22 December, 2019

Jakarta, perkebunannews.com – Sebanyak 25 kontainer kelapa asal Sumatera Selatan (Sumsel) dikembalikan oleh pihak Thailnd karena diklaim tidak memenuhi syarat?

Berdasarkan data Bea Cukai Palembang, total ekspor kelapa dari Palembang ke Thailand sejak Januari – November 2019 mencapai 1.527 kontainer atau setara 37.106.342 ton dengan devisa senilai US$ 6.258.796.

Sementara total ekspor kelapa dari Palembang ke berbagai negara tujuan seperti Vietnam, Thailand, dan China selama 2019 mencapai 5.054 kontainer atau setara 94.050.050 ton dengan devisa senilai US$ 16.218.759 dolar

“Mungkin setelah ini ada upaya dari pihak terkait untuk solusinya, karena Bea Cukai hanya mendata barang yang masuk dan keluar saja,” kata Kepala Seksi Penyuluhan dan Informasi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Palembang, Dwi Harmawanto.

Mendengar hal tersebut,Direktur PT. Central Agro Indonesia, Rajib di Palembang mengaku kaget atas penolakan atau reimpor 25 kontainer kelapa dari Thailand.

Sebab kelapa yang diekspor adalah kelapa yang kualitasnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.

“Kami melihat tampaknya ada pengetatan regulasi terkait standar di sana (Thailand-red). Namun kami tidak tahu perubahannya sebab jika alasan ditolak karena sudah tumbuh tunas ya sebelumnya seperti itu juga, tapi tetap diterima,” ucap Rajib.

Akan tetapi, Rajib mengakui ada kelapa yang sudah bertunas panjang saat sampai di Thailand . Walau begitu, para eksportir agak susah memastikan kelapa tidak tumbuh tunas ketika sampai di Thailand, sebab proses dari petik sampai tiba di Thailand butuh waktu satu bulan.

“Kami setiap bulan bisa kirim hampir 50 kontainer kelapa segar, jika kelapanya segar pasti bertunas, nah kemarin-kemarin meski ada tunas masih bisa diproses oleh pabrik di sana,” kata Rajib.

Atas kejadian tersebut, Rajib berharap, pemerintah bisa melakukan negosiasi terkait persoalan reimpor tersebut. Sebab hal itu pertama kali terjadi adanya penolakan dalam jumlah banyak dari Sumsel.

(Visited 26 times, 1 visits today)