T-POMI
2023, 21 Mei
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.idJakarta, Mediaperkebunan.id

Industri karet nasional (sektor hulu dan hilir) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perolehan devisa sebesar USD7,1 miliar pada tahun 2021. Pada tahun 2022 Industri Karet terkontraksi 4,10%. Status Indonesia sebagai produsen karet nomor dua dunia, segera tergeser dengan Vietnam, karena setiap tahun sekitar 9% kebun karet konversi menjadi kebun komoditas lain seperti kelapa sawit.

Demikian salah satu bahasan dalam  Rapat Koordinasi Nasional Perkaretan yang diselenggarakan oleh Menteri Koordinator Perekonomian beberapa waktu yang lalu. Rapat dipimpin Deputi Koordinasi bidang Pangan dan Agribisnis,  dihadiri wakil–wakil dari instansi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Perindustrian; Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian PUPR, PTPN III (Holding), Ketua KADIN bidang Industri, Ketua KADIN Sumatera Utara, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia, Dewan Karet Indonesia, Ketua APINDO bidang Agro Industri, dan Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia.

Permasalahaan karet alam nasional adalah : harga karet per 1 September 2022 sebesar US$ 1,3/kg sementara harga pokok produksi karet rakyat diatasnya; lemahnya perekonomian di China lantaran negara ini sebagai pangsa ekspor karet terbesar di dunia; pabrik pengolahan karet sedang terbebani kesulitan bahan baku; produksi karet menurun karena adanya masalah supply chain, inflasi global dan situasi geo politik perang Ukraina vs Rusia, serta penyakit gugur daun.

Dari sisi hulu, Ditjen Perkebunan  Kementerian Pertanian akan meningkatkan produktivitas tanaman karet melalui dua program, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek yaitu perluasan, rehabilitasi dan intensifikasi pada tahun 2023 seluas 1.700 ha, dan penggunaan benih unggul melalui sistem Bank Benih Perkebunan (Babebun), pengendalian penyakit gugur daun yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas tanaman sekitar 40%. Jangka panjang antara lain yaitu pengembangan kawasan perkebunan termasuk karet, pengembangan karet sistem inti-plasma dan pendirian Badan Pengelola Dana Perkebunan.

Baca Juga:  Faktor Ekonomi dan Manufaktur China Sebabkan Ekspor Karet SUMUT Sulit Bangkit

Data Dirjen Perkebunan luas karet tidak berkurang yaitu tahun 2018 3.671.387 ha, 2019 3.676.035 ha, 2020 3.726.173 ha, 2021 3.776.485 ha, 2022 (angka sementara) 3.826.451 ha. Penambahan areal terjadi pada perkebunan rakyat, sedang  PTPN dan swasta menurun.  Perkebunan rakyat tahun 2018 3.235.761 ha, 2019 3.269.078 ha, 2020 3.368.186 ha, 2021 3.776.484 ha, 2022 3.862.451 ha. PTPN 2018 189.576 ha, 2019 165.467 ha, 2020 132.882 ha, 2021 129.254 ha, 2022 125.675 ha. Perkebunan besar swasta 2018 246.050 ha, 2019 291.491 ha, 2020 225.105 ha, 2021 213.957 ha, 2022 176.215 ha.

Produksi karet juga menurun yaitu 2018 3.630.357 ton, 2019 3.301.405 ton, 2020 3.037.348 ton, 2021 3.045.314 ton, 2022 3.135.287 ton. Produksi karet rakyat 2018 3.111.253 ton, 2019 2.926.613 ton, 2020 2.784.011 ton, 2021 22.826.245 ton, 2022 2.910.369 ton. Produksi PTPN tahun 2018 230.361 ton, 2019 124.459 ton, 2020 143.475 ton, 2021 131.550 ton, 2022 129.668 ton. Produksi perkebunan besar swasta 2018 288.743 ton, 2019 245.333 ton, 2020 109.862 ton, 2021 87.518, 2022 95.920 ton.

Ekspor karet 2017-2020 menurun dan ada kenaikan tahun 2021, ekspor tahun 2017 2.991.910 ton nilai USD5.100,92 juta; 2018 2.812.100 ton nilau USD3.949,29 juta; 2019 2.503,670 ton nilai USD3.525,2 juta; 2020 2.279.910 ton nilai USD3.010,09 juta; 2021 3.334.730 ton nilai usd4.015,93 juta.

Sepuluh negara tujuan ekspor utama karet Indonesia adalah AS USD942,02 juta (23,48%), Jepang USD842,95 juta (20,99%); China USD301,79 juta (7,51%);  India USD299,1 juta (7,45%), Korsel USD239,18 juta (5,96%); Turki USD134,33 juta (3,34%);  Brasil USD127,59 juta (3,18%); Kanada USD126,16 juta (3,14%); Rusia USD92,95 juta (2,31%); Meksiko USD2,05 juta (0,05%)

Baca Juga:  Kemenperin Dukung Industri Hilirisasi Karet Alam