30 December, 2019

JAKARTA, Perkebunannews.com – Tahun 2020 menjadi tantangan bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit, termasuk Sinar Mas Agribusiness and Food (Sinarmas). Karena kemarau diprediksi bakal lebih panjang dibanding 2019. Sinarmas pun bersiaga sejak awal.

“Adanya kemungkinan musim kemarau yang lebih panjang, serta pengalaman dari tahun 2019, mendorong kami untuk bersiap saiga dari sekarang,” ujar Head of Corporate Communications Sinarmas Wulan Suling di Jakarta, Senin (30/12).

Dalam kondisi itu, lanjut Wulan, keterlibatan masyarakat menjadi hal penting dalam mencegah kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terulang melalui aktivasi Masyarakat Siaga Api (MSA). Edukasi dan pendampingan masyarakat pun akan terus dilakukan di tahun 2020 mendatang, terutama kepada anak-anak, tenaga pendidik, dan kaum perempuan.

Wulan mengatakan, hal penting lain yang menjadi perhatian perusahaan adalah menjaga kawasan hutan sebagai stok karbon global. Namun disaat yang sama tetap menjaga kesejahteraan masyarakat di sekitar area konservasi.

Menurut Wulan, pengurangan emisi karbon merupakan tanggungjawab dari semua orang. Hal ini perlu didukung penduduk dunia. Tantangan terkait adanya El Nino yang diperkirakan akan menguat dan meningkatkan resiko terkait karhutla.

Sebagai salah satu pelaku industri kelapa sawit nasional Sinarmas memberi perhatian serius terhadap isu pengurangan emisi karbon. “Sejak 1997, Sinarmas telah menerapkan kebijakan zero burning policy yang melarang segala bentuk pembakaran hutan dalam membuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit,” ujar Wulan. (YR)

(Visited 33 times, 1 visits today)