Kuala Lumpur, mediaperkebunan.id – The 13th Ministrial Meeting CPOPC (Council of Palm Oil Producing Countries), yang diadakan di Kuala Lumpur Malaysia tanggal 17 Desember 2025 minta CPOPC untuk memperkuat kehadirannya secara global lewat kerjasama dengan platform regional dan internasional.
Keikutsertaan dalam The United Nation ECOSOC High Level Forum 2025 merupakan milestone untuk menunjukkan bahwa sawit berkontribusi pada kesetaraan gender, pembangunan perdesaan dan pertumbuhan ekonomi. Bermitra dengan Bank Dunia, ASEAN, The Food Policy Research Institute dan Biofuel Global Alliance mendorong CPOPC untuk terlibat dalam dialog global.
Anggota CPOPC mendukung upaya organisasi ini bekerjasama dengan negara produsen utama, terutama India dan China untuk bermitra dan membuka banyak peluang dalam mendukung perdagangan minyak sawit yang stabil, inklusif dan sustainable.
Rapat juga memperhatikan saat ini narasi sawit di beberapa pasar sudah positif yaitu lebih efisien, memberi banyak manfaat dan berkontribusi pada ketahanan pangan. Dalam hubungannya dengan Uni Eropa menteri-menteri mempersilakan CPOPC untuk meningkatkan jangkauan termasuk misi baru ke Brussel untuk memperkuat advokasi terkait EUDR. Para Menteri mendukung Ad Hoc Joint Task Force dan mandat CPOPC untuk meningkatkan persiapan fase pelaksanaan supaya harmonis, berbasis pada ilmu pengetahuan, inklusif, siap secara praktik, terutama untuk pekebun.
Pertemuan juga menekankan pentingnya transparansi dan tracebiliti lewat sistim sustainability negara produsen, yaitu ISPO dan MSPO, menjadi skema sertifikasi yang kredibel, proporsional, utuk mencapai tujuan global sustainability.
Pertemuan ini minta untuk berhati-hati dengan trend pasar minyak sawit , dengan terus menerus mempertahankan biaya produksi yang kompetitif, peningkatan permintaan biodiesel dan pertumbuhan di pasar-pasar baru. Perhatikan juga tantangan dari minyak nabati lain, tanaman yang sudah tua, proteksi perdagangan, sepakat untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat sustainability, mempercepat peremajaan, dan investasi dalam inovasi dan tracebilty digital.
Melihat peluang dan tantangan yang ada, para menteri menitikberatkan pendalaman kerjasama dengan negara-negara konsumen dengan memperkuat kerjasama Selatan-Selatan. Program promosi kepada generasi muda dengan program digital lewat #YoungElaeis Ambasador (YEA) yang sudah berjalan dipuji.
Untuk mendukung negara-negara anggota CPOPC, pertemuan ini menekankan perkuatan pekebun dan peningkatan kapasitas penyuluh lewat pelatihan praktik di lapangan. CPOPC dengan program pelatihan The International Workshop and Good Agricultural Practises di PNG dan Kongo, sangat mendukung sebab vital bagi perbaikan dan sustainability . Ini adalah salah satu manfaat menjadi negara anggota.
Pertemuan ini juga mendukung road map strategis 2025-2028 yang merupakan pedoman bagi CPOPC untuk harmonisasi negara-negara produsen, meningkatkan keberterimaan global, meningkatkan resilensi lewat advokasi kredible, berbagi pengetahuan dan Kerjasama yang lebih dalam.
Mulai 1 Januari 2026 juga pemimpin CPOPC beralih dari Malaysia ke Indonesia selama 1 tahun. Kepemimpinan Indonesia diharapkan memperkuat peran CPOPC, terutama karena posisinya sebagai negara produsen minyak sawit terbesar.
Delegasi yang hadir dari negara anggota adalah Dato Yusran Bin Mohd Yusuf, Menteri Perkebunan dan Komoditi Malaysia; Dida Gardera dari Kementerian Koordinator Perekonomian Indonesia; Francis Galia Maneke, Menteri Kelapa Sawit PNG; Josue Nzangi Kabale penasihat Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan Kongo; dan secara online Laura Suaza, Menteri Pertanian dan Peternakan Honduras.
Sedang dari negara observer adalah Andrew Osei Okrah, CEO Otoritas Pembambangunan Tanaman Tahunan Ghana; Alfonsus Inyang , Presiden Asosiasi Produsen Sawit Nigeria; Juan Carlos Moreno Gutierezz, charge de affair Kedutaan Besar Kolombia di Kuala Lumpur. Sedang negara tamu adalah Daniella Ortega De Paize Menezes, Duta Besar Brasil untuk Malaysia.
Banyaknya delegasi menunjukkan semakin tingginya minat internasional untuk membuat platform solidaritas negara-negara produsen sawit lewat CPOPC. Pertemuan ini sepakat menerima Ghana dan Nigeria sebagai anggota penuh, dan keterarikan Ekuador, Peru dan Kosta Rika untuk bergabung.

