29 June, 2020

Jakarta, Media Perkebunan.id.

Pabrik Gula PT Kebon Agung yaitu PG Kebon Agung di Malang dan PG Trangkil di Pati, untuk memenuhi kebutuhan tebu 100% tergantung pada petani. Karena itu loyalitas petani harus dijaga. Sudibyo, Dirut PT Kebon Agung menyatakan hal ini pada webinar “Pergulaan di era New Normal : Bisakah Swasembada Dicapai” yang diselenggarakan Media Perkebunan.

Upaya PT Kebon Agung yang dilakukan adalah melalui dukungan peningkatan produktivitas petani. Pelaksanaanya adalah program rehabilitasi lahan petani dengan nilai mencapai Rp8 miliar/tahun. Dari tahun 2016-2020 sudah 19.214 ha lahan yang direhabilitasi dengan total biaya mencapai Rp35,827 miliar.

Penanaman tebu saat ini harus dilakukan dengan mekanisasi. PT Kebon Agung menyediakan jasa pelayanan traktor pada petani untuk mengolah lahan. Selain itu faktor utama adalah bibit unggul. Kebon Agung bekerja sama dengan P3GI melepas varietas baru PSKA 942 sehingga tidak didominasi BL.

Penambahan luas areal melalui tebu sendiri pertahun rata-rata 800 ha. Biasanya Kebon Agung menyewa tanah dalam jangka waktu beberapa tahun. Tahun pertama dan kedua dikelola oleh perusahaan sedang tahun selanjutnya diserahkan pada petani.

Peningkatan kompetensi petani melaui pelatihan dan studi banding. Petani dan mitra kerja juga diberi apreasiasi. Tahun 2019 apresiasi dilaksanakan di Bali untuk PG Kebon Agung, sedang PG Trangkil di Banten.

Suporting finansial diberikan dalam bentuk talangan pupuk minimal Rp15 miliar/tahun; uang muka kemitraan minimal Rp25 miliar/tahun; uang muka tebang angkut Rp20.000/kuintal tebu dan kemudahan pelayanan penerimaan tebu dengan sistem E-SPTA.

Suporting sosial diberikan dalam bentuk beasiswa untuk putra-putri petani mitra; perbaikan sarana jalan tebang dan bantuan pembangunan desa; mendorong regenerasi petani dan operasi pasar gula bersama APTRI, KUD dan lembaga pemerintah terkait. Regenerasi petani berlangsung dengan baik, anak-anak petani mau meneruskan usaha tani orang tuanya.

Tetapi terhadap petani yang tidak mengikuti kesepakatan Kebon Agung juga bisa bersifat tegas. Bagi tebu yang tidak memenuhi syarat giling dikenakan rafaksi. Petani nakal akan dicabut rekomendasi kreditnya.

Dengan program yang dijalankan maka luas areal dan jumlah petani mitra Kebon Agung semakin bertambah. Tahun 2004 jumlah petani mitra 3.856 orang degan luas 19.821 ha. Tahun 2007 dengan program revitalisasi I jumlah petani mitra menjadi 4.941 orang dengan luas 27.175 ha. Tahun 2012 revitalisasi tahap 2 jumlah petani 5.312 orang dengan luas 31.874 ha. Tahun 2019 yang merupakan pemantapan jumlah mitra 6.038 orang luas 39.244 ha.

Kapasitas giling netto tahun 2004 7.922 TCD (tebu per hari) dengan tebu tergiling 1.328.132 ton. Tahun 2007 kapasitas giling netto 9.611 TCD dan tebu tergiling 2.043.546 ton. Tahun 2012 kapasitas giling netto 14.729 TCD tebu tergiling 2.326.441 ton. Tahun 2019 kapasitas giling 19.561 TCD tebu tergiling 2.820.957 ton. Tebu tergiling meningkat 212,4% dan kapasitas giling meningkat 246,9%.

Produksi GKP tahun 2004 91.835 ton rendemen 6,81%. Tahun 2007 produksi GKP 142.799 ton tetapi rendemen turun 6,74%. Tahun 2012 produksi GKP 182.731 ton dan rendemen 7,74 %. Tahun 2019 produksi 230.164 ton rendemen 7,97%. Produksi GKP meningkat 205,6% dan rendemen meningkat 117 %.

(Visited 154 times, 2 visits today)