8 June, 2016

Gula, baik yang berasal dari tebu maupun dari bit, merupakan warisan sejarah yang kompleks. Gula bukan hanya semata-mata komoditas dagang global tetapi juga ia merupakan komoditas politik global. Bahkan, sejarah gula juga berkaitan perbudakan dan perubahan lingkungan yang luas. Tergantung dengan siapa kita berbicara: “You know how much profit sugar gives to our company? Very ..very large!”, ungkap CEO sebuah perusahaan swasta yang bergerak dalam perkebunan tebu dan pabrik gula belum lama ini.

Jawa menempati posisi khusus dalam pergulaan Indonesia sejak zaman kolonial hingga sekarang. Bahkan, jauh sebelum VOC datang perkebunan tebu dan pabrik gula sudah berkembang di sekitar Batavia yang diusahakan oleh para pengusaha keturunan Tionghoa. Tebu juga sudah menjadi bagian budaya suku-suku yang menjadi penduduk asli di Pulau Jawa seperti suku Sunda dan suku Jawa. Untuk kedua suku ini, apabila akan mendirikan rumah, maka pada wuwungan diikatkan batang tebu dan padi, menjadi bagian dari ritual. Demikian juga pada acara pernikahan. Dalam kesenian pun kita mengenal irama lagu dandang gula. Dalam bahasa Jawa, saya sering mendengar dengan tebu itu kependekan dari mantep ing kalbu.

Kalau tebu dan gula yang dibuat dari tebu ini sudah mengakar pada budaya Jawa, kemudian memiliki sejarah gemilang pada masa lalu, serta menjadi kebutuhan dasar dalam pilihan konsumsi pangan, mengapa kemajuan dalam industri pergulaan kita belum saja berkembang? Mengapa daya saing industri gula kita lemah padahal keunggulan komparatif sudah tersedia? Dimana kelemahan kita ini? Baca ulasan lengkap Prof Dr Ir Agus Pakpahan, APU pada rubrik “Teropong” di Majalah Media Perkebunan Edisi 151, Juni 2016

(Visited 105 times, 1 visits today)