15 July, 2020

Posisi Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar di dunia tidak bisa dipisahkan dari masa lalu. Ada dua inovasi yang secara revolusioner telah merombak tatanan kerja di kebun sawit yang sederhana tetapi efektif. Begawan Perkebunan Indonesia, Ketua Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, Soedjai Kartasasmita, menyatakan hal ini pada webinar Sejarah Perkebunan Indonesia, Rabu (15 Juli).

Inovasi pertama adalah penggunaan egrek untuk memanen tandan buah segar dari pohon kelapa sawit yang tinggi. Penggunaannya diintroduksikan di Indonesia tahun 1969.

Inovasi kedua adalah penggunaan kumbang Elaedobius Kamerunicus. Sebelum inovasi ini biaya produksi perkebunan sawit relatif tinggi karena harus menggunakan tenaga manusia yang disebut asisten polinasi terlatih untuk membantu penyerbukan. Satu orang dalam 2-3 hari mampu membantu penyerbukan 3-4 ha.

“Tahun 1980 kami mengundang Dr Said dari Pakistan berkunjung ke Marihat. Tujuannya memberikan penjelasan serta mempraktekkan penggunaan Elaedobius Kamerunicus untuk membantu penyerbukan kelapa sawit menggantikan asisten polinasi. Setelah introduksi itu semua perkebunan kelapa sawit menggunakan kumbang ini untuk menyerbuk. Itu jasa Dr Said yang perlu dikenang sepanjang masa,” katanya.

Hal lain yang perlu diketahui adalah kelapa sawit yang berkembang pesat di seluruh Indonesia saat ini dimulai dari ekspedisi yang dilakukan tenaga-tenaga ahli dari PTP-6 dan Pusat Penelitian Marihat yang dipimpin Ir. Kiswito.

Tahun 1972 PTP-6 mengirim Ir. Langkat Purba dan Gordon Walker (mantan Presdir Guthrie) ke Riau untuk menjajagi kemungkinan penanaman kelapa sawit di provinsi ini. Tahun 1978 ekspedisi ke Kalimantan Barat yang dipimpin oleh Ir.Kiswito dengan timnya yaiitu Ir.Purba dari Marihat dan Ir.Butar-butar dari PTP-6.

Ekspedisi ke Kalimantan Timur tahun 1979 yang dipimpin Burhanudin Pane dari PTP-6. Tahun 1980 ekspedisi ke Jayapura dan Merauke atas permintaan pemerintah kepada Purba Sidadolok, Direktur Utama PTP-7.

Tahun 1975 pengembangan kelapa sawit di Aceh oleh PTP-6. Selain itu juga perusahaan negara ini mengembangkan perkebunan kelapa sawit rakyat di OPHIR dengan bantuan Pemerintah Jerman atas permintaan Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas.

“Kita patut berbangga ekspedisi –ekspedisi ini telah memicu pengembangan kelapa sawit di Indonesia sehingga sekarang menjadi produsen terbesar di dunia,” kata pelaku sejarah perkebunan ini.

Pelopor industri hilir sawit di Indonesia adalah PTP-6 dengan membangun pabrik minyak goreng berbahan baku minyak sawit. Pabrik Adolina ini diresmikan tahun 1977 oleh Presiden Soeharto dan turut hadir Menteri Luar Negeri Adam Malik. Ironisnya pabrik Adolina ini sudah tutup karena tidak bisa bersaing dengan pabrik-pabrik minyak goreng milik sejumlah konglomerat yang dibangun kemudian diberbagai lokasi di Indonesia.

(Visited 528 times, 1 visits today)