12 June, 2020

JAKARTA, Mediaperkebunan.id – Meski secara nasional Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) yang dikelola kelompok tani karet masih kurang. Namun UPPB kini sudah bisa memberikan insentif harga karet bagi petani. Karena mutu UPPB sudah meningkat sehingga memutus rantai pasok,

Demikian dikatakan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Junaedi, dalam Forum Diskusi Karet secara virtual di Jakarta, Kamis (11/6). Diskusi yang diselenggarakan Majalah Media Perkebunan bekerjasama Pusat Penelitian Karet Indonesia itu bertajuk “Penguatan Industri Karet di Era New Normal”.

Menurut Dedi, UPPB kini sudah mampu membuat berbagai alat-alat yang dibutuhkan industri. Bahkan UPPB di Sumatera Selatan yang sudah mampu membuat compound. “Mereka (UPPB) pun sudah bermitra dengan perusahaan alat kesehatan,” tukasnya.

Sebenarnya, kata Dedi, UPPB sudah mampu untuk membuat compond yang dibutuhkan industri. Hanya saja tinggal mereka diberi kesempatan dan permodalan serta pemasarannya.

Ditjen Perkebunan sendiri terus melakukan pembinaan pada UPPB dalam meningkatkan kemampuannya. Dengan menggandeng balai industri di Palembang, petani dilatih yang diambil dari UPPB yang dipilih. Malahan UPPB sudah mampu membuat compound untuk industri otomotif.

Upaya lain yang dilakukan Direktorat Jenderal Perkebunan dalam pengembangan karet rakyat antara lain membangun logistik benih, bantuan asam semut/alis pembuat asap cair, pembentukan dan penguatan UPPB di seluruh sentra karet rakyat.

Selain itu juga bantuan alat mesin pertanian pengolahan Bokar, kemitraan UPPB dengan pabrik. “Bantuan alsintan sudah berjalan. Namun tidak banyak karena anggaran APBN juga terbatas,” ujar Dedi. (YR)

(Visited 53 times, 1 visits today)