Jakarta, mediaperkebunan.id – Industri kelapa sawit Indonesia sedang berada pada titik kritis yang akan menentukan masa depannya. Walaupun selama puluhan tahun menjadi komoditas strategis nasional dan penopang perekonomian dengan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja, namun beberapa tahun terakhir kinerja industri sawit menunjukkan tekanan yang signifikan.
Produksi cenderung stagnan bahkan menurun, meski konsumsi domestik terus meningkat . Pada tahun 2022 produksi sawit tercatat 51,248 juta ton, naik menjadi 54,844 juta ton pada 2023, kemudian kembali menurun menjadi 52,752 juta ton pada 2024. Hingga pertengahan 2025, jumlah produksi mencapai 27,889 juta ton dari prediksi 57 juta ton, angka yang belum menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil.
Di sisi lain, konsumsi sawit dalam negeri meningkat tajam dari 21,14 juta ton pada 2022 menjadi 23,859 juta ton pada 2024, terutama ditopang kebutuhan pangan dan program biodiesel. Sementara ekspor justru menurun signifikan dengan nilai yang anjlok dari USD 39,069 miliar pada 2022 menjadi hanya USD 17,277 miliar pada 2025.
Di tengah tekanan tersebut, ancaman terbesar terhadap keberlanjutan industri bukan berasal dari pasar global melainkan penyakit mematikan Ganoderma boninense. Penyakit yang menyerang pangkal batang ini menyebabkan penurunan produksi ekstrem hingga kematian tanaman dan deteksi dini sangat sulit dilakukan karena gejalanya mirip gangguan hara atau penyakit lain.
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ditjen Perkebunan, Baginda Siagian bahkan memperingatkan bahwa apabila Indonesia gagal mengendalikan Ganoderma dalam 15–20 tahun ke depan, maka pada 2060–2070 kelapa sawit Indonesia dapat terancam punah.
Peringatan tersebut diperkuat dengan data Ditjen Perkebunan yang menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Selama periode 2018–2024, total luas lahan yang terinfeksi mencapai 2.097.184,33 hektar dan terus bertambah setiap tahun. Ini membuktikan bahwa penyebaran Ganoderma bersifat progresif, agresif, dan telah mengancam jutaan hektar perkebunan sawit.
Dampak kerugian akibat Ganoderma juga terlihat nyata di sebuah perusahaan. Evaluasi pada kebun di lahan gambut kelas 3 seluas 3.540 hektare menunjukkan bahwa tanaman hanya mampu menghasilkan 13.682 kg TBS per hektar per tahun, jauh di bawah potensi ideal 84.735 kg per hektar per tahun.
Akibatnya, kebun tersebut kehilangan potensi produksi sebesar 36,3 juta kg TBS per tahun atau setara kerugian finansial sebesar Rp 87 miliar. Nilai ini menggambarkan betapa seriusnya ancaman Ganoderma terhadap daya saing industri sawit nasional.

Melihat urgensi tersebut, Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (p3pi) akan menyelenggarakan 3rd ISGANO 2025 (International Symposium Ganoderma) pada tanggal 10-12 Februari 2026 mendatang di Adimulia Hotel, Medan, Sumatera Utara. Tahun ini, 3rd ISGANO 2025 akan dihadiri oleh berbagai narasumber internasional seperti CIRAD Prancis, MPOB Malaysia, Direktorat Jenderal Perkebunan, Konsorsium GAPKI dan para praktisi di kebun.
Kehadiran para narasumber global ini memberikan peluang besar bagi peserta untuk mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai riset terkini, teknologi deteksi dini, hingga pendekatan manajemen terpadu yang telah diuji. Tak hanya materi, pada hari ketiga peserta akan mengunjungi kebun yang terserang Ganoderma dan sudah ada tindakan pengendaliannya.
Sekretaris Jenderal P3PI, Hendra J. Purba, menegaskan bahwa penyelesaian masalah Ganoderma tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri dan membutuhkan gerakan bersama seluruh pihak. “Indonesia tidak boleh kalah oleh Ganoderma. Masalah ini hanya bisa diselesaikan jika seluruh pihak bergerak bersama mulai dari peneliti, perusahaan, petani, pemerintah, dan industri teknologi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa urgensi untuk bertindak tidak boleh ditunda. “Keberlanjutan industri sawit Indonesia sangat bergantung pada kemampuan kita menghadapi ancaman ini. Jika kita ingin sawit tetap menjadi penopang ekonomi bangsa di masa depan, maka pengendalian Ganoderma harus menjadi prioritas bersama. ISGANO hadir untuk tujuan itu, menyatukan para ahli terbaik yang membahas temuan riset terbaru, pengalaman langsung di lapangan dan merumuskan langkah konkret untuk mengendalikan Ganoderma,”.
Dengan latar belakang ancaman Ganoderma yang kian meluas, 3rd ISGANO 2025 menjadi forum yang sangat penting untuk diikuti oleh seluruh pemangku kepentingan sawit. Melalui diskusi ilmiah, pemaparan riset, pemaparan praktisi mengenai hasil-hasil yang sudah dilakukan di lapangan, dan kolaborasi lintas negara, 3rd ISGANO 2025 hadir untuk memperkuat industri sawit nasional dalam mengendalikan Ganoderma dan menyelamatkan masa depan sawit Indonesia.
Selain itu, Hendra juga mengungkapkan bahwa kedepannya ada langkah strategis dari Direktorat Jenderal Perkebunan untuk memperkuat upaya nasional dalam mengendalikan Ganoderma. “Akan ada gerakan nasional pengendalian Ganoderma oleh Ditjenbun. Ini merupakan langkah luar biasa yang dilakukan pemerintah untuk bersama-sama mengendalikan Ganoderma,” tambahnya.

