2 March, 2017

Dalam rangka mewujudkan sinergi BUMN di bidang industri peternakan yang terintegrasi, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) melebarkan sayap bisnisnya ke unggas. RNI (Persero) melalui anak perusahaannya, PT PG Rajawali II dan PT Berdikari (Persero) melalui anak perusahaannya, PT Berdikari United Livestock (PT BULS) telah menindaklanjuti MoU yang sudah ditandatangani kedua belah pihak dengan melaksanakan penandatanganan Perjanjian Pemegang Saham pada hari rabu, 1 Maret 2017 di Kantor Direksi PT. PG. Rajawali II Cirebon.

Penandatanganan yang dilakukan Direktur Utama PT PG Rajawali II, Audry Harris Jolly Lapian dan Direktur Utama PT BULS AS. Hasbi Al-Islahi ini bertujuan membantu mensukseskan program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan protein hewani nasional.

Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi PT RNI Agung P Murdanoto mengatakan, pengembangan peternakan unggas terintegrasi yang dikembangkan RNI dan Berdikari merupakan sistem peternakan yang menggunakan teknologi modern dimana kandang akan menggunakan teknologi close house. Sehingga menjamin produk ayam maupun telur yang dihasilkan memiliki standar yang prima, terbebas dari berbagai macam penyakit serta minim polusi.

Agung menjelaskan, untuk mendukung lokasi penggemukan ayam atau Farm Boiler tersebut pada tahapan selanjutnya akan dibangun rumah pemotongan ayam otomatis dengan kapasitas 2000 ekor per jam.

Guna mendukung kecukupan protein hewani nasional, salah satu alternatifnya melalui pengembangan peternakan ayam pedaging dan petelur mengingat kedua komoditi tersebut memiliki harga jual yang terjangkau bagi masyarakat secara luas.

Hal ini sebagai bentuk kepedulian RNI dan Berdikari atas konsumsi protein hewani per kapita yang masih sangat rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, rata-rata konsumsi protein hewani penduduk Indonesia sebesar 53,91 gram per kapita per tahun, sementara standar kecukupan konsumsi protein berada di angka 57 gram.

Agung menambahkan ke depan pengembangan bisnis peternakan tersebut akan terus dilakukan dengan menerapkan pola peternakan terintegrasi dari hulu ke hilir di dalamnya mencakup pengembangan indukan, ayam bakalan, pakan ternak serta pengembangan riset and development peternakan.

“Tahap pertama sasaran produksi ayam pedaging sebesar 450 ribu ekor per bulan dan telur 12 hingga 14 ton per bulan. Selanjutnya akan dikembangkan sesuai kebutuhan bisnis,” ujar Agung.

Untuk itu diharapkan dengan kerjasama tersebut peningkatan pemenuhan kebutuhan hewani nasional dapat ditingkatkan sekaligus dapat mengangkat perekonomian masyarakat melalui program petani plasma. (YR)

(Visited 61 times, 1 visits today)