Tana Paser, mediaperkebunan.id – Sebanyak 1.134 petani sawit yang berasal dari 11 koperasi unit desa (KUD) dari Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), telah diusulkan ke pemerintah pusat agar dapat menjadi peserta pelatihan peningkatan sumber daya manusia (SDM) petani kelapa sawit (PKS) untuk 2026.
“Kalau tahun 2025 ini ada 550 petani sawit kami yang sudah ikut berbagai pelatihan SDM-PKS,” ucap Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kabupaten Paser, Djoko Bawono, saat berbicara dalam acara “Pelatihan Teknis Panen dan Pasca-Panen” bagi para pekebun sawit di Kabupaten Paser.
Kegiatan tersebut diadakan oleh PT Citra Widya Education (CWE) mulai 11–15 Agustus 2025 di Samarinda, dan diikuti oleh 93 peserta yang berasal dari Angkatan IV, V, dan VI.
Selain di dalam ruangan, pelatihan ini juga dilakukan di luar ruangan, yaitu kunjungan lapangan ke kebun sawit milik PT AJP, yang telah menerapkan praktik panen dan pasca panen sesuai standar mutu industri.
Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun( Kementerian Pertanian (Kementan), serta menghadirkan para narasumber yang berkompeten.
Seperti Nugroho selaku Direktur PT. CWE, Kepala Distannak Kabupaten Paser Djoko Bawono, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Bapak Ir Baginda Siagian MSi yang hadir dan berbicara secara daring, serta para trainer atau pelatih dari PT CWE.
Djoko Bawono sendiri berterimakasih atas penyelenggaraan pelatihan yang diselenggarakan oleh PT CWE dan merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM-PKS dari pemerintah melalui Kementan.
Menurutnya, pelatihan kali ini merupakan pelatihan terakhir di tahun 2025 yang diikuti oleh total 550 petani sawit sepanjang tahun.
“Kami sudah mengusulkan 1.134 petani sawit dari 11 KUD sebagai peserta pelatihan untuk tahun 2026, yang tersebar di 139 desa dan 5 kelurahan di Kabupaten Paser,” ungkap Djoko Bawono.
Dia bilang hampir seluruh petani di Paser menanam kelapa sawit, sehingga membangun SDM di sektor ini harus menjadi prioritas utama.
“Harapan kami, pelatihan yang digelar oleh PT CWE ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Paser,” ujar Djoko Bawono lagi.
Dia menambahkan, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan ini bukan hanya penting untuk produktivitas, tetapi juga untuk membangun kesadaran akan standar keberlanjutan.
Termasuk, tuturnya lebih lanjut, dalam penerapan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan manajemen kebun kelapa sawit yang lebih efisien.
Dengan adanya program seperti ini, kata dia, pemerintah kabupaten (Pemkab) Paser optimis kalau petani sawit akan semakin siap menghadapi tantangan industri, mulai dari fluktuasi harga hingga tuntutan sertifikasi internasional.
Di sisi lain, Direktur PT. CWE, Nugroho, mengungkapkan bahwa dunia perkebunan kelapa sawit adalah salah satu kebanggaan Indonesia karena menjadi penopang devisa negara.
Dari total 16,38 juta hektar (Ha) lahan sawit di Indonesia, 42 persen dikelola oleh petani rakyat. Harapannya, kata dia, para peserta dapat membawa pulang ilmu yang diperoleh dan membagikannya kepada rekan-rekan petani di wilayah masing-masing.
“Dengan demikian akan manfaat program ini meluas dan menciptakan efek berganda di komunitas perkebunan kelapa sawit di tingkat rakyat,” ucap Nugroho.
Sementara itu, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Baginda Siagian, yang hadir melalui Zoom meeting, memberikan pandangan strategis terkait pentingnya peningkatan produktivitas petani sawit rakyat.
Baginda Siagian menegaskan bahwa ekspor produk pertanian, khususnya kelapa sawit, masih menjadi yang terbesar di Indonesia, dengan nilai mencapai Rp 464 triliun.
“Ini adalah kebanggaan bagi kita semua, namun kenyataannya rata-rata produktivitas petani saat ini baru mencapai sekitar 3 ton tandan buah segar (TBS) per hektar,” ungkap Baginda Siagian.
“Padahal potensi optimalnya bisa mencapai 5–6 ton TBS per hektar. Kesenjangan inilah yang menjadi pekerjaan rumah atau PR yang cukup besar bagi kita,” kata Baginda Siagian lagi.
Menurut dia, melalui pelatihan teknis yang terstruktur seperti yang dilakukan PT CWE ini, pemerintah berupaya mendorong peningkatan kapasitas petani, mulai dari keterampilan panen, penanganan pasca panen, hingga pengelolaan kebun secara keseluruhan.

