28 May, 2020

JAKARTA, Mediaperkebunan.id – Di tengah masa pandemi Corona saat ini, ternyata teh Indonesia berpeluang besar untuk mengisi pasar di negara Afrika, khususnya Maroko. Karena pasokan teh dari China tersendat. Maroko membutuhkan pasokan teh hijau sekitar 60 ribu ton setiap tahunnya.

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Maroko Hanung Nugraha mengatakan, adanya pandemi Corona membuat ketersediaan teh di Maroko menipis. Hal ini akibat pasokan teh dari China tersendat.

“Dengan kondisi ini, Indonesia harus memanfaatkan peluang pasar teh di Maroko,” ujar Hanung dalam Rapat Koordinasi Peningkatan Pasar Ekspor Teh Indonesia ke Maroko secara virtual yang diinisiasi Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan), di Jakarta, Kamis (28/5).

Hanung menyebutkan, pasokan teh Maroko 97 persen berasal dari China, sedangkan sisanya dari 1,2 persen dari Sri Langka. Impor teh hijau sebagian besar dalam bentuk bulk, karena diproduksi lagi sebagai produk teh Maroko. Sedangkan teh hitam dalam bentuk siap saji.

Namun, lanjut Hanung, akibat adanya pandemi Corona pasokan teh dari China tersendat. Hal ini berdampak pada penurunan ketersediaan stok teh di Maroko. Jika dibandingkan tahun 2019, dalam kuartal pertama stok teh di Maroko sebesar 24 ribu ton. Sementara stok teh pada 2020 ini sebesar 13,6 ribu ton.

Hanung memastikan, pasokan teh dari China pada kuartal kedua juga akan mengalami penurunan. Asosiasi teh dan kopi Maroko menyebutkan cadangan teh Maroko hanya cukup hingga enam bulan ke depan atau Agustus mendatang.

Kebutuhan teh Maroko setiap tahun sekitar 60 ribu ton. Namun jika konsumsi tehnya 1,2 kg per kapita dengan jumlah penduduk 35 juta jiwa, maka diasumsikan kebutuhan teh bisa mencapai lebih dari 100 ribu ton per tahunnya.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementan, Dedi Junaedi, mengatakan, teh merupakan 14 komoditas perkebunan utama yang digarap untuk ditingkatkan produksi dan ekspornya dalam empat tahun ke depan.

Dedi mengakui, produksi teh Indonesia terus mengalami penurunan seiring berkurangnya luas areal teh di dalam negeri. “Tapi dalam tiga bulan pertama 2020 ini nilai ekspor teh ada peningkatan. Kalau ini dapat dipertahankan, kemungkinan akan ekspor teh tahun ini meningkat,” ujar Dedi.

Hadir dalam Rakor antara lain Direktur Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung Dadan Rohdiana, Pengamat Teh Iriana Ekasari, dan Ketua GPPI Jawa Barat A Imron Rosyadi serta para pelaku teh nasional baik dari PTPN maupun swasta (selengkapnya baca di Majalah Media Perkebunan Edisi Juni). (YR)

(Visited 112 times, 1 visits today)