17 January, 2020

PT Samudera Luas Paramacitra saat ini memproduksi rubber air bag yang merupakan hasil kerja riset dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Riset dimulai tahun 2017 yaitu bagaimana memanfaatkan karet alam menjadi barang jadi salah satunya rubber air bag.

“Memproduksi rubber air bag sejak awal kami sadari di lapangan akan berhadapan langsung dengan produk dari China karena selama ini hanya mereka yang memproduksi. Ini alat bantu alternatif untuk meluncurkan kapal” kata Adi Limansubroto, Direktur Operasional dan Marketing SLP.

Alat ini ditemukan di China untuk meluncurkan kapal perang yang dibuat dari darat ke laut. Dalam perkembangannya orang Indonesia bisa memodifikasi untuk menarik kapal dari laut ke darat sehingga sangat membantu untuk proses di galangan kapal baik peluncuran kapal baru maupun docking kapal bekas. Setelah selesai kapal di luncurkan kembali ke laut.

Riset air bag dengan BPPT berjalan 2017-2019. Tahun 2018 setelah riset pertama selesai, langsung riset produksi. “Kita belajar memproduksi meskipun masih terbata-bata dan terseok-seok tetap syukurlah ada beberapa galangan kapal yang memberi kepercayaan. Kami selalu dibandingkan dengan produk yang sebelumnya mereka beli dari luar,” katanya.

Mereka datang ke pabrik untuk meyakinkan bahwa SLP benar-benar memproduksi sendiri bukan membeli dari luar negeri. Mereka harus diyakinkan. Saat ini sudah ada beberapa galangan kapal yang menggunakannya.

Galangan kapal ada yang bersifat nasionalis dengan menyatakan tidak apa-apa membeli lebih mahal sedikit tetapi dari dalam negeri supaya Indonesia bertumbuh. Tetapi ada juga yang setengah mati diyakinkan.

“Ada yang menyatakan kita beli dari luar setengah harga. Kalau sudah begini kita tidak sanggup, silakan beli dari luar. Nanti kalau dengar dari kawan-kawan galangan kapal lain bahwa produk kita bagus mereka beli,” katanya.

Produks-produk dari China juga karetnya dari Indonesia, Thailand dan, Vietnam. Mereka tidak punya sendiri. Dari sini seharusnya produsen Indonesia menang. China menang di skala ekonomi. Disini perlu banyak orang untuk memproduksi sedang di sana mungkin cukup 1-2 orang. Disini mungkin seminggu hanya satu sedang di sana seminggu bisa tujuh.

“Kalaupun harga lebih murah tetapi masuk kesini perlu biaya akhirya sama juga. Kalau beli dari China harus cash sedang kepada kami bayar dp dulu, barang jadi bayar sebagian. Semuanya bisa dibicarakan,” katanya.

(Visited 28 times, 1 visits today)