11 May, 2020

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Surat yang dilayangkan DMSI (Dewan Minyak Sawit Indonesia) kepada WHO tentang keberatan atas Flyer WHO Eastern Mediterranean yang berisi anjuran agar orang dewasa tidak memakan atau mengonsumsi minyak kelapa sawit dalam menghadapi Covid-19 sudah ditanggapi. Tanggapanya adalah penghapusan minyak kelapa sawit, meskipun masih ada minyak kelapa.

“Mereka tidak membalas surat kami. Tetapi yang dilakukan adalah merubah flyer dengan menghilangkan minyak sawit dari dari anjuran tidak dikonsumsi. Kami anggap WHO sudah tanggap dengan surat DMSI. Selain DMSI, di Indonesia yang mengajukan surat keberatan adalah Kementerian Luar Negeri dan MAKSI (Masyarakat Perkelapa Sawitan Indonesia). CPOPC (Organisasi negara-negara produsen minyak sawit) yang berkantor di Jakarta juga,” kata Derom Bangun, Ketua Umum DMSI kepada Mediaperkebunan.id.

Derom tidak tahu apa dasarnya WHO membuat flyer seperti itu. “Dugaan saya mereka mengambil dari dietary guideline USDA (Kementan AS) yang dulu sangat anti tropical oil dan lemak jenuh karena dipengaruhi produsen minyak dan lemak di sana,” katanya.

Kedepan yang harus dilakukan adalah selalu waspada terhadap semua kampanye dan selebaran organisasi internasional, jangan sampai ada yang merugikan kelapa sawit lagi.

Pandemi Covid-19 membuat ekonomi banyak negara terpuruk. Indonesia meskipun pertumbuhan ekonominya ikut turun tetapi dianggap lebih baik dari negara lain. Ke depan ada kemungkinan Indonesia memberi bantuan pangan pada negara-negara lain.

“Kalau hal ini terjadi saya usulkan salah satu bantuan pangan Indonesia adalah minyak goreng bermerek dalam kemasan platik. Kalau WHO masih mencantumkan jangan konsumsi minyak sawit tentu mereka keberatan, tetapi sekarang sudah tidak ada. Kita lihat tingkat ekonomi negara yang dibantu jangan sampai diberi bentuk curah yang dianggap kurang higienis,” kata Derom lagi.

Dengan cara ini maka negara-negara yang selama ini tidak mengkonsumsi minyak sawit akan mendapatkan minyak goreng bagus dengan harga lebih murah sehingga nanti akan terbiasa dan jadi negara tujuan ekspor baru. Negara yang pernah mengkonsumsi minyak sawit akan menambah ekspornya. Bantuan pangan bisa digunakan sebagai peluang promosi minyak sawit Indonesia.

(Visited 358 times, 1 visits today)