Jakarta, mediaperkebunan.id – Meningkatnya perhatian publik terhadap isu lingkungan dan bencana alam khususnya yang terjadi di Sumatera pada akhir tahun 2025 mendorong perlunya ruang diskusi yang lebih objektif, ilmiah, dan berbasis data. Bencana tersebut menjadi perbincangan luas di kalangan akademisi, masyarakat, hingga pemerintah.
Namun di tengah situasi tersebut, muncul berbagai tuduhan yang belum tentu didukung oleh data termasuk anggapan bahwa komoditas kelapa sawit menjadi penyebab utama bencana. Padahal, bencana yang terjadi lebih dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi yang menyebabkan peningkatan debit air secara signifikan.
“Bencana yang terjadi itu akibat cuaca ekstrem, curah hujan yang sangat tinggi sehingga terjadi kelebihan debit air. Tapi yang menjadi perhatian, banyak tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar yang menyudutkan kelapa sawit sebagai penyebab,” ujar Hendra J. Purba selaku Ketua Panitia International Environment Forum (IEF) 2026.
Di sisi lain, pengelolaan sumber daya alam tetap menjadi hal yang krusial untuk mendukung keberlangsungan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian lingkungan harus menjadi perhatian utama.
“Sumber daya alam ini harus dikelola untuk keberlangsungan ekonomi masyarakat, tapi bagaimana penataannya dan keseimbangannya itu yang harus benar-benar diperhatikan,” katanya.
Sebagai bentuk respon atas dinamika tersebut, akan diselenggarakan 1st International Environment Forum (IEF) pada 22 April 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi Sedunia. Forum ini dirancang sebagai wadah diskusi internasional yang menghadirkan pendekatan ilmiah dan kolaboratif dalam membahas isu lingkungan pada perkebunan sawit sekaligus menjadi ruang pertukaran gagasan antar berbagai pemangku kepentingan.
Penyelenggaraan 1st IEF 2026 turut didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), yang berkomitmen dalam mendorong praktik perkebunan berkelanjutan serta penguatan aspek lingkungan dalam industri perkebunan.
Forum ini akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari instansi pemerintah dan regulator, akademisi dan peneliti, pelaku industri kelapa sawit, organisasi non-pemerintah, hingga media dan masyarakat umum . Sejumlah media nasional dan internasional juga dijadwalkan hadir untuk meliput jalannya kegiatan.
“Kami mencoba menghadirkan forum diskusi yang ilmiah di tingkat internasional, yang menjadi wadah bagi akademisi, pemerintah, dan NGO untuk bersama-sama membahas apa yang harus dilakukan dalam mitigasi, deteksi dini, hingga pengendalian bencana,” jelas Hendra.
Acara ini juga akan dilengkapi dengan pameran teknologi pengolahan air dan pengolahan limbah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik industri sawit yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, forum ini juga diharapkan mampu meluruskan persepsi publik terhadap penyebab bencana. Dalam konteks bencana di Sumatera, penting untuk melihat kondisi secara menyeluruh mengingat wilayah terdampak tidak hanya ditanami kelapa sawit, tetapi juga berbagai komoditas lain serta kondisi lahan yang tidak terkelola secara optimal.
“Dalam kasus di Sumatera yang sering disorot hanya sawit. Padahal di wilayah tersebut juga terdapat tanaman lain seperti kelapa, kopi, dan kakao, bahkan banyak lahan yang tidak terkelola. Sawit sendiri umumnya berada di dataran rendah, bukan di wilayah pegunungan,” tegasnya.
Hasil diskusi yang dihasilkan dari forum ini akan dirumuskan menjadi rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada instansi terkait. “Kami akan menyampaikan rekomendasi dari hasil forum ini agar masyarakat tidak serta-merta menuduh suatu komoditas sebagai penyebab tanpa dasar yang jelas,” ujarnya.
Sebagai penyelenggaraan perdana, 1st International Environment Forum diharapkan menjadi langkah awal menuju agenda tahunan berskala internasional yang mampu menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai tantangan lingkungan global, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan secara berimbang.

