12 September, 2020

Jakarta, Media Perkebunan.id

Salah satu upaya mencapai swasembada gula adalah pembangunan PG baru disertai perluasan areal tebu. Saat ini ada 11 PG baru yang diharapkan bisa menambah luas areal dan produksi gula. Tetapi kenyataanya harapan ini tidak di tercapai. Luas areal tebu dan produksi gula malah turun. Budi Hidayat, Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia menyatakan hal ini.

Ada 4 PG baru di Jawa yang hanya membangun PG saja tetapi tidak membangun kebun tebu atau bermitra dengan petani tebu baru. Tidak ada perluasan areal malah terjadi persaingan antar PG dalam mendapatkan bahan baku.

“Saya minta pemerintah benar-benar memonitor perkembangan pembangunan PG baru ini. Sesuai aturan mereka harus membangun kebun atau bermitra dengan petani minimal 20% dari kapasitas produksinya. Mereka sudah dapat fasilitas impor raw sugar 5 tahun bagi PG di Jawa dan 7 tahun bagi PG di luar Jawa,” kata Budi.

Tahun ini karena pandemi Covid-19 membuat impor gula datangya tidak tepat waktu. Ketika persediaan gula menipis, impor belum masuk sehingga harga gula naik dan susah dicari. Impor datang bersamaan dengan waktu musim giling sehingga menjadi masalah.

Setiap perusahaan yang mendapat izin impor gula harus membeli gula petani dengan harga minimal Rp11.200/kg. Ini juga bertentangan dengan anjuran Kementan untuk merubah sistim bagi hasil menjadi sistim beli putus tebu. Gula petani menunjukkan sistim bagi hasil.

Tata niaga gula juga tidak berjalan sesuai aturan. PG rafinasi ditugaskan untuk memproduksi GKP untuk konsumsi rumah tangga. Padahal aturan tata niaga gula belum dicabut.

HET juga sudah 5 tahun tetap Rp12.500/kg padahal biaya produksi naik. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia sudah mengirim surat minta ke Kemendag supaya HET dinaikkan Rp13.500/kg, tetapi belum ada jawaban.

Salah satu kunci peningkatan produktivitas gula adalah varietas unggul baru. Sudah lama P3GI kekurangan dana sehingga tidak ada lagi varietas baru yang dihasilkan. Fungsi P3GI harus ditingkatkan lagi kalau pemerintah serius ingin swasembada gula.

Masalah lainnya adalah keterbatasan akses pendanaan petani, keterbatasan pupuk, ketidakberlanjutan program pemerintah seperti bongkar ratoon, rawat ratoon dan lain-lain
.
Luas areal cenderung menurun dari tahun ke tahun. Jumlah impor gula semakin meningkat karena konsumsi semakin meningkat. Produksi gula dari tebu digiling cenderung stagnan bahkan menurun.

Produktivitas gula/ha mulai meningkat karena ada peningkatan rendemen dalam 4 tahun terakhir. Banyak PG ditutup tetapi PG baru mulai beroperasi. Total kapasitas terpasang juga mengalami peningkatan.

Industri gula berbahan baku tebu lokal akan bertahan apabila secara konsisten melakukan peningkatan daya saing (penurunan HPP), kecukupan bahan baku melalui pengembangan areal tebu, diversifikasi usaha dengan dukungan kebijakan yang kondusif yaitu etanol dan co generation pembangkit listrik.

(Visited 67 times, 2 visits today)