Petrokimia Gresik
28 February, 2020
Bagikan Berita

Jakarta, mediaperkebunan.id – Terkait dengan program KementerianPertanian (Kementan) untuk melakukan ekspor tiga kali lipat memalui program Gerakan Ekspor Tiga Kali (GRATIEKS) maka Dewan Teh mendesak untuk dilaksanakannya Gerakan Nasional (Gernas) Teh.

Hal tersebut mengemuka dalam Forum Groum Discusion (FGD) dengan tema “ Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Dalam Rangka Meningkatkan Ekspor 4 Kali.”

Ketua Dewan Teh Indonesia (DTI), Rachmat Gunadi mengatakan untuk mendorong ekspor maka diperlukan perbaikan di sektor hulu, salah satunya bisa dengan Gernas Teh, seperti yang dilakukan pada Gernas Kakao.

Penyediaan bibit teh menjadi krusial dalam gernas teh sebab populasi 1 hektar teh dibutuhkan 10 ribu bibit teh, untuk itu dibutuhkan teknologi perbanyakan bibit seperti yang dilakukan pada gernas kakao yakni menggunakan teknologi somatik embryogenesis (SE).

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Petani teh Indonesia (APTEHIND0), Nugroho B. Koesnohadi bahwa untuk meningkatkan ekspor maka perlu dilakukan Gernas Teh.

Adapun biaya yang dibutuhkan untuk Gernas Teh yakni diperkirakan hanya Rp 2,6 triliyun untuk lahan seluas sekitar 55 ribu hektar dengan perincian intesifikasi sekitar9 ribu hektar, rehabilitasi sekitar 28 hektar, replanting sekitar 13 ribu hektar dan new planting atau perluasan sekitar 3,378 hektar.

“Jadi angka Rp 2,6 triliun tersebut, didapat dari intensifikasi dibutuhkan Rp 15 juta per hektar, rehabilitasi sebesar Rp 27.500.000 per hektar, replanting sebesar Rp 100 juta per hektar dan new planting sebesar Rp 100 juta per hektar. Sehingga jika ditotal biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 2,6 triliun,” terang Nugroho.

Disi lain, Data Aptehindo menyebutkan, pada tahun 2009 luas perkebunan teh di Indonesia sebanyak 123.506 hektar (ha). Kurun 10 tahun terakhir (pada tahun 2019) luas kebun teh tinggal 113.029 ha. Artinya, dalam waktu 10 tahun areal teh di Indonesia menurun seluas 10,477 ha.

Baca Juga  Sinar Mas Remajakan Kebun Petani Swadaya Sumsel

“Penurunnya rata-rata lebih dari 1.000 ha per tahun. Cukup banyak areal perkebunan teh BUMN dan perkebunan besar swasta (PBS) dikonversi ke tanaman lain. Karena pengusahaan tanaman teh dinilai oleh mereka kurang menguntungkan,” tambah Nugroho.

Kendati lahannya berkurang, lanjut Nugroho, kurun lima tahun terakhir banyak petani teh rakyat yang melakukan penanaman baru (new planting) maupun replanting dilahan mereka maupun dilahan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). “Dari penanaman inilah kami harapkan bisa mendorong industri teh nasional supaya tak terpuruk,” ujar Nugroho.

Menurut Nugroho, untuk memperbaiki sektor hulu, pemerintah dan stakeholder terkait perlu melakukan perbaikan lingkungan agribisnis teh. Selain itu, untuk mendorong program lima tahun ke depan perlu road map yang lebih fokus dan detail.

“Pelaksanaan program pengembangan industri teh, selain dari APBN juga bisa didukung oleh sumber dana dan organisasi kerja yang memadai. Bisa juga memanfaatkan KUR,”terang Nugroho.

Sementara itu, Ketua Dewn Pembina Gabungan Asosiasi petani Perkebunan Indonesia (GAPERINDO) mengakui dengan melakukan Gernas Teh maka pemerintah sama saja dengan melakukan investasi jangka panjang, mengingat kebutuhan konsumsi teh terus meningkat dan bahkan dengan melakukan Gernas Teh sama saja dengan mengangkat derajat petani teh.

Disisi lain, Gamal juga akan mengusulkan kepada pemerintah agar komoditas teh masuk dalam komoditas strategis. Hal ini lantaran kontribusi ekspor teh nilainya juga tidaklah kecil.

(Visited 40 times, 1 visits today)