21 October, 2019

National Tea Competition yang baru pertama kali diadakan merupakan langkah awal untuk merebranding teh Indonesia. Dalam kompetisi yang diikuti oleh 87 sample teh dari 54 pabrik milik 16 perusahaan ini diharapkan akan muncul teh berkualitas terdiri dari teh hitam, CTC, green tea, white tea dan flavoie tea. Teh pemenang akan berkompetisi di International Tea Competition di Korea Selatan.

Wahyu, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Teh Indonesia/Direktur Utama PTPN VIII menyatakan hal ini. Upaya lain yang dilakukan adalah mencari budaya minum teh Indonesia. Selama ini dikenal budaya minum teh bangsa China dan Jepang, padahal di Indonesia sendiri budaya ini banyak.

Dalam 10 tahun terakhir dunia teh Indonesia sangat lesu sekali dan sekarang sedang lesu-lesunya. Produk teh Indonesia baik dari petani, swasta maupun BUMN kurang dihargai, dengan harga jaul jauh dibawah biaya pokoknya.
Impor teh dari luar negeri banyak dan teh dalam negeri sama sekali tidak mampu bersaing. Brading teh Indonesia sangat lemah sekali.

Sekarang teh yang harganya tinggi dikuasai teh impor yaitu dilma dan TWG. “Saya pernah beli teh asal Indonesia di TWG. Harganya Rp2 juta/kg tetapi disini hanya Rp50.000-60.000/kg. Karena itu kita akan rebranding lagi. Kita akan munculkan teh bermutu dengan harga tinggi,” katanya.

Ditargetkan dengan munculnya teh bermutu ini maka teh Indonesia yang diperjualbelikan adalah teh bermutu dengan harga bagus. Kalau ini terjadi maka jutaan petani, juga perusahaan baik BUMN dan swasta akan terbantu.

Kondisi sekarang tidak bisa dibiarkan. Kalau terus dibiarkan maka industri akan mati dan banyak petani menjadi pengangguran. “Kita harus membuat teh Indonesia dihargai,” katanya.

(Visited 52 times, 1 visits today)