Bandung, Mediaperkebunan.id – ESG PTPN dikabarkan menyentuh nomor 2 di dunia, berikut rencana PalmCo untuk dapat menjadi yang terdepan lewat digitalisasi.
PTPN Group berkomitmen kuat dalam penerapan ESG untuk mendukung bisnis perkebunan berkelanjutan. Dalam bidang lingkungan PTPN lewat PalmCo telah memiliki 65 sertifikat RSPO, menggesa dekarbonisasi melalui 12 Energi Baru Terbarukan yaitu biogas, dan akan terus ditingkatkan jumlah dan volumenya.
Hasil rating sustainalityc atas ESG PTPN adalah 17,2 (risiko rendah untuk kelestarian lingkungan) berada di posisi nomor dua dari seluruh perusahaan pertanian dunia. Jatmiko Santosa, Dirut PTPN 4/PalmCo menyatakan hal ini ketika menjadi keynote speaker pada 2nd TPOMI 2024.
PTPN 3 Holding menggabungkan semua PTPN 1-14 dalam tiga perusahaan besar, salah satunya PalmCo (PTPN 4) yang merupakan gabungan dari PTPN 4,5,6 dan 13, kebun PTPN 3 spin off ke PalmCo. Kebun sawit yang dimiliki PTPN 1 (SupportingCo) yaitu dari PTPN 1.2, 7. 8 dan 14 juga dioperasikan oleh PalmCo. Dengan luas 583.000 ha menjadi perusahaan kebun sawit terluas di dunia, sedikit diatas BUMN Malaysia Sime Darby, yaitu 578.000 ha.
Oleh pemegang saham PalmCo tidak boleh berhenti sebagai yang terluas saja tetapi visi menjadi yang terdepan dalam operasi, kinerja dan lingkungan serta tata kelola yang memberi nilai tambah pada pemangku kepentingan. PalmCo ditugaskan untuk pemerintah melakukan 3 program strategis nasional yaitu hilirisasi, berperan aktif dalam PSR, kembangkan energi baru dan terbarukan.
Hilirisasi karena selama ini PTPN terlena di hulu sekarang masuk ke hilir.Tahun 2026 produksi minyak goreng 4 x lipat dari 460.999 ton menjadi 1,8 juta ton, berperan aktif dalam PSR karena perluasan lahan sudah tidak mungkin sehingga yang bisa dilakukan adalah intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas. Sekitar 60.000 lahan plasma milik 120.000 petani siap diremajakan. Akselerasi pengembangan energi baru dan terbarukan, menghasilkan 3 juta mmBTU biogas, 1,3 juta mmBTU bio-CNG, 433 ribu biodiesel.
Goal besar PalmCo yang digariskan pemegang saham menunjukkan perusahaan telah mengantisipasi tren global yang ada pada industri serta mendorong untuk membangun dan menjalankan berbagai inisiatif , diantaranya pengembangan inovasi dan TI serta penguatan SDM di perkebunan,
Penggabungan perusahaan meskipun sesama PTPN tetapi karakter beda, dengan diversitas yang tinggi, sistem dan teknologi juga berbeda-beda termasuk kelakuan (budaya perusahaan). Produktivitas tertinggi 5,5 ton CPO/ha/tahun dan terendah 3,1 ton CPO/ha/tahun, yang pada dasarnya menjadi peluang bagi PalmCo untuk melakukan lompatan kinerja operasional
Program pertama adalah menciptakan plaform bersama sehingga direksi punya kontrol. Nasihat direksi sebelumnya yang menyatakan bahwa pupuk terbaik adalah jejak kaki direksi. “Dengan luas 600.000 ha perlu waktu lama bagi direksi menjejakan kakinya di setiap kebun. Karena itu saya ciptakan tapak digital sehingga semuanya bisa terjangkau.Membutuhkan pengembangan inovasi serta implementasi teknologi informasi yang mumpuni, bersandar pada SDM unggul,” katanya.
Proyek digitalisasi sawit Palm.co adalah digital farming yaitu aplikasi pencatatan hasil produksi sawit secara holistik; Mill Indicator Monitoring System , IoT monitoring pabrik (suhu, tekanan, pH water treatment dan sample lab); ERP/SAP saat ini telah dikembangkan dan memiliki 7 dashboard SAP; AGHRIS platfor, aplikasi manajemen SDM dengan berbagai modul dan fitur seperti asesmen risiko kesehatan dan lain-lain; pemanfaatan drone untuk pemetaan, mekanisasi dan lain-lain; GIS mobile app Geograpic Information System PTPN beserta fitur jalan, pohon, hama, panen, general, pupuk dan pemeliharaan sebagai input survey/laporan.
Semuanya sudah diimplementasikan meskipun tingkat kedewasaan masing-masing kebun dan regional masih beragam. Melihat proses digitalisi yang dilakukan PTPN , Kementerian BUMN menjadikan PTPN sebegai life house atau leader digitalisasi BUMN.
Aplikasi on farm lainnya adalah; Control Tower Dashborad, hama, penyakit, perbaikan jalan, aset infrastruktur, perbaikan TBM; Automatic Wheater Station, alat pengukur iklim, curah hujan,temperatur udara, kelemban relatif; GEO AI Karhutla Detection, implementasi AI pada geospasial untuk mendeteksi karhutla.
Digitalisasi off farm meliputi Weighbridge, aplikasi penimbangan truk yang terintegrasi dengan sistim SAP dan digital farming; intank control monitoring tangki timbun dengan menggunakan sensor; FOSSNIRS, analisa rendemen dan mutu produksi yang secara otomatis terkirim ke server PTPN; CCTV 24 jam dalam lingkungan pabrik yang terpantau dalam dasbor. IOT dimanfaatkan semaksimal mungkin di pabrik sehingga operational excellence bisa dioptimalkan.

