9 July, 2020

Indonesia setiap tahun mengimpor wijen (Sesamum indicum L) sekitar 3000 ton. Produksi wijen nasional sendiri 1.475 ton wijen dengan luas lahan 3.200 ha. Produktivitas wijen petani rata-rata 465 kg/ha. Hadi Sudarmo, peneliti Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Balitbangtan menyatakan hal ini.

Padahal Balitbangtan sudah menyiapkan paket teknologi budidaya wijen termasuk varietas unggul. Potensi produktivitas 6 varietas yang sudah ada cukup tinggi yaitu antara 1,4 – 2,2 ton/ha. Tetapi petani belum menerapkan paket teknologi budidaya wijen.

Balittas sendiri sudah menjalin kerjasama dengan beberapa kelompok tani mengembangkan wijen dan sukses. Pengembangan wijen sudah dilaksanakan di desa Ponteh, Kecamatan Galis, Pamekasan; Kelompok Tani “Tani Makmur”, Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung; juga Nganjuk dan Klaten.

Petani yang sudah menanam wijen diharapkan dapat meningkatkan produktivitasnya sedang petani yang belum diharapkan mencoba. Bila luas penanaman bisa bertambah jadi 5.000 ha dengan produktivitas 1 ton/ha maka produksi mencapai 5.000 ton dan Indonesia tidak perlu mengimpor lagi.

Rully Diah Purwati, peneliti Balittas menyatakan wijen ada dua jenis yaitu yang bijinya hitam dan putih. Tanaman ini banyak digunakan untuk aneka industri makanan ringan, minyak makan, bahan baku industri dan pangan fungsional. Lahan yang sesuai untuk wijen di Indonesia sangat luas yaitu pada lahan kering yang ditanam musim hujan di Jateng, Jatim, NTB, NTT, Sulsel, Gorontalo, Lampungj. Bisa juga ditanam di lahan sawah yang dapat ditanam sesudah padi di Jateng, Jatim dan NTB.

Teknologi budidaya wijen ini sudah tersedia. Biaya produksinya juga murah (analisas ROI menguntungkan hingga 40,82%. Risiko gagal panen lebih kecil karena toleran kekeringan, tahan hama uret dan tidak disukai babi dan kera. Pasar tersedia baik lokal dan internasional dengan harga jual relatif tinggi.

Ada 6 varietas unggul wijen yang sudah dilepas yaitu Sbr-1, Sbr-2, Sbr-3, Sbr-4, Winas-1 dan Winas-2. Hambatan pengembangan wijen adalah di daerah tertentu petani tidak mengenal wijen karena kurang sosialisasi, kepemilikan lahan petani tidak luas dan terpencar sehingga tidak efisien, bukan sebagai komoditas utama dan kesenjangan harga di tingkat petani dan konsumen tinggi, bukan sebagai komoditas utama, kesenjangan harga ditingkat petani dan konsumen tinggi.

Upaya peningkatan produktivitas adalah dengan intensifikasi melalui penerapan teknologi, membangun sistim kerjasama dengan pengusaha secara harmonis, membentuk koperasi atau kelompok usaha untuk produksi dan pemasaran, peningkatan nilai tambah melalui diversifikasi produk (farmasi dan pangan fungsional).

Data 2001-2016 negara utama eksportir wijen adalah India dengan pangsa 21%, Sudan dan Ethiopia dengan pangsa masing-masing 16%, Nigeria 13%, Myanmar 7%, Burkina Faso 5%, Tanzania 5%, China 4%, Paraguay, Guatemala dan Pakistan masing-masing 2%.

Sedang negara impotir adalah China 27%, Jepang 13%, Turki 8%, Korsel 6%, Israel, Amerika Serikat dan Saudi Arabia masing-masing 3%, Yunani, Jerman, Mesir, Belanda, Lebanon, Meksiko, Jordania masing-masing 2%, India 1%.

Dukungan riset tahun 2020-2024 untuk wijen di Balittas adalah perakitan varietas unggul wijen berbiji hitam dengan kualitas dan produktivitas tinggi dengan kandungan fitokimia lebih tinggi; teknologi budidaya wijen hitam, pemanfaatan fitokimia wijen untuk farmasi dan pangan fungsional (kerjasama penelitian dengan ASEAN Cooperation Project (ACP) dan Hirata Corp, Jepang).

(Visited 112 times, 2 visits today)