10 May, 2016

Akibat dari kepeduliannya terhadap komoditas kakao, maka Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Anwar Adnan Saleh disangka sebegai Menteri Desa saat diundang ke Swiss.

Anwar cukup terkejut dengan sikap delegasi Swiss yang menggagap dirinya sebagai Menteri Desa. Hal itu lantaran keseriusannya dalam mengembangkan komoditas kakao di Suawesi Selatan. Alhasil kiprahnya menyebar kemana-mana sehingga tidak heran jika pihak luar menggagap dirinya sebagai Menteri Desa.

Hal senada disampaikan Presiden World Cocoa Fondation Bill Guyton bahwa kiprah Anwar dalam mengembangan desa melalui pertanian khususnya kakao sudah terdengar hingga ke negaranya di Amerika Serikat. Itu sebabnya ia pernah mengunjungi Mamuju tanpa sepengetahuan sang Gubernur untuk melihat seperti apa hasil kerjanya di Sulbar.

“Kami di USA percaya tanpa adanya kontribusi Anwar untuk mengembangkan kakao di Indonesia maka dunia akan menghadapi kecemasan kelangkaan bahan baku kakao. Setidaknya yang kami ketahui bahwa beliau adalah tokoh dibalik program gernas dan progra pengembangan kakao berkelanjutan di Indonesia,” jelas Bill.

Artinya, menurut Bill harapan pemerintah terhadap komoditas kakao cukup besar. Hal ini karena dari total luas areal tanaman kakao hampir semuanya dikuasai oleh rakyat. Sehingga tidaklah heran dengan menganggkat komoditas kakao maka berdampak kepada peningkatan ekonomi rakyat.

Terbukti, melalui program Gubernur Sulbar berhasil merubah wajah petani Sulbar. Hal ini karena produktivitas biji kakao di Sulbar meningkat lebih dari dua kali lipat. Sehingga dengan meningkatnya produktivitas maka meningkat pula pendapatan petani.

“Padahal dahulu produktivitas biji kakao di Sulbar adalah yang terendah tapi semenjak adanya program dari Gubernur Sulbar maka saat ini produktivitas biji kakao meningkat,” kata Bill.

Contoh, lanjut Bill, Mamuju yang dahulu dikenal sebagai tempat yang paling tidak menarik untuk ditinggali, tapi saat ini banyak sekali yang senang berkunjung ke Mamuju. Hal ini karena sebagian masyarakat Mamuju adalah sebagai petani kakao. maka dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, otomatis pola dan gaya hidup masyarakat Mamuju meningkat.

Alhasil perputaran uang di Mamuju ikut bergerak dengan cepat. Sehingga tidaklah heran jika saat ini Kabupaten Mamuju menjadi kota yang berkembang dengan tingkat keterjangkauan listik hingga 90%, . sebab saat ini sudah ada pembangunan turbin di sejumlah desa untuk menciptakan kondisi mandiri energi.

Sementara itu, petani kakao asal Mamuju, Ridwan membenarkan bahwa saat ini pola hidupnya telah berubah. Bahkan bukan hanya pola hidup yang berubah, tapi juga infrastrukturnya. Satu diantaranya yaitu jika dahulu masyarakat Mamuju ingin pergi ke Makasar harus menempuh waktu selama 24 jam, tapi kini masyarakat Mamuju jika ingin pergi ke Makasar maka lebih banyak menggunakan pesawat. Sebab Sulbar telah terbangun 2 bandar udara, 800 km jalan yang cukup baik serta sejumlah pelabuhan.

Hal ini karena dengan pendapatan yang meningkat, maka masayrakat lebih senang menggunakan angkuta udara. Bahkan sekalipun masih ada yang senang menggunakan jalur darat, saat ini jalur darat dari Mamuju ke Makasar sudah halus. Maka dengan jalan yang halus tidak lagi menempuh waktu 24 jam.

Namun yang tidak bisa dipungkiri Gubernur Sulbar adalah pemimpin daerah yang berani menjadikan pertanian terutama kakao sebagai basis ekonominya. Dan membatasi pemberian izin tambang di wilayahnya. Serta menjadi pelopor dari program pengembangan kakao nasional, sehingga ia dikenal sebagai Gubernur Kakao.

“Untung ada Anwar yang fokus ke kakao. Kalau tidak petani tidak bisa menikmati keuntungan dari naiknya harga kakao, ” pungkas Ridawan. HS

(Visited 76 times, 1 visits today)