26 January, 2016

Industri hilir menjadi salah satu solusi ditengah-tengah merangkaknya harga crude palm oil (CPO), bahkan produk hilir harganya pun lebih stabil jika dibandingkan harga CPO.

Stabilnya harga produk hilir menjadi solusi bagi sebagian pelaku kelapa sawit. Sebab harus diakui bahwa konsumen tidak memperdulikan apakah harga CPO sedang mengalami kenaikan atau justru mengalami penurunan, yang terpenting jika barang kebutuhannya sudah habis maka harus membelinya.

Artinya meskipun harga CPO mengalami penurunan, jika masyarakat membutuhkan produk yang berasal dari bahan baku CPO seperti margarin, minyak goreng, sabun ataupun shampoo, masyarakat tetap membelinya. Sehingga solusinya memang tidak lain adalah menciptakan produk hilir, meskipun investasinya yang berbeda. “Tapi perlu diingat untuk menciptakan produk hilir tidak selalu membutuhkan dana yang besar,” jelas Donald Siahaan, Peneiliti asal PPKS.

Contoh, Donald menjabarkan, untuk membuat biodiesel, tidak harus ada batas minimal untuk memproduksinya. Artinya skala usaha mikro kecil menengah (UMKM) pun bisa membuat biodiesel. Sebab untuk membuat biodiesel tidak ada skala minimal.

Hanya hal yang perlu diperhatikan adalah jika memproduksi dalam jumlah kecil sulit untuk memasarkannya tapi untuk memproduksinya tidaklah mahal Artinya jika untuk memproduksi biodiesel dan hanya untuk digunakan sendiri tidaklah mahal.

Melihat hal tersebut maka jika memproduksi produk hilir hanya dalam beberapa jenis produk hilir, disitu baru terlihat lebih mahal. Sehingga jika memang ingin memproduksi produk hilir maka produksilah dengan berbagai jenis dalam satu rangkaian.

“Artinya buatlah berbagai jenis produk hilir dengan satu rangkaian, sehingga jika ingin memproduksi produk hilir output yang keluar jangan satu atau dua produk tapi dibuatlah atau dikonsep untuk sekali kerja atau proses bisa menghasilkan minimal 4 sampai 5 produk. Alhasil dengan melakukan seperti itu maka dalam hal ini baru bisa mendapatkan keuntungan yag maksimal dan tidak berpengaruh jika harga CPO mengalami penutunan,” terang Donald.

Contoh, Donald kembali menjabarkan, CPO dibuat menjadi olein stearin. Produksi ini memang mahal karena memerlukan energi. Tapi jika produksi ini juga diimbangi dengan juga memproduksi energi, maka produksi olein dan stearin bisa jauh lebih murah. Intinya bagaimana dalam sebuah kinerja pabrik kelapa sawit (PKS) bisa menghasilkan berbagai produk hilir, hal itu akan menjadi lebih murah dalam memproduksi suatu produk hilir.

Komponen Minor Bisa Dimanfaatkan
Kemudian, contoh lainnya, suatu PKS memproduksi biodiesel. Saat ini biodiesel diproduksi menggunakan bahan RBD PO diolah satu tingkat untuk mendapatatkan palm oil yang cocok untuk proses pembuatan biodiesel disana ada palm oli estate, sementara kompnen lainnya dimana ada viatmein E, dan karotin. Biasanya produk tersebut dibuang secara percuma.

Tapi jika produk yang dibuang ini dimanfaatkan juga menjadi produk dan dijual, maka hal tersebutlah yang dikatakan memanfaatkan produk lainnya untuk menjadi suatu barang lainnya sehingga menjadi nilai tambah. Sehingga sebelum dibuat menjadi biodiesel dikeluarkan komponen minor yang bisa diolah menjadi produk makanan bernutrisi tinggi dan bahan kosemetik. Sebab biodiesel itu adalah produk akhir.

“Jadi produk minor ini yang akan mensubsidi harga biodieselnya. Maka pada dasarnya komponen minor ini dibuat menjadi suatu produk baru. Sehingga sebenarnya dalam proses pembuatan biodiesel ada komponen-komponen lainnya yang masih bisa dimanfaatkan terlebih dahulu. Dan hal itulah yang dinamakan era kemandirian,” tegas Donald.

Lebih lanjut, Donald menyarankan, transformasi kelapa sawit harus dilakukan yaitu produksi hilirisasi yang biasanya dilakukan oleh industri menjadi UMKM, sebab pada dasarnya satu buah koperasi tani yang terdiri dari beberrapa kelompok tani bisa melakukan hilirisasi. Sehingga jika selama ini industri hilir atau semi hilir (intemedite) dikuasai oleh pengusaha besar baik dari dalam ataupun luar negeri berubah menjadi skala koperasi tani.

Alhasil jika transformasi tersebut bisa dilakukan oleh pelaku skala menengah maka buka tidak mungkin petani kelapa sawit pun bisa seperti pengusaha yang kuat kuat dan berdaya saing. Atau minimal disaat harga CPO petani tidak menjadi korban yang pertama terkena dampaknya.

Lalu, dampak yang paling terlihat jika transformasi bisa dilakukan maka petani tidak lagi hanya menghasilkan tandan buah segar (tbs) saja, sehingga pada saat harga CPO terjun bebas petani tidak secara langsung terkena dampaknya.

Tapi jika petani sudah bisa membuat produk minimal setangah jadi maka naik turunnya harga CPO tidak terpengaruh terhadap petani, apalagi jika petani memlalui koperasi bisa menghasilkan produk hilir untuk skala UMKM.

Lebih lanjut, jika koperasi membuat barang setengah jadi maka tidaklah terlalu membutuhkan dana yang besar, tapi dengan catatan produk yang dihasilkan atau diproduksi tidak hanya satu atau dua produk, tapi 4 -5 produk. “Sehingga produk-produk lainnya itu yang nantinya akan mensubsidi biaya produk lainnya,” harap Donald.

Kemudian, Donald menjelaskan, adapun untuk energi dalam menjalankan pabriknya bisa menggunakan bio masa yang ada di kebun itu sendiri. Sehingga bio energi tidak tergantung dari minyak bumi tapi bisa juga dari limbah kelapa sawit. sehingga semuanya bisa digunakan dan memiliki nilai. Seperti dengan memanfaatkan tangkos.

“Jadi saat ini adasatu odel kita dirancang untuk memikirkannya. Bagaimana menolong petani agar tidak mengembangkan lahan. karena dari lahan yang ada bisa mendapatkan segaalanya. Artinya dengan meningkatkan produktivitas petani juga bisa melakukan vertical integrasi sehingga tercipta end produk,” pungkas Donald. YIN

Baca juga : Industri Sawit Wajib Berbenah Diri

(Visited 142 times, 1 visits today)