26 December, 2019

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memastikan bahwa stok pangan asal hewan yang terdiri dari daging dan telur ayam ras serta daging sapi, dalam kondisi aman. Hal ini disampaikan oleh Syamsul Ma’arif, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita.

Menurut Syamsul, berdasarkan data Ditjen PKH sesuai laporan realisasi produksi secara online dari para pelaku usaha perunggasan, potensi produksi tahun 2019, serta data konsumsi daging ayam ras sesuai hasil Kajian Konsumsi Bahan Pokok (Bapok) BPS 2017 sebesar 12,13 kg/kapita/tahun, diperkirakan kebutuhan daging ayam tahun 2019 adalah sebesar 3.251.745 Ton, sedangkan ketersediaan daging ayam adalah 3.488.709 Ton. Dalam tahun 2019 ini terdapat surplus produksi daging ayam sebesar 236.964 Ton, atau rata-rata surplus sebesar 19.747 Ton/bulan.

Surplus ini selain sebagai buffer stock juga berpotensi menjadi sumber devisa melalui ekspor ataupun diolah menjadi produk olahan untuk menambah nilai jualnya.Untuk itu pentingnya peningkatan mutu dan keamanan produk pangan dan non pangan asal hewan dalam rangka pemenuhan persyaratan negara tujuan ekspor. Ekspor diharapkan dilakukan oleh semua stakeholder perunggasan mulai dari para pelaku usaha besar, para integrator ayam ras, juga pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) untuk perluasan pasar serta peningkatan nilai tambah dan daya saing.

Terkait kondisi stok telur ayam ras, Syamsul menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kajian Tim Analisa dan Asistensi Supply-Demand Ditjen PKH tahun 2019 serta data konsumsi telur sesuai dengan hasil Kajian Konsumsi Bapok BPS 2017 sebesar 17,69 kg/kapita/tahun, diperkirakan ketersediaan telur ayam ras di Indonesia sebesar 4.753.382 Ton, dan angka kebutuhan sebessar 4.742.240 Ton. Hal ini berarti masih ada neraca surplus sebesar 11.143 Ton atau 929 Ton per bulan.

Surplus telur ini dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan industri olahan telur dalam negeri, juga dapat dijadikan komoditas untuk ekspor. Perintisan pabrik olahan telur ini diharapkan dilakukan oleh para pelaku usaha perunggasan yang besar dan perusahaan integrator sebagai kontribusi nyata dalam mendukung upaya peningkatan ekspor.

Berdasarkan perhitungan kebutuhan dan ketersediaan untuk daging sapi, pada tahun 2019 ini kebutuhan nasional untuk daging sapi diperkirakan sekitar 686.271 Ton dengan asumsi konsumsi sebesar 2,56 kg/kapita/tahun. Adapun ketersediaan daging sapi berdasarkan produksi dalam negeri sebesar 404.590 Ton yang dihasilkan dari 2.02 juta ekor sapi yang dipotong. Berdasarkan data tersebut, masih diperlukan tambahan sebanyak 281.681 Ton yang dipenuhi melalui impor, yakni impor sapi bakalan setara 99.980 Ton, impor daging sapi 92.000 Ton, dan daging kerbau 100.000 Ton. Dari impor tersebut ada buffer stock sebanyak 10.299 Ton.

“Adapun khusus untuk Desember 2019 ini, kita masih ada stok 75.735,76 Ton yang terdiri dari stok daging sapi lokal, stok sapi bakalan di feedlotter, stok daging dan jeroan di gudang importir, stok daging kerbau di Bulog, dan stok daging sapi tambahan di Berdikari. Dengan kebutuhan daging sebesar 56.538 Ton, maka pada Bulan Desember 2019 ini masih ada surplus sebesar 19.197,76 Ton.

‚ÄúDengan data-data tersebut, saya meyakini bahwa sampai akhir tahun 2019 dan memasuki tahun 2020, stok pangan asal hewan dalam kondisi yang mencukupi dan harga dapat dijaga stabil”, tegas Syamsul.

(Visited 13 times, 1 visits today)