https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
3 September, 2021
Bagikan Berita

Pekanbaru, Mediaperkebunan.id – Deru diesel kapal kayu bermesin, atau dalam bahasa lokal dikenal sebagai pompong itu memecah hening Sungai Kampar yang mengalir tenang.

Sesekali suaranya mengerang kencang ketika arus sungai mendadak berubah haluan. Terlebih ketika sampan yang terbuat dari papan tersebut harus memuat ratusan paket bantuan Sembako dan bahan pangan.

Pelan namun pasti, nakhoda kapal mengarahkan haluan ke sebuah desa yang berada di hulu sungai. Ludai, begitu nama desa yang berada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, itu berada.

Sungai merupakan satu-satunya jalur yang menghubungkan Ludai dengan dunia luar. Untuk menuju ke desa tersebut memakan waktu sedikitnya hingga tiga jam lamanya. Tidak mudah memang. Namun, selama puluhan tahun masyarakat desa tetap bertahan dan tinggal di sana, menyatu harmoni dengan alam.

Akhir 30 Agustus 2021, atau Senin awal pekan ini, alam menyapa desa yang dihuni lebih dari 450 jiwa tersebut. Seolah ingin diperhatikan, banjir bandang besar menyapu desa dengan banjir bercampur lumpur. Memporak-porandakan puluhan rumah, sekolah, tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kampar, Adi Chandra, di Bangkinang, Jumat, mengatakan sedikitnya 21 unit rumah warga rusak. Begitu juga satu unit sekolah, masjid, dan lebih dari 10 fasilitas umum mengalami kerusakan usai disapu banjir bandang berlumpur itu.

Adi bersyukur, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Dia menyebutkan bahwa bencana serupa berpotensi kembali terjadi mengingat cuaca dalam beberapa waktu terakhir cenderung tidak bersahabat.

Meski begitu, masyarakat yang telah begitu menyatu dan mencintai desa itu enggan untuk beranjak. Meksipun tempat pengungsian dan dapur umum didirikan petugas di tempat lebih aman.

Baca Juga  KUD Kuat Petani Berdaulat

Justru, ia mengatakan masyarakat bertahan dengan segala keterbatasan. Sembako menjadi bantuan yang paling dibutuhkan oleh masyarakat desa. Menurut Adi, bantuan tersebut akan meringankan beban korban terdampak banjir bandang yang memilih bertahan.

Mendapat kabar tersebut, tim Program Tanggungjawab Sosial Lingkungan (TJSL) PT Perkebunan Nusantara V pada Jumat (5/9/2021) hari ini bergerak cepat. Bantuan tersebut disalurkan melalui BPBD Kampar untuk selanjutnya diserahkan masyarakat terdampak banjir.

Sedikitnya 150 paket sembako masing-masing berisi beras, gula, minyak makan, dan bahan pangan lainnya disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Chief Executive Officer PTPN V, Jatmiko Santosa, dalam keterangan tertulisnya berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat Desa Ludai yang menjadi korban banjir bandang.

“Semoga bantuan ini bisa meringankan beban saudara-saudara kita yang tengah berjuang memulihkan keadaan pasca banjir di Desa Ludai,” katanya.

Jatmiko yang juga Ketua GAPKI Provinsi Riau itu mengatakan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kehadiran PTPN V sebagai perusahaan milik negara ke tengah masyarakat.

Dia mewakili seluruh karyawan PTPN V turut mendoakan agar bencana yang dihadapi masyarakat dapat segera teratasi dan kehidupan warga desa kembali normal.

“Kami seluruh keluarga besar PTPN V turut mendoakan agar kehidupan masyarakat kembali normal,” ujarnya.

Adi Chandra kembali menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diserahkan PTPN V kepada masyarakat Desa Ludai.

“PTPN V merupakan perusahaan pertama yang menyalurkan bantuan kepada korban banjir.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Kampar, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesarnya atas bantuan ini. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban saudara kita di Desa Ludai,” ujarnya.
Desa Ludai sendiri merupakan Desa tertua di Kabupaten Kampar. Setidaknya terdapat 450 jiwa dengan 135 KK yang hidup di Desa tersebut. Sebagian besar mereka menyadap karet dengan upah sangat minim.

Baca Juga  Kemendag Dorong Ekspor Produk Kopi dan Kakao ke Jepang

Topografinya dikelilingi dengan perbukitan dan hutan. Akses yang jauh dari ibu kota dengan jalur air sebagai satu-satunya sarana transportasi, serta listrik yang hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 10 malam, menjadi tantangan tersendiri untuk menyalurkan bantuan.

(Visited 5 times, 1 visits today)