9 May, 2016

Harus diakui bahwa berapapun produksi tembakau Indonesia habis terserap didalam negeri, bahkan sebagian juga dieskpor. Tapi sangat disayangkan jika berbicara produk hilir tembakau maka masyarakat akan membencinya, karena sebagian besar tembakau dijadikan untuk produk rokok.

Boedidoyo, Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyayangkan bahwa produktivitas tembakau Indonesia masih sangat rendah dan kurangnya perhatian terhadap komoditas sebagian besar dikuasai oleh petani swadaya ini. Padahal berapaun produksi yang dihasilkan oleh petani tembakau akan habis terserap.

Artinya, permintaan akan tembakau cukup besar baik didalam ataupun luar negeri, tapi seiring tingginya permintaan tembakau tidak sedikit Lembaga Swadaya Masyarakat (SM) yang membencinya. Hal ini karena sebagian produk tembakau habis terserap untuk industri rokok, meskipun saat ini tembakau bisa juga dijadikan sebagai poruk lain seperti pestisida.

Tapi, disisi lain dengan tingginya permintaan rokok maka bea cukai yang ditetapkan oleh Pemerintah selalu tercapai, bahkan melebihi dari angka target. Artinya produk hilir tembakau ini yang dimanfaatkan oleh industri rokok, ikut menyumbang pendapatan negara melalui bea cukai.

Terbukti, berdasarkan catatan AMTI, kebutuhan tembakau secara nasional sekitar 320 ribu ton. Sedangkan produksi dalam negeri hanya dikisaran 180 ribu ton. Artinya kebutuhan rokok masih belum bisa tercover oleh produksi dalam negeri, dan sebagian tembakau asal Indonesia juga di ekspor. Hal ini karena tembakau asal Indonesia memiliki citarasa yang berbeda dengan tembakau asal negara lain. “Maka untuk menutupi kebutuhan industri terpaksa masuklah impor,” terang Boedidoyo.

Artinya, lanjut Boedidoyo, dengan lebih tingginya kebutuhan daripada pasokan maka produksi nasional harus ditingkatkan. Sebab jika tidak meningkatkan produksi maka bukan tidak mungkin tembakau luar akan semakin besar masuk kedalam negeri. Sebab tembakau di Indonesia saat ini tidak hanya untuk mensuplai industri dalam negeri tapi juga lua negeri. Artinya hinggga saat ini tembakau asal Indonesia masih diminati. Hal itu karena produk hilir tembakau semakin besar.

Sebab, harus diakui bahwa rendahnya produksi tembakau nasional lebih karena rendahnya produktivitas. Berdasarkan catatan AMTI, saat ini produktivitas masih diangka 600 – 700 kg/hektar (tembakau kering), padahal jika melihat negara penghasil tembakau lainnya bisa mencapai 1 ton/hektar. Maka melihat hal tersebut, peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk mengurangi impor.

Sejatinya, jika melihat luas areal tanaman tembakau yang ada saat ini sekitar 200 ribu hektar jika produktivitas ditingkatkan menjadi minimal 1 ton/hektar saja, maka produksi nasional bisa mencapai 200 ribu ton. “Itu pun masih kurang karena kebutuhan industri nasional mencapai 320 ribu ton, tapi setidaknya bisa memperkecil impor,” harap Boedidoyo.

Disisi lain, Boedidoyo menerangkan, bahwa meskipun industri tembakau masih melakukan impor untuk menutupi kebutuhan, produksi tembakau yang sekitar 180 ribu ton tidak semuanya dipakai untuk didalam negeri. Tapi dari angka tersebut sebesar 20%-nya dieskpor. “Artinya kita selain mengimpor tembkau tapi juga melakukan ekspor. Ini adalah bukti bahwa pasar tembakau baik didalam ataupun duluar negeri masih terbuka lebar,” ucap Boedidoyo. YIN

(Visited 127 times, 1 visits today)