Medan, mediaperkebunan.id – Penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Ganoderma semakin nyata menjadi ancaman serius bagi produktivitas kelapa sawit nasional. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, penurunan produktivitas sawit terjadi hampir di seluruh wilayah dan dialami oleh berbagai pelaku usaha, mulai dari perusahaan besar hingga petani rakyat. Kondisi ini menjadi alarm bahwa upaya peningkatan kesadaran dan penanganan Ganoderma harus dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Atas dasar itulah International Symposium Ganoderma (ISGANO) terus diselenggarakan sebagai forum strategis untuk membangun kewaspadaan bersama. ISGANO merupakan agenda tahunan yang diinisiasi oleh Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (p3pi) bersama Media Perkebunan yang mempertemukan praktisi lapangan, akademisi, peneliti, pelaku usaha, hingga petani sawit.
Besok, 3rd ISGANO conference and exhibition akan resmi diselenggarakan pada 10 Februari 2026 sampai 11 Februari 2026 di Hotel Adimulia Medan. Lalu dilanjutkan field trip pada tanggal 12 Februari ke kebun milik Socfindo dan PPKS. Selain Ganoderma, ISGANO juga membahas kumbang tanduk, tikus, elaeidobius dan lainnya.
Dalam hal ini, Dr. Tony Liwang selaku praktisi p3pi, mantan dari perusahaan sawit terbesar di Indonesia, dan komite litbang BPDP menyampaikan bahwa semua kebun sawit di Indonesia pada 2039 akan terkena Ganoderma. Tentunya ini merupakan ancaman yang besar bagi keberlanjutan produktivitas sawit nasional.
Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia sekaligus Kepala SSPL PT Socfin Indonesia, Ir. Indra Syahputra, MP. juga menegaskan bahwa penurunan produktivitas sawit dalam satu dekade terakhir merupakan fakta yang tidak bisa diabaikan. Hampir seluruh perusahaan terdampak, termasuk PT Socfin Indonesia yang dikenal menerapkan standar budidaya tinggi.
“Dulu produktivitas bisa mencapai 6 ton CPO per hektar, sekarang rata-rata sekitar 5,5 ton. Itu pun masih termasuk yang tertinggi di Indonesia. Salah satu penyebab utamanya memang Ganoderma,” ujar Indra.
Selain Ganoderma, banyak kebun sawit dikembangkan di lahan marginal, menggunakan bibit yang tidak jelas kualitasnya, serta dikelola tanpa penerapan budidaya yang benar. Kondisi ini menyebabkan penurunan produktivitas yang jauh lebih tajam, terutama di kalangan petani.
Pemerintah saat ini terus mendorong program peremajaan sawit rakyat (PSR). Namun, tanpa diiringi penerapan budidaya yang baik dan penggunaan bibit toleran Ganoderma, replanting justru berpotensi menimbulkan kerugian baru di masa depan.
Pemimpin Usaha Media Perkebunan sekaligus Sekjen p3pi, Hendra J. Purba menilai bahwa pada banyak program PSR, aspek penggunaan bibit sering kali kurang mendapat perhatian padahal Ganoderma sudah dapat menyerang sejak fase awal pembibitan. Penggunaan bibit toleran Ganoderma mencatat tingkat serangan sekitar 3%, sementara kebun yang tidak menggunakan bibit toleran serangannya dapat mencapai 14%.
“Saat ini rata-rata produktivitas nasional masih di kisaran 3–3,5 ton per hektar per tahun. Untuk bisa mencapai 4 ton saja sudah luar biasa,” ujar Hendra.
Ir. Baginda Siagian, M.Si, juga pernah mengatakan bahwa potensi produksi sawit Indonesia sebenarnya bisa mencapai 5–6 ton per hektar per tahun jika dikelola dengan benar.
Hendra menegaskan bahwa penyelenggaraan 3rd ISGANO 2026 merupakan bentuk kontribusi nyata terhadap keberlangsungan industri sawit Indonesia. Forum ini tidak hanya membahas Ganoderma sebagai penyakit, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir pelaku industri agar lebih fokus pada pencegahan dan deteksi dini. Melalui diskusi ilmiah dan pengalaman lapangan langsung yang dibagikan, ISGANO diharapkan mampu mendorong pengendalian Ganoderma yang berkelanjutan.
“ISGANO mengingatkan sejak awal pentingnya mendeteksi dini kesehatan tanaman. Apalagi sekarang kondisi tanah sudah makin miskin hara dan tantangan perubahan iklim semakin nyata,” ujarnya.
Hendra juga mengapresiasi dukungan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang dinilai sangat memahami kebutuhan petani. Sebagai bentuk dukungan konkret, GAPKI turut membiayai pendaftaran ISGANO bagi sejumlah 18 orang petani dari asosiasi petani, kelompok tani, maupun KUD dengan nilai sekitar Rp20 juta. Ini dilakukan agar petani dapat memperoleh akses langsung terhadap pengetahuan dan praktik terbaik pengendalian Ganoderma.
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas pelaku industri, ISGANO 2026 juga menjadi momentum soft launching buku saku berjudul Kiat Sukses Mengendalikan Ganoderma: Mitigasi & Pengendalian Penyakit Busuk Pangkal Batang. Buku ini diharapkan menjadi panduan praktis dan aplikatif bagi pelaku kebun dalam menghadapi ancaman Ganoderma secara berkelanjutan.
Melalui ISGANO, industri sawit diingatkan bahwa Ganoderma bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ancaman serius terhadap produktivitas dan daya saing sawit nasional. ISGANO berkontribusi menjaga sawit agar terhindar dari ancaman ganoderma. Kesadaran sejak dini, kolaborasi lintas pihak, serta penerapan budidaya yang tepat menjadi kunci untuk menjaga masa depan sawit Indonesia.

