74 ton buah sawit dengan hasil samping tankos 22 ton, debu dan pasir 4 ton. Buah dikeringkan dan dengan demesocarper dipisahkan kernel dan mesocarp ada 59 ton mesocarp dan 15 ton kernel. Mesocarp dimasak dan feeding dengan air panas dan tekanan kemudian dipress menghasilkan minyak sawit 40 ton dan pressed cake 15 ton. CPO 40 ton disaring menghasilkan 20 ton PMO dan filtrate cake 4 ton. PMO adalah minyak sehat sebab nutrisi sawit masih tersimpan beda dengan CPO yang sudah hilang.
Salah satu masalah lain pada PKS konvensional adalah kandungan 3MPCD yang dikuatirkan bisa menyebabkan kanker pada manusia. UE menetapkan kadar maksimum 3MPCD 1,25 mg/kg minyak sedang FAO/WHO 0,4 mg/kg. Penyebabnya adalah penggunan steam pada sterilizer, digester, tangki, klarifikasi, dengan kandungan klor pada steam setiap proses 10 ppm. Solusi yang disediakan sebuah perusahaan adalah mencuci minyak sawit pada mesin purifier perusahaan tersebut supaya bebas 3MPCD.
“Bagi saya daripada mencuci minyak maka lebih baik dihasilkan minyak yang tidak mengadung 3MPCD. PMO yang dihasilkan pabrik SPOT menurut hasil penelitian FMPA UI tidak mengandung 3MPCD,” katanya.
Dari sisi lingkungan perkebunan kelapa sawit punya kemampuan menyerap CO2 dibanding tanaman kehutanan dan bisa digunakan untuk rehabilitasi lahan marginal. Sawit sebagai sumber emisi GRK adalah limbah cair PKS yang melepaskan gas metana ke udara. Semakin besar produksi CPO, semakin banyak limbah yang dihasilkan semakin banyak emisi GRKnya. KLH juga sudah melarang penggunaan limbah cair pada land application sebagai pupuk.
Pabrik SPOT karena tidak menghasilkan POME (limbah cair) emisi GRK berkurang sampai 79%, dari 1.296,1 kg CO2 e/ton minyak menjadi 269,7 kg. Jadi pabrik SPOT bisa menghasilkan lebih banyak PMO tetapi emisi GRK berkurang. PKS konvensional harus besar, perlu air, limbah banyak. Sedang SPOT bisa kecil atau besar, tidak perlu air, minim limbah. Teknologi SPOT merupakan solusi bagi petani yang ingin memiliki pabrik. Cocok dibangun di wilayah yang sedikit PKSnya sehingga harga TBS yang diterima petani rendah yaitu di Banten, Gorontalo, Bengkulu, Papua Barat, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat.

